“Aku masih belum percaya kalau kamu dijebak. Siapa dan kenapa juga belum jelas?” ketus Cacha masih curiga pada Zayyan.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Kamu bisa liat CCTV hotel ini. Aku tidak keluar dari hotel ini.”
Cacha mennyipitkan matanya. Kalau memang benar Zayyan tidak melakukan itu, tapi kenapa dengan tangannya. Apa memang luka memar itu sudah ada sebelum kejadian penyerangan pada Arya.
“Aku harus menemukan HP ku!” seru Cacha pada Zayyan. Walau bagaimanapun dia sangat butuh ponsel itu. Banyak kontak dan memori gambar dan video di sana.
“Sudah terlambat. Sandy sudah mengecek ke sana. Dan Hp kamu sudah tidak ada,” jawab Zayyan tanpa bersalah.
“Semuanya gara-gara kamu. Kalau kamu gak mengagetkanku dan menyeretku pergi. HP ku mungkin gak bakalan hilang!” ucap Cacha menyalahkan Zayyan.
“Tapi aku sudah membeli HP untukmu yang baru. Bukankah itu bagus?” tanya Zayyan yang tidak peka.
“Buat apa ponsel baru. Semua data penting ada di di situ.” Cacha kesal karena dia harus kehilangan ponsel legend-nya.
“Data penting bisa dibuat. Kamu tidak punya rekaman video atau foto bugil kamu di situ kan?” tuduh Zayyan.
“Enak saja, memangnya aku kurang kerjaan nyimpan foto bugil aku di situ.”
“Syukur kalau begitu,” sahut Zayyan masih santai.
“Tapi kan, nomor-nomor penting semua ada di situ.”
“Kamu tinggal ke gerai seluler. Dan minta data kontak kamu dipulihkan. Mudah kan?”
Cacha semakin kesal karena sikap Zayyan yang selalu menganggap mudah sesuatu.
“Tapi kenapa kamu tidak membelikan ponsel dengan merk dan tipe yang sama dengan ponselku yang lama.”
“Aku tidak tahu merk HP mu yang lama. Jadi aku membeli HP yang model terbaru saja yang banyak digemari.”
Cacha berdecak kagum campur kesal. Bagi orang yang memiliki uang banyak, memang tidak menjadi masalah membeli ponsel yang harganya mahal seharga sepeda motor.
“Kamu tidak suka, apa perlu kita membeli ponsel yang lain?” tanya Zayyan tampak tidak keberatan jika harus membeli lagi ponsel untuk baru untuk Cacha.
“Cukup. Tidak usah! Ini saja!” Akhirnya Cacha menerima ponsel baru itu meski sedikit khawatir.
“Bersiaplah! Aku akan mengantarmu pulang. Ibu mu mungkin sebentar lagi akan lapor polisi karena anak gadisnya tidak pulang semalaman.”
Cacha menepuk keningnya teringat kalau dari kemarin dia belum sempat mengabari ibunya. Dia pasti sudah cemas dan kebingungan. Ini semua gara-gara pria itu.
“Cepatlah! Aku juga harus pergi ke kantor!” teriak Zayyan tidak sabaran karena melihat Cacha yang hanya diam mematung.
Cacha bergegas ke kamar mandi. Dia tidak mau kalau Zayyan akan kembali lagi mengoceh. Dia juga ingin segera pulang ke rumah.
Setelah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang dibeli Zayyan, gadis itu kembali keluar kamar. Dia melihat Zayyan juga sudah rapi dengan kemeja dan jasnya. Entah kenapa Cacha lebih tertarik dengan Zayyan yang memakai baju kasual dan santai. Zayyan kemudia berjalan di depan dan diikuti Cacha dari belakang. Mereka turun dengan lift menuju ke lantai dasar. Cacha agak canggung untuk berbicara dengan Zayyan.
“Setelah kamu menemui Ibumu. Nanti setelah jam makan siang kamu datang ke gedung Brave TV!” ucap Zayyan.
“Baik. Aku akan membawa CV dan surat lamaranku.”
Zayyan tidak menjawab lagi. Dia tampak serius melihat ke arah depan. Dia sedang memikirkan sesuatu. Cacha semakin canggung melihat mode Zayyan yang serius dengan vibes seorang Presiden Direktur.
Begitu mereka keluar dari lift, Cacha agak shock karena melihat banyak kerumunan di sana. Banyak wartawan dan reporter di lobi hotel. Cacha tiba-tiba menjadi gugup. Dia kemudian berjalan agak menjauh dari Zayyan. Dia tidak ingin mendapatkan sorotan orang banyak. Para jurnalin itu mengenali siapa sosok Zayyan. Dia tidak ingin rumor tidak sedap muncul jika jurnalis itu melihat dia dekat dengan Zayyan.
Cacha menutup wajahnya sebagian dengan scarf. Dia berjalan menyusuri lobi hotel yang tidak terjangkau oleh penglihatan jurnalis. Cacha menarik napas lega karena dia berhasil tanpa sorotan kamera maupun pengawasan para reporter. Sampai di lobi hotel, sebuah mobil mewah sudah terparkir di sana. Seorang pria turun dari kursi depan. Cacha melihatnya dan mengenalinya. Dia adalah orang yang menjadi supir dan suruhan Zayyan. Dia yang sering dipanggil Sandy oleh Zayyan. Mungkin orang itu adalah supir atau asisten pribadinya Zayyan.
Tanpa diduga, Sandy membukakan pintu mobil untuknya.
“Masuklah!”
Cacha ragu untuk naik. Tetapi dia melihat kerumunan reporter sudah mendekat. Cacha kemudian akhirnya masuk ke dalam mobil. Dia memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya masuk. Semua orang tertuju ke arah kerumunan. Zayyan terlihat sedang dikerumuni wartawan.
Dia memang tidak akan luput dari kejaran para wartawan dan reporter. Bukan hanya karena latar belakangnya yang menjadi orang berpengaruh, dia juga memiliki visual wajah yang menarik. Kaum hawa banyak menyukai pria setampan Zayyan. Jadi setiap gerak-geriknya pasti akan menyedot banyak perhatian.
Tak lama kemudian, Zayyan datang dan segera masuk dibarengi serbuan para reporter yang berusaha untuk mewawancarai Zayyan. Cacha merasa menjadi seseorang yang beruntung dan langka bisa sedekat ini dengan Zayyan. Tetapi tetap saja, siapa dia. Dia hanya makhluk asing yang sekedar lewat di hadapan Zayyan.
“Kenapa tadi kamu menghindar. Seharusnya kamu tetap berjalan dekat denganku saat tadi keluar dari lift!” sungut Zayyan dengan nada yang marah.
“Aku kan tidak mau berurusan dengan para wartawan,” jawab Cacha langsung dengan tegas.
“Kan sudah aku bilang, kalau kamu harus terlihat sebagai pasanganku.” Zayyan memaksa dengan ekspresi wajah yang seperti anak kecil meminta mainan baru.
“Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau difoto wartawan. Aku tidak mau jadi bahan berita. Aku ini seorang pembawa acara berita. Apa jadinya aku malah menjadi bahan berita,” ucap Cacha beralasan.
“Apa kamu sudah punya pacar, jadi kamu takut?” tanya Zayyan dengan tatapan menyelidik.
Cacha berdecak kesal. Kalau dia menjawab kalau dia tidak punya pacar, pasti Zayyan akan bertindak sesuka hatinya.
Cacha terlihat bimbang karena tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dia tidak ingin salah perhitungan.
“Gak usah kamu jawab, aku sudah tahu jawabannya!” ucap Zayyan kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Cacha bingung karena Zayyan begitu cepat mengambil kesimpulan. Apakah maksudnya dia tahu kalau dia memang sebenarnya tidak punya pacar.
“Sandy! Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” Zayyan tiba-tiba saja memerintahkan sesuatu pada Sandy.
Cacha semakin bingung karena sikap Zayyan yang tiba-tiba menyeramkan seperti itu.
“Baik Pak!” jawab Sandy patuh.
“Tunggu dulu! Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Cacha panik. Dia takut kalau Zayyan berbuat nekat padanya.