Kegelapan di dasar jurang itu perlahan digantikan oleh cahaya pendar dari sisa-sisa sirkuit yang terbakar. Aku masih memegang injektor saraf itu, ujungnya hanya berjarak beberapa milimeter dari pembuluh darah di leher Silas. Suara alarm pemusnahan terus menghitung mundur, sebuah metronom kematian yang nggak kenal ampun. Sepuluh... sembilan... delapan... "Anita," Silas berbisik. Dia nggak mencoba melawan. Dia justru memiringkan kepalanya, memberikan akses lebih mudah bagi jarum itu untuk menembus kulitnya. "Jika kematianku adalah satu-satunya cara agar kamu merasa bebas, maka lakukanlah. Aku lebih baik mati di tanganmu daripada hidup dalam dunia yang kamu benci." Tanganku gemetar. Tapi bukan karena takut. Memori yang baru saja meluap di kepalaku terasa kayak sengatan listrik. Memori i

