Klub Malam

1155 Kata
“Gue ada tugas mendadak Cha. Gue harus pergi ke Rockware Club. Jadi gue gak bisa anterin lu sampe rumah!” ujar Bimo di dalam mobil. Mereka berdua naik mobil meninggalkan tempat kafe sebelumnya. “Lu mau ngapain. Gue ikut dong!” pinta Cacha. Sebagai jurnalis memang terkadang Cacha sering ingin tahu apa yang sedang dikerjakan Bimo. Lumayan kan bisa ada tambahan berita eksklusif. “Kali ini agak berbahaya. Kamu jangan ikut!” larang Bimo agak tegas. “Idih lu kok sekarang gitu. Gue janji gue gak akan gangguin kerjaan lu. Ke Rockware Club kan. Kebetulan gue lagi stress. Gue mau clubbing!” “Ya Tuhan Cha! Ngapain juga sih!” “Tenang aja. Gue Cuma melepas penat sebentar doang sekalian nemenin lu.” “Gue agak lama mungkin. Soalnya –“ Bimo seperti ragu untuk menceritakan detail tugasnya. “Ya udah gue ngerti. Gak apa-apa. Gue nebeng aja ke sana. Sampai sana, terserah lu mau jungkir balik mau gerebek pengunjung apa kek apa! TERSERAH!” “Tapi janji ya. Lu jangan mabok!” “OK!” Keduanya kemudian sepakat. Cacha memang sedang butuh hiburan melepas penat dan stressnya karena dipecat dari pekerjaanya. Meski sebenarnya Cacha tergolong anak muda yang tak pernah main ke klub malam untuk minum dan ajojing. Saat ini mungkin karena hatinya yang sedang mumet dia ingin sekali menumpahkan segala emosinya di tempat hiburan malam. Sampai di sana, mereka berjalan masuk dengan terpisah. Cacha penuh percaya diri masuk ke sana dan melihat sekelilingnya. Dia pesan satu meja dan memesan satu minuman yang tidak terlalu keras alkoholnya. Hingar bingar musik DJ sangat memekakkan telinga. Cacha mencoba untuk menikmati suara musik sambil menggerak-gerakkan jarinya. Terlihat sangat kaku dan mencolok karena Cacha memang tidak terbiasa pergi ke tempat seperti ini. Minuman pesanannya pun datang. Cacha memulainya dengan satu tegukan kecil. Mencoba untuk merasakan dan beradaptasi dengan minumannya itu. Tetapi Cacha hanya melewatkan satu tegukan kecil saja. Lantas dia meletakkan kembali gelas minumannya di atas meja. Pandangannya kembali menyisir semua sudut ruangan itu. Dia mencari-cari sosok Bimo. Penasaran dengan apa yang sedang ia lakukan di sini dengan mengatasnamakan tugas. Dia tidak melihat sosok Bimo di antara kerumunan para pengunjung. Tetapi pandangan Cacha terhenti di satu titik. Di mana dia melihat orang yang sangat dia benci saat ini. Arya Liupani. Kenapa orang yang sudah menghancurkan karirnya itu sekarang berada di tempat ini. Usianya sekarang ini sudah tidak pantas berada di tempat anak-anak muda. Arya terlihat sedang dipeluk oleh seorang wanita muda yang cantik. Mereka berdua sepertinya mau meninggalkan tempat itu. Jiwa jurnalis Cacha kembali menyeruak. Bukankah ini sebuah berita bagus. Seorang anggota dewan terhormat berada di klub malam dalam keadaan mabuk dan bersama seorang gadis cantik yang bukan istrinya. Cacha kemudian segera mengambil tasnya dan diam-diam mengikuti mereka berdua. Ponselnya segera ia siapkan untuk merekam secara diam-diam. “Sial! Baterai HPnya tinggal lima persen lagi. Mana mungkin gue bisa merekam lebih banyak!” Cacha mendumel sendiri karena dia lupa untuk mengcharger baterai ponselnya. Cacha kemudian mengikuti mereka sampai ke gedung parkiran. Cacha berdoa agar kameranya tidak dulu habis baterai dan berhasil merekam Arya dengan jelas. Dengan berjalan mengendap-endap Cacha mengikuti dari belakang sambil bersembunyi di jajaran mobil yang terparkir. Kemudian dia mendengar samar-samar percakapan mereka berdua. “Pak setelah ini, apa Bapak mau mampir dulu di hotel?” “Tentu saja Sayang, mumpung istri saya masih di luar negeri.” Cacha ingin muntah mendengar suara Arya itu. Apa begitu kelakukan seorang anggota dewan yang terhormat. Dia mengkhianati istrinya dan bermesraan dengan gadis muda. Dia sudah tidak tertolong lagi. Semoga dia segera mendapatkan azab. Begitu kata hati Cacha saat menguping. “Pak Arya, saya janji saya tidak akan mengulang lagi kesalahan saya. Jika Bapak mau memaafkan saya. Saya akan melayani Bapak dengan yang lebih baik lagi.” Cacha mendapatkan posisi yang pas untuk mengambil gambar. Saat dia hendak menekan tombol rekam. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tubuhnya sampai ponselnya terjatuh. Baru saja mau berteriak. Tiba-tiba mulutnya dibekap dengan sangat kuat. Sehingga dia tidak bisa berteriak. Tubuhnya mulai meronta. Tetapi ketika Cacha hendak melawan dengan menendang kaki penyekap itu. Orang yang menariknya kemudian membalikkan tubuh Cacha menghadap kepadanya. Kedua mata Cacha hampir keluar begitu tahu siapa orang yang menyekapnya dari belakang. Zayyan Dewanta. “Arrrh! Tolong!” Cacha mendengar ada sebuah teriakan minta tolong yang tertahan. Cacha ketakutan karena dia mendengar suara keributan di sana. Tempat Arya dan gadis itu berada. “Diam jangan bergerak! Atau kamu bakal dapat masalah besar?” ancam Zayyan. Cacha melihat tatapan Zayyan yang begitu menakutkan. Nyalinya menciut ketika dia merasakan kalau cengkraman Zayyan sangat kuat. Bisa-bisa Zayyan meremukkan badannya dalam sekali banting. “Aku akan melepaskanmu kalau kamu nurut sama aku. Diam dan jangan ada suara!” bisik Zayyan dengan nada yang masih mengancam. Cacha tidak punya pilihan selain menurut. Dia mengangguk lemah. Saat ini dia tidak bisa melawan karena cengkraman Zayyan yang begitu kuat. Perlahan Zayyan mengendorkan cengkramannya dan melepas tangannya yang membekap mulutnya. Cacha kemudian segera mengambil oksigen banyak-banyak. Dia sungguh ketakutan dan hampir kehabisan napas. Sebuah mobil van hitam berhenti perlahan di samping mereka. Zayyan menarik tubuh Cacha agar masuk ke dalam mobil itu. Cacha belum bisa berbuat banyak karena masih shock dan akal sehatnya belum bisa berpikir banyak. Cacha masih gemetaran dan berusaha untuk mencari tahu kenapa dirinya dibawa masuk ke dalam mobil. “San! Antar kita ke hotel!” “APA?” teriak Cacha semakin kaget. “Untuk apa kesana?” tanya Cacha. “Untuk menyelamatkan kita berdua!” jawab Zayyan. “Apa maksudmu Tuan Zayyan!” “Aku tidak bisa mengatakan detailnya sekarang juga! Tapi – jika kamu memang benar-benar tidak ingin terlibat. Kenapa kamu tadi melakukan hal tadi di parkiran?” Cacha terdiam. Dia memang hendak merekam adegan dimana Arya Liupani sedang bersama wanita lain. Lalu dia teringat sesuatu. “HP ku terjatuh di sana tadi.” “APA?” teriak Zayyan tidak percaya. “Putar balik lagi. HP ku ada di sana.” “Tidak bisa! Kita harus segera ke hotel sekarang!” “Hei Bung! Ada apa ini? Kenapa kamu memaksaku pergi ke sana. Apa begini rupanya seorang anak mantan pejabat. Kamu sesuka hati membawa wanita ke hotel?” tanya Cacha penuh emosi. “Kalau kamu mau mengikuti perintahku. Aku akan kabulkan apa yang menjadi permintaanmu!” Cacha tersentak mendengarnya. Apakah saat ini dia sedang mendapatkan kartu emas. Pria di sampingnya ini adalah seorang konglomerat. Dia bisa memberinya apapun yang ia mau. Tetapi dia bisa saja menginginkan sebagai b***k hasratnya sebagai imbalan. “Tidak. Aku bukan gadis sewaan untuk menemanimu tidur!” teriak Cacha marah. Harga dirinya seperti diinjak-injak. “Hei! Jangan berasumsi berlebihan. Siapa juga yang memintamu untuk bermain di ranjang. Aku bukan sembarang orang. Lagipula kamu bukan tipeku!” jawab Zayyan dengan wajah yang merah padam. Cacha tersinggung mendengarnya. Itu artinya Zayyan memang tidak suka wanita sepertinya. Dia memang gadis biasa saja. Lantas untuk apa Zayyan membawanya ke hotel. Tidak mungkin kan dia membawanya ke hotel untuk melihat pertunjukkan badut di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN