Di Kamar 4B

877 Kata

Uap panas dari pancuran air yang belum kumatikan memenuhi kamar mandi, menciptakan kabut tebal yang mencekik. Aku berdiri mematung, menatap cermin besar di depanku. Di balik uap putih itu, sebuah tangan, nyata dan berdarah, menempel pada permukaan kaca dari sisi dalam, seolah-olah kaca itu hanyalah selembar plastik tipis yang memisahkan dua dunia. Sret... sret... Bunyi gesekan jari di atas kaca yang beruap itu terdengar seperti jeritan. Huruf-huruf mulai terlihat kayak orang maraton. "Anita? Kamu berbicara dengan siapa di dalam?" suara Andre terdengar sangat dekat, hanya terhalang selembar kayu pintu yang kini mulai retak di bagian engselnya. "Jangan biarkan imajinasimu merusak makan malam kita, Sayang." Aku mundur hingga punggungku membentur dinding keramik yang dingin. Foto di tangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN