Rully duduk termenung, ia masih teringat akan perkataan Devan setelah Devan pergi. Baru kali ini, pria itu nampak frustasi. Ia meneguk kembali minuman dalam botol itu hingga tandas. Tak peduli jika ia harus mati sekalipun, Rully bahkan tak sanggup jika harus menjadi seorang ayah. "Aarrgghh ..." Pria itu melempar sebuah botol yang ada di tangannya hingga pecah berkeping-keping. Pikirannya begitu terkecamuk. Antara ingin menganggap bayi itu ada atau dia akan membunuhnya sendiri. Brak!! Pintu rumah itu terdengar keras, Rully melihat kedua orang yang telah menghampirinya. "Apa benar Devan masih hidup?" Apa lagi ini? Belum reda dengan frustasinya, kini Rully mendapat kedua orang itu telah menarik lehernya hingga sesak. "I-iya, Devan masih hidup, Tuan." Rully menjawab dengan penuh

