Ciuman Sang Arsitek

1108 Kata

Cairan kental yang menyelimuti tubuhku perlahan surut, meninggalkan rasa dingin yang menggigit saat kulitku bersentuhan langsung dengan udara laboratorium yang steril. Aku jatuh terduduk di dasar tabung kaca, terbatuk-batuk mengeluarkan sisa oksigen cair dari paru-paruku. Tubuhku gemetar hebat, bukan hanya karena suhu, tapi karena pria yang berdiri kurang dari dua meter di depanku. "Silas..." suaraku parau, nyaris tak terdengar di antara bunyi alarm sistem yang mulai mereda. Pria itu melangkah maju. Sepatu boot militernya bergema di lantai logam. Dia berlutut di depan tabung yang terbuka, mengabaikan percikan api dari panel kontrol yang meledak. Dia mengulurkan tangannya, tangan yang sama yang membelai pipiku di taman simulasi dan menyentuh daguku, memaksaku menatap matanya yang tajam.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN