Debu semen dan serpihan kaca memenuhi udara, membuat setiap helaan napas terasa seperti menelan duri. Di bawah reruntuhan atap yang menggantung goyah, aku berada di antara dua kutub yang mustahil. Di satu sisi, Silas, pria yang mencintaiku dengan cara yang mengerikan, mendekapku erat seolah aku adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di bumi. Di sisi lain, wanita tua itu, versi diriku yang hancur dan buta, merangkak di lantai dengan sisa tenaga yang mengharukan. "Anita, jangan dengarkan dia," bisik Silas di telingaku. Suaranya gemetar, sebuah kerentanan yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Dia hanyalah residu, kegagalan sistem yang seharusnya sudah kuhapus. Sedangkan kamu adalah kesempurnaan yang kuharapkan." Aku mendorong dadanya, menatap matanya yang memancarkan cahaya biru redu

