Pernikahan di Atas Karang Memori

1117 Kata

Lonceng gereja berdentang, namun suaranya tidak jernih. Ada distorsi digital yang membuat setiap nadanya terdengar seperti rintihan logam yang digergaji. Aku berdiri di ujung altar, gaun pengantin putih yang kukenakan terasa sangat berat, seolah kain sutranya ditenun dari serat saraf dan penyesalan. Di tanganku, buket bunga mawar hitam mulai layu dan mengeluarkan aroma tembaga, berupa aroma darah yang segar. Di depanku, mempelai pria itu berdiri tegak. Dia tidak memiliki wajah. Di tempat yang seharusnya menjadi kepala, sebuah monitor CRT kuno terus menampilkan rekaman kecelakaan mobil sepuluh tahun lalu dalam gerakan lambat. Kaca retak, ledakan kantung udara, dan wajah Evan yang penuh darah... semuanya berputar dalam siklus tanpa akhir. "Jangan menatapnya terlalu lama, Anita. Itu hanya a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN