Hujan di luar vila tua itu bukan lagi sekadar rintik, namu sudah berubah sebagai amukan langit yang seolah ingin meruntuhkan atap tempatku dan Aan bersembunyi. Di dalam, hanya ada keheningan yang berat, sesekali pecah oleh derit kayu lantai dan denting gelas kristal berisi cairan amber di tangan Aan. Aku berdiri di dekat jendela, memandangi kegelapan. Cahaya kilat sesekali menerangi profil wajahku yang tegang. Aku bisa merasakan tatapan Aan di punggungku, begitu tajam, posesif, dan penuh dengan hal-hal yang tak terucap. "Berhentilah mencemaskan semuanya, Anita," suara Aan terdengar begitu rendah, bergetar di udara yang lembap. "Di sini, kamu akan aman. Hanya ada aku dan kamu." Aan berusaha menenangkan. Aku berbalik, menyilangkan tangan di d**a. "Aman katamu? Kita ini bersembunyi kay

