BAB 5 : Deal or No Deal
Keesokan harinya. Cacha bangun dengan tubuh yang bugar. Dia benar-benar menginap di kamar hotel yang mewah. Semalam dia tidur nyenyak. Entahlah kenapa dia bisa tidur nyenyak padahal seharusnya dia harus waspada. Takutnya Zayyan datang tanpa dia ketahui dan berbuat sesuatu padanya. Tetapi sampai jam enam pagi, Cacha tidak melihat Zayyan datang.
Dia melihat box ponsel baru yang dibelikan Zayyan. Semalam Cacha tidak berani membuka ponsel baru itu. Bagaimana tidak berani? Merk dan harga ponsel yang dibelikan Zayyan hampir lima kali lipat dari ponselnya yang sebelumnya. Cacha tidak berani ambil resiko, jangan-jangan begitu dia mengambil barang dari Zayyan, ternyata dia harus menjadi tumbal proyek. Cacha bergidik.
Setelah bangun dari tempat tidurnya, dia bergegas keluar kamar menuju ruang tengah. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat Zayyan yang tertidur di sofa. Cacha kaget karena rupanya Zayyan pulang ke kamar. Entah jam berapa dia pulang. Ia kemudian berjalan mendekat dan mengamati Zayyan yang masih tertidur. Wajahnya terlihat sangat letih. Entah apa yang sudah ia kerjakan sebelumnya, rambutnya terlihat lusuh dan ia melihat tangan kanannya yang sedikit membiru. Apa dia terluka?
Cacha melihat wajah Zayyan yang tidur seperti bayi. Wajahnya sangat tampan dan bercahaya. Cacha menutup wajahnya seolah dia baru saja terkena silau dan sorot wajah tampan Zayyan yang bersinar. Gadis itu kemudian menepuk pipinya agar dia tidak terlalu tersihir oleh pesona Zayyan. Dia harus ingat kalau dia saat ini sedang dalam situasi tidak boleh tergoda dengan pria tampan.
Sebenarnya Cacha ingin membangunkan Zayyan dan menanyakan apakah dia bisa pulang atau tetap di sini? Tetapi melihat posisi tidur Zayyan seperti bayi polos tanpa dosa, Cacha hanya mengawasi gerak-gerik Zayyan yang tidur itu. Sampai akhirnya sebuah nada dering ponsel Zayyan mengagetkannya dan membuat Zayyan terbangun. Cacha menjadi gugup karena Zayyan mendapatinya sedang mengawasinya tertidur.
“Kamu sudah bangun?” Zayyan menyambar ponselnya dan mengangkat panggilan telepon untuknya.
“Iya Sandy!”
“Hmm – APA! OK- OK!”
Zayyan terlihat panik, dia segera mengambil remote TV dan menyalakan televisi dengan buru-buru. Cacha hanya bisa mengamatinya dengan seribu tanya di kepalanya. Apa yang terjadi.
Breaking News. Televisi menayangkan sebuah berita terkini. Arya Liupani diserang orang tidak dikenal. Sekarang Arya sedang berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif setelah mendapatkan penyerangan tadi malam.
“Apa! Penyerangan?” Cacha tidak habis pikir dengan berita itu.
Tampak sebuah video yang menayangkan Arya ditandu menuju ke ruang IGD dengan pengawasan ketat dari beberapa polisi dan penjaga keamanan.
“Apa yang terjadi?”
“Khansa, bukankah kamu sekarang pengangguran?” tanya Zayyan menatapnya dengan tajam.
“Ya, kenapa?”
“Mulai hari ini, kamu menjadi penanggung jawab acara berita di Brave TV!”
“Hah! Apa?” tanya Cacha kaget.
“Deal or no deal?” tanya Zayyan dengan wajah yang serius.
“Tapi kenapa mendadak?” tanya Cacha yang semakin heran.
“Kamu mau atau tidak?” tanya Zayyan.
“Mau. Tapi –“
“Tidak usah menolak. Karena kamu tidak bisa menolak. Kamu harus bekerja di Brave TV!”
Cacha sebenarnya ingin berteriak puas dan mengucap kata yes. Tetapi Cacha merasa ada yang janggal dengan ini semua. Kenapa semuanya begitu kebetulan. Dia memang ingin bekerja di sana setelah dipecat di Roar TV. Tetapi kenapa jalannya begitu mudah setelah bertemu dengan Zayyan.
“Tapi kenapa tidak melalui prosedur. Seharusnya aku melamar ke sana dulu dan diwawancarai dan tes!”
“Karena kamu masuk lewat jalur dalam.”
WTF! Apakah Zayyan benar-benar melakukan hal seperti itu. Cacha jadi ngeri-ngeri sedap. Tetapi, bukankah ini bagus untuknya. Bekerja di Brave TV adalah impiannya. Rating Brave TV dengan Roar Tv tentu saja jauh. Brave TV adalah stasiun TV yang populer di berbagai kalangan dan jauh di atas Roar TV.
“Bagaimana?” tanya Zayyan.
“Kamu menawarkan ini pasti ada maksud lain kan?” tanya Cacha.
Zayyan tersenyum dingin. Dia mengacungkan jempol pada Cacha yang cerdas menanggapi situasi.
“Aku tidak mau terlibat dengan bisnis kotormu Zayyan!”
“Cuih! Kamu jangan salah paham dulu. Aku memintamu bekerja di sana karena aku ingin kamu mengalahkan rating Roar TV! Plus aku juga ingin kamu menjadi pacar rahasiaku.”
“Hah? Pacar rahasia? Apa maksudmu?”
“Kalau kamu setuju. Aku akan buatkan kontrak resmi denganmu.”
“Tunggu dulau Zayyan yang terhormat. Apa Anda bisa jelaskan dulu kenapa Anda melakukan ini padaku?”
“Aku sedang dalam masalah. Ayahku menginginkanku menikah dengan putrinya Arya Liupani.”
“Hah!” Cacha agak terkejut mendengarnya.
“Tapi aku sudah mengetahui akal busuk Arya Liupani. Sayangnya dia terlalu pintar, berani bertindak dan mengambil resiko.”
“Kamu sudah tahu dia orangnya seperti apa kan? Aku berusaha untuk menggagalkan rencana ayahku untuk menjodohkannya dengan Kamila putrinya Arya. Tapi aku tidak sengaja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak aku tahu.”
“Apa itu?” tanya Cacha mulai sedikit khawatir. Karena perubahan wajah Arya yang mulai gelisah kembali. Sama seperti waktu Cacha melihat Arya yang sedang dikejar-kejar preman itu.
“Dia orang yang sangat berbahaya. Jadi – kita bisa saling melindungi. Jadilah pacar rahasiaku. Aku ingin terlihat sedang bersama seorang gadis. Jadi ayah tidak akan memaksaku untuk menikahi putri orang jahat itu!”
“Bagaimana?” tanya Zayyan.
“Bukankah kamu sedang butuh pekerjaan?” tanya Zayyan lagi. Dia tidak memberi kesempatan Cacha berpikir dengan tenang.
“Aku sudah mencari tahu tentangmu di Roar TV. Kamu berbakat dan punya keberanian. Jarang sekali jurnalis perempuan yang seberani dan blak-blakan seperti kamu. Jadi aku merekrutmu bukan karena jalur dalam saja. Aku sudah melihat potensi besarmu.”
Rasanya Cacha ingin bersalto saat ini juga. Baru kali ini selain Bimo ada orang yang memuji dan mengakui talentanya sebagai seorang pembawa acara berita.
“Baiklah, tapi – bolehkah aku bertanya?”
“Hmm, iya.” Zayyan memberinya kesempatan bertanya.
“Apa yang sudah kamu lakukan semalam. Jangan bilang kalau orang yang menyerang Arya Liupani kamu sendiri?” cecar Cacha.
Mendengar pertanyaan Cacha. Zayyan tampak gugup. Melihatnya seperti itu, tentu saja membuat Cacha menjadi lebih curiga.
“Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak mungkin melakukan penyerangan itu. Bukankah semalam aku di sini bersamamu?” tanya Zayyan.
“Hah? Yang benar saja. Semalam kau pergi. Kau baru pulang mungkin dua jam atau tiga jam lalu,” jawab Cacha lebih curiga.
“Semalam aku ada di sini. Aku tidak pergi kemana-mana,” jawab Zayyan.
“Bohong! Kamu pergi semalaman. Subuh tadi mungkin kamu baru datang.”
“Aku tetap berada di hotel. Aku ada di kamar lain di hotel ini bersama Sandy.”
“Aku tidak percaya. Jelas-jelas kamu tidak ada.”
“Dengarkan aku! Yang penting kamu harus mengikuti arahanku. Semalam aku berada di sini denganmu di kamar ini. Jadi tolong katakan itu jika nanti ada yang bertanya.”
Cacha terkejut dibuatnya. Otaknya langsung bisa menyimpulkan ketidakberesan Zayyan saat ini.
“Jadi kamu membawaku ke sini cuma untuk membuat alibi denganku di sini?” cecar Cacha.
Zayyan terdiam mendengarnya. Dia tidak segera menjawab. Itu artinya memang dia sedang berusaha untuk membuat alibi agar kejahatannya tidak terungkap.
“Ya itu benar. Tapi ada yang harus digarisbawahi. Aku memang sengaja membuat alibi ini, tapi aku bukan orang yang menyerang Arya Liupani. Aku ini dijebak.”
Cacha terkejut mendengar Zayyan yang membela diri. Dia mengaku kalau dia dijebak.