Oksigen di Sektor Nol menipis dengan kecepatan yang mengerikan. Setiap tarikan napas terasa seperti menghisap debu kaca yang menyayat paru-paru. Di tengah remang cahaya emas dari jantung mekanis yang kini berhenti berdetak, pria yang menyerupai Aan itu melangkah maju. Uap dari mangkuk mie instan di tangannya menari-nari, menciptakan ilusi domestik yang begitu kontras dengan fakta bahwa aku sedang sekarat di dalam ruang penyimpanan data yang begitu dingin. "Makanlah, Anita. Kamu nggak ingin memulai Level 27 dengan perut kosong, bukan?" suaranya lembut, namun ada getaran predator di balik nada suaranya. Aku menatap jam tangan di pergelangan tanganku, jam itu pemberian Aan yang kini terungkap milik Evan, pria yang katanya kubunuh sepuluh tahun lalu. "Siapa kamu sebenarnya? Evan? Thomas? A

