Setelah kembali ke kotanya, Mona tetap menjalin komunikasi dengan Adrian meskipun tidak seintens ketika ia masih berada di tempat Adrian. Adrian sering mengirimkan pesan dan melakukan panggilan telepon untuk menanyakan kabar Mona, selain itu ia juga memberikan saran dan dukungan terhadap usaha kopi Mona.
Mona juga merasa senang bisa tetap bersahabat dengan keluarga Adrian meskipun tidak berada di sana. Ia merasa bahwa selama menjadi bagian dari keluarga Adrian, ia telah merasakan kasih sayang, dukungan dan kehangatan yang tidak pernah ia temukan sebelumnya. Oleh karena itu, Mona masih sering melakukan kontak dengan keluarga Adrian untuk menanyakan kabar mereka dan untuk mengobrol menyenangkan.
Meskipun demikian, Mona memutuskan untuk fokus pada membangun bisnisnya dan menjalankan hidupnya sendiri tanpa ketergantungan pada Adrian. Ia merasa bahwa ia harus mandiri dan berjuang sendiri untuk mencapai tujuannya dalam hidup.
Dalam beberapa kesempatan, Adrian menawarkan bantuan dalam mengembangkan bisnis Mona, namun Mona menganggap hal ini sebagai tindakan yang terlalu tergantung kepada Adrian. Mona merasa bahwa ia harus memperjuangkan usahanya sendiri dan pengalaman yang ia dapatkan dari perjuangan tersebut akan membantunya tumbuh dan berkembang sebagai seorang pengusaha yang sukses.
Jadi, meskipun mereka masih berhubungan, namun Mona lebih memilih untuk tetap mandiri dan fokus dalam membangun hidup dan usahanya sendiri tanpa ketergantungan pada Adrian.
"Permisi Mbak Mona,ada tamu di cafe katanya mau ketemu mbak Mona."
"Eh Mas Yono,siapa mas tamunya?"
"Tidak mau menyebutkan nama mbak."
"Oh,siapa ya?"
"Saya ke depan dulu mbak."
"Oke Mas Yono,terimakasih.Sebentar lagi saya ke depan."
Mona menyelesaikan make up tipisnya.Pernah bermain film enam bulan lalu menambah pengalaman Mona dalam merias diri lebih baik.Meskipun itu sebuah Job terburuknya terjebak dalam Film esek-esek yang ingin dilupakannya.
Setelah selesai berdandan di depan meja rias ia mengenakan pakaian yang sangat elegan.Pakaian yang dulu tidak pernah bisa ia beli,namun kini setelah ia menerima uang dari Adrian,gaya hidupnya benar-benar berubah.Mona yang secara alamiah memiliki kecantikan dan body yang seksi saat ini tampak lebih bersinar dengan perawatan tubuh dan pakaian brand ternama yang melekat ditubuhnya.
Mona melangkah ke luar rumah dan menuju bangunan cafe yang berada beberapa meter di depan rumahnya.Sebidang tanah dan bangunan rumah mewah di pinggir jalan ini akhirnya mampu ia beli dengan uang hasil kontrak filmnya.
Mona memasuki area cafe melalui pintu belakang,terlihat beberapa staf sedang sibuk menyiapkan kopi dan kue-kue untuk para pelanggan. Ketika Mona berjalan menuju ruang depan kafe, ia melihat seorang pria yang tengah duduk di sebuah meja dan menunggunya. Dengan sigap Mona menyapa tamunya, yang ternyata adalah salah satu klien potensial untuk bisnis kopi dan kue-kue homemade-nya.
Pria tersebut mengenakan pakaian yang rapi dan terlihat serius. Mona merasakan ada yang aneh dari sosok pria tersebut, namun ia tidak bisa mengatakan apa yang membuat dirinya merasa aneh.
"Pardon me, Mbak Mona?" ucap pria tersebut dengan sopan.
"Iya, saya Mona. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Mona juga dengan sopan.
"Maaf, saya tidak memberitahu siapa saya sebelumnya. Saya sebenarnya berasal dari luar kota dan baru saja pindah ke sini. Saya melakukan riset pasar untuk usaha kopi saya yang masih baru dan mendapat referensi bahwa usaha kopi yang paling diminati di daerah ini adalah usaha kopi Mona. Saya ingin berbicara tentang usaha kopi Anda dan merencanakan kerja sama antara bisnis kita," ujar pria tersebut dengan jelas.
Mona terdiam sejenak, merenungkan kata-kata pria tersebut. Ia merasa bahwa hal tersebut suatu kesempatan yang bagus dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Mona kemudian memberikan senyum ramah dan mengajak pria tersebut masuk ke dalam cafe.
"Cukup menarik untuk berbicara bisnis dengan seseorang yang memiliki minat yang sama dengan saya," Mona berkata.
Pria tersebut kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Bima, pengusaha kopi dari luar kota yang juga memiliki usaha cafe. Ia merasa bahwa kedua bisnis mereka dapat saling mendukung dan berkembang bersama-sama jika mereka bekerja sama.
Mereka mulai berbicara dan berdiskusi tentang hal-hal teknis yang terkait dengan bisnis kopi, seperti varietas biji kopi yang tersedia, roasting metode, pengolahan kopi, dan layanan yang ditawarkan di cafe. Mona merasa bahwa pria tersebut sangat paham dan berpengetahuan luas dalam bisnis kopi.
Setelah beberapa saat diskusi, mereka sepakat untuk membangun kerja sama bisnis yang saling menguntungkan. Bima akan menyediakan biji kopi berkualitas tinggi bagi usaha kopi Mona, dan Mona akan membuka franchise dari kopi Bima di kota ini.
Mona merasa senang dan bersemangat untuk memulai kerja sama dengan Bima. Ia merasa bahwa ini adalah kesempatan besar untuk mengembangkan bisnis kopi dan memperluas jaringan usaha yang lebih luas lagi.
Dari hari ke hari, bisnis kopi Mona semakin berkembang dan sukses. Ia mampu membuka beberapa cabang di kota yang lain dan memberikan peluang kerja bagi banyak orang. Mona merasa sangat bangga dengan keberhasilan bisnisnya dan bersyukur atas semua kesempatan yang diberikan kepadanya.
Mona juga berterimakasih kepada Adrian karena memberikan modal untuk memulai bisnis kopi tersebut. Namun demikian, Mona tahu bahwa kesuksesannya didapatkan dari kerja keras dan perjuangannya sendiri. Ia sadar bahwa ia harus mandiri dan bergantung pada dirinya sendiri untuk mewujudkan impian dan tujuannya dalam hidup.
Saat Mona sedang bersantai di rumah pada malam hari,Telpon Mona berdering,
"Halo mbak."
"Ya mas Joko,apa kabar?"
"Baik mbak,mbak Mona sedang sibuk?"
"Tidak mas,saya sedang santai."
"Begini mbak,sudah beberapa kali ini ada orang datang ke cafe,kadang dua atau tiga orang,mereka berbadan besar dan tegap,penampilang sangar begitu mbak." Kata mas Joko manajer cafe Mona di luar kota.
"Trus?"
"Terus mereka selalu minta uang setiap kali datang.Pada waktu pertama kali saya ambilkan Dana CSR kita mbak.Nah tetapi mereka beberapa kali datang kembali dan meminta uang lagi dengan dalih sebagai uang keamanan mbak."
"Preman begitu mas?"
"Ya kurang lebih begitu mbak.Maaf ya mbak kami di cafe tidak ada yang berani."
"Tidak apa-apa mas.Oke mas Joko terimakasih informasinya,saya akan kesana segera ya,besok semoga saya longgar."
"Baik mbak Mona,terimakasih."
"Sama-sama mas."
Mona sempat terkejut mendapat laporan tersebut,namun tidak membuat mona panik,dengan cepat Mona menguasai keadaan.Mona telah berpengalaman menghadapi orang-orang seperti itu pada masa lalunya ketika sebagai wanita malam.Mona lantas terpikir apakah ini saat yang tepat meminta bantuan Adrian.
Mona segera memcari Kontak Adrian di HPnya.
"Halo Adrian.apa kabar?"
"Hai Mona,kabar baik.Bagaimana denganmu?
"Baik Adrian."
"Oh ya Adrian.kamu sedang sibukkah?"
""Tidak Mona,hanya ada beberapa pekerjaan kecil di kantor."
"Sepertinya aku bakal merepotkanmu.Bisakah kamu berkunjung kesini Adrain? Ada hal penting yang mau kusampaikan dan kutanyakan padanu."
"Waow mendadak sekali Mona,"
"Iya Adrian,kapan kamu bisa kesini Adrian?"
"Oke besok aku perjalanan kesana Mona."
Dalam pikiran Mona,Adrian sebagai anggota keluarga Mafia pasti berpengalaman dalam meghadapi situasai seperti ini.
Keesokan harinya Adrian terbang menuju Kota Kelahiran Mona dan tempat tinggal Mona.Mona dengan hati yang penuh sukacita menyambut Adrian,mereka berpelukan salung melepas rindu.
"Yuk Adrian kita ke parkiran."
"Oke."
Mona mendekati sebuah mobil hactback warna putih,kemudian mempersilahkan Adrian memasuki mobil.Kemudian Mona mengendarai Mobilnya.
"Wah kamu sudah bisa nyetir sejak kapan Mona?"
"Hehe,setelah aku tiba disini aku memutuskan kursus,lalu kupilih mobil ini.Aku kira cukup tepat untukku tidak terlalu besar dan simple."
"Benar juga Mona,untuk mobilitasmu jadi lebih nyaman dengan kendaraan sendiri."
"Oya bagaimana kabar adik-adikmu Mona?"
"Baik Adrian,mereka sangat bersemangat membantuku mengurus cafe."
"Bicara soal cafe,aku mau menceriatakan sesuatu Adrian."
Setelah Mona mengatakan pada Adrian mengenai situasi yang terjadi pada kafe miliknya, Adrian memberikan saran dan pandangan yang sangat berharga. Dari pengalamannya sebagai seorang mafia, Adrian pasti sudah berpengalaman menghadapi situasi yang sulit dan berbahaya. Adrian memberikan saran agar Mona segera menghubungi seorang pengacara untuk memproses masalah ini secara hukum.Selanjutnya Adrian juga menyarankan agar Mona menjalin kerja sama dengan salah satu anggota keluarganya yang berkecimpung di dunia keamanan dan menawarkan bantuan keamanan untuk kafe milik Mona.
Mendengar saran Adrian, Mona merasa sangat terbantu dan merasa lebih tenang. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah berpikir tentang menyimpan uang di kafe dan segera memperkuat keamanan di sana.
"Terima kasih atas bantuan dan saranmu Adrian."
"Tidak masalah Mona,nanti untuk urusan tenaga keamanan kamu tidak perlu membayarnya Mona,biar ku urus saja."
"Besok pemasangan CCTV baru dilakukan."
"Oke Adrian,terimakasih banget."
"Adrian,kalau kamu tidak sedang sibuk malam ini bisa menginap dirumahku."
"Soal perkerjaan rutin bisa kutinggalkan dulu Mona ."
"Syukurlah kalau begitu Adrian."