Bau mie instan yang mengepul di atas meja itu mendadak berubah menjadi aroma formalin yang menyengat. Di bawah meja, dalam kegelapan yang sempit, aku meringkuk tepat di samping tumpukan wajah yang serupa dengan wajahku sendiri. Kulit mereka dingin, pucat, dan kaku, versi diriku yang gagal, yang nggak cukup kuat untuk bertahan melewati level sebelumnya. Thomas Vulture atau pria yang mengaku sebagai gabungan dari semua pria yang pernah kucintai, menekan jemarinya ke bibirku. Napasnya hangat, berbau kopi dan rahasia. "Diam, Anita," bisiknya. Suaranya adalah harmoni yang aneh antara nada rendah Andre dan kelembutan Aan. "Jika Ibu tahu kamu melihat ini, dia akan menganggapmu sebagai produk gagal lainnya. Dan aku... aku nggak ingin kehilanganmu lagi." Di atas kami, suara langkah kaki Elen

