BAB 4 : Menginap di Hotel
Cacha masih belum mendapatkan jawaban yang masuk akal dari Zayyan. Apalagi Zayyan tidak mau kembali ke tempat sebelumnya dan mengambil ponselnya yang terjatuh di sana.
“Terus bagaimana dengan HP saya?” tanya Cacha. Dengan kondisinya yang sekarang resmi jadi pengangguran. Rasanya tidak mungkin dia akan membeli ponsel baru lagi jika ponsel itu sampai hilang atau rusak.
“Tinggal beli yang baru!”
“Aku pengangguran, mana mungkin bisa beli HP baru,” jawab Cacha ketus.
“Aku yang beliin!”
“Sebenarnya untuk apa sih aku diculik. Tadi siang bukannya kamu juga tadi dikejar-kejar preman.”
Zayyan menghela napas panjang. Dia tampak pucat pasi dan terlihat gelisah. Cacha menyimpulkan kalau Zayyan memang sedang terlibat dalam sebuah masalah.
“Siapa namamu?” tanya Zayyan.
“Khansa Hansen.”
“Khansa. Namamu terdengar familiar.”
Hidung Cacha kembang kempis mendengarnya. Apa itu artinya Zayyan mengenali sosoknya sebagai pembawa acara berita. Seharusnya dia tahu siapa dirinya. Sekali dua kalii mungkin Zayyan pernah melihatnya di televisi.
“Khansa Hansen.”
“Bukankah kamu seorang pembawa acara berita yang kontrovesial itu?”
“Pinter! Ternyata dia tahu gue!” gumam Cacha bangga.
“Kalau aku tidak membawamu dari sana. Kamu pasti dapat masalah besar. Bukankah kamu tadi sedang membuntuti Arya Liupani?” tanya Zayyan dengan sorot mata yang menyelidik.
“Kenapa aku yang harus dapat masalah besar. Kalau kamu tidak menghentikanku tadi. Aku sudah dapat rekaman bagus untuk membuktikan pada masyarakat seperti apa Arya Liupani itu. Gara-gara dia, aku jadi dipecat dari tempat bekerjaku.”
“Kamu baru saja dipecat?” Zayyan mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja Cacha katakan.
“Sudahlah jangan dibahas! Andai kamu tidak mengangguku tadi. Aku sudah dapat berita eksklusif. Rekaman itu mungkin bisa aku jual. Jarang-jarang kan ada berita video seorang pejabat publik b******u dengan gadis yang bukan istrinya.”
“Sandy! Bisakah kita percepat ke hotel!” titah Zayyan.
Cacha semakin shock mendengarnya. Entah kenapa dia bisa berakhir dengan Zayyan seperti ini. Meski sebenarnya dia akui, Zayyan itu adalah pria tampan dan mapan. Tetapi dia tidak bisa kalau dipermainkan seperti ini. Apakah seseorang yang memiliki banyak uang dan kekuasaan bisa seenaknya saja memperlakukan orang lain dengan begitu rendahnya.
”Tolong turunkan saja aku di sini. Aku tidak mau dibawa ke hotel!”
“Khansa! Kamu dalam bahaya. Percaya sama aku. Meski aku tidak peduli kamu bisa selamat atau tidak. Tapi aku melakukan ini juga karena ini berurusan dengan aku sendiri!”
“Apa maksudmu? Kenapa aku dalam bahaya? Dan kenapa juga harus ke hotel!”
“Aku akan jelaskan semua detailnya. Percuma aku jelaskan sekarang juga karena kamu pasti tidak bakalan percaya.”
Cacha semakin dibuat pusing dengan pernyataan-pernyataan Zayyan. Kenapa masalahnya harus bersama dengan Zayyan. Apa hubungan Zayyan dengannya yang sedang memiliki dendam pada Arya Liupani.
Sampai di hotel, Cacha terus dirangkul Zayyan dengan paksa. Dia tidak mau diperlakukan seperti ini. Tetapi Cacha mengingat ancaman Zayyan terus. Entah bahaya apa yang dimaksud oleh Zayyan.
Di dalam kamar, Zayyan langsung menelepon seseorang. Sedangkan Cacha dia sendiri bingung harus bagaimana. Ponselnya hilang dan dia tidak tahu harus menghubungi Bimo dan ibunya jika dia harus tinggal di hotel malam ini. Keputusan Cacha ikut dengan Bimo ke Rockware memang salah. Tidak seharusnya dia pergi ke sana jika dia harus berakhir di kamar hotel ini dengan Zayyan Dewanta. Sebuah kesempatan emas dan langka jika Cacha adalah seorang wanita yang haus akan uang dan haus pria tampan. Cacha bukan tipe orang yang memanfaatkan pria seperti ini.
Zayyan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Cacha bisa mendengar kalau dia sedang mandi saat itu juga. Cacha menjadi resah karena takut kalau nanti Zayyan akan macam-macam padanya. Meskipun Zayyan adalah seorang pangeran tampan tetapi dia tidak mau menyerahkan dirinya begitu saja.
“Mandilah! Nanti akan ada orang yang datang membawakanmu baju ganti! Kamu tidur di sini dan jangan kemana-mana sebelum aku pulang lagi ke sini!”
“Kamu mau kemana?” tanya Cacha. Kenapa dia pergi dan memintanya untuk tinggal. Seharusnya dia juga pergi pulang.
“Aku ada urusan, kenapa? Apa kamu pikir aku akan menyentuhmu?”
Wajah Cacha berubah menjadi merah. Dia merasa malu kalau pertanyaannya seolah dia mengharapkan kejadian tidak terduga di kamar ini.
“Maksudku, aku juga ingin pulang. Ibuku pasti menunguku. Lagipula untuk apa aku di sini?”
“Bersembunyi.”
“Bersembunyi dari siapa dan untuk apa?”
“Aku juga tidak tahu dan tidak yakin. Tapi aku percaya kalau keberadaan kamu dan aku di sini setidaknya kita bisa mencegah musibah di waktu datang!”
“Aku tidak paham maksudmu.”
“Sudahlah. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang.” Zayyan mengambil sebuah kunci di atas meja. Lalu dia pergi begitu saja.
Cacha hanya bisa melongo tanpa diberikan kesempatan untuk bertanya lebih lanjut. Setelah Zayyan pergi, Cacha kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia begitu takjub melihat kamar mandi yang sangat mewah itu. Ini adalah kali pertamanya masuk ke dalam kamar hotel yang sangat mewah. Karena ini kesempatan langka, Cacha kemudian hilir mudik di setiap ruangan kamar itu. Sayangnya dia tidak bisa mengambil foto karena ponselnya terjauh di parkiran Rockware Club.
Kamar yang ia tempati sekarang adalah kamar suite yang spektakuler. Cacha bisa melihat pemandangan kota Jakarta di balik kaca kamar hotelnya. Dia berandai-andai kalau saja dia saat ini adalah seorang istri dari konglomerat. Mungkin dia akan sering menginap di hotel seperti sekarang ini.
Setelah hampir sejam Zayyan pergi. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Cacha kemudian menghampiri pintu dan membukakan pintu. Seorang pria berusia empat puluh tahunan datang membawa dua paper bag.
“Sesuai permintaan Pak Zayyan. Ini baju ganti dan ponsel barunya!” Pria itu menyerahkan pada Cacha dengan penuh kesopanan. Dia tidak menatap wajah Cacha langsung.
“Terima kasih. Tapi maaf Pak. Kapan saya bisa keluar dari sini?” tanya Cacha.
“Setelah Pak Zayyan kembali dari urusannya. Dia meminta agar Nona Khansa tidak keluar kamar selama Pak Zayyan belum datang!”
Cacha tidak puas dengan perintah Zayyan padanya. Tujuan Zayyan menyuruhnya diam di kamar tanpa alasan yang jelas. Bukankah seharusnya dia menjelaskan dengan detail dan masuk akal.
“Saya permisi dulu!” Pria itu kemudian langsung berbalik dan meninggalkan depan pintu kamarnya.
Cacha heran sekali dengan situasi yang dia hadapi. Kalaupun Zayyan memang tertarik padanya, bukankah seharusnya dia berada di sini. Tetapi kalau memang benar seperti apa yang dikatakannya kalau dia disini untuk bersembunyi. Pertanyaannya kenapa dia harus bersembunyi. Alasan apa yang membuat Zayyan membawanya ke sini.