Angin pegunungan yang asri dan alami seharusnya terasa begitu dingin dan tajam, menusuk hingga ke tulang. Namun, udara yang kuhirup saat ini terasa terlalu sempurna, kayak suhu AC yang telah diatur dengan presisi di apartemen 4B. Aku berdiri kaku di padang rumput yang gersang, menatap Andrean Vulture yang tampak begitu nyata, begitu gagah, dan begitu... Nggak tersentuh. "Kamu berbohong," suaraku bergetar, hampir hilang ditelan keheningan yang aneh di sekitar kami. "Silas berdarah. Aku merasakan detak jantungnya. Aku mencium aroma besi dan keringatnya. Dan itu bukan simulasi!" Andre tertawa kecil, suara yang selalu berhasil membuatku merasa kecil sekaligus terlindungi. Dia melangkah maju, perlahan, seolah sedang mendekati hewan liar yang ketakutan. "Anita, Sayang... sistem saraf manusi

