Bukan Seorang Jurnalis Lagi

1328 Kata
Cacha semakin panik karena melihat Sandy mengiyakan dan patuh perintah Zayyan. Entah apa yang diperintahkan Zayyan padanya. Cacha merasa kalau keselamatannya terancam. Dia tidak tahu sifat aslinya Zayyan seperti apa. Jangan-jangan dia adalah seorang penjahat kelas kakap berwajah malaikat. Apa karena dia mengatakan kalau dia sudah memiliki pacar. Tapi kenapa itu harus membuatnya seperti marah. “Apa yang mau kamu lakukan Zayyan?” tanya Cacha dengan waspada. “Sesuatu yang harus dibereskan,” jawab Zayyan pendek. “Sebenarnya siapa kamu? Apa kamu seorang psikopat?” tanya Cacha. “Pertanyaan kurang ajar apa itu? Apa tampangku seperti seorang psikopat?” tanya Zayyan sambil menatap Cacha dengan tajam. Rahangnya tampak mengetat. Cacha menelan salivannya saking takutnya melihat sorot mata Zayyan yang seperti hendak menelannya hidup-hidup. Cacha berusaha untuk membuka pintu mobil. Dia tidak bisa berlama-lama dengan Zayyan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika dia tetap bersama orang yang tidak ia kenal dengan baik. “Apa yang kau lakukan! Apa kamu mau keluar mobil saat mobil sedang jalan?” tanya Zayyan terlihat panik. “Zayyan, tolong biarkan saya pergi! Aku batalkan untuk bekerja di Brave TV!’ ucap Cacha. Dia pikir kalau dia lebih baik tidak bekerja di sana jika ia harus berhadapan dengan Zayyan yang bersikap seenaknya. “Kenapa kamu berubah pikiran. Bukankah kamu pengangguran sekarang?” ejek Zayyan. “Ya aku memang tidak punya pekerjaan. Tapi rasanya aneh saja tiba-tiba langsung bekerja di sana pakai jalur orang dalam langsung.” Cacha menyembunyikan perasaan takutnya pada pria tampan dengan sikap misteriusnya itu. Zayyan kemudian tersenyum miring. Dia menatap wajah Cacha dengan tatapan penuh intimidasi. “Kamu yakin, kamu tidak ingin bekerja di sana? Tidak semua orang bisa bekerja di sana. Hanya orang-orang yang dipilih secara ketat. Apa kamu tidak tertarik? Aku sudah tahu sedikit permasalahanmu di Roar TV.” Cacha menggigit bibir bawahnya. Sungguh menakutkan berurusan dengan Zayyan. Dia bisa langsung tahu mengenai dirinya. Dia yakin kalau Zayyan berusaha mencari informasinya dalam semalam. “Kamu tidak usah khawatir. Aku hanya menawarkanmu keuntungan bersama. Kamu dapat pekerjaan, dan aku punya orang untuk aku jadikan sebagai pasangan. Identitas aslimu tidak akan terungkap.Kamu tenang saja!” Zayyan mengatakan itu semua dengan ucapan yang lebih lembut daripada sebelumnya. Cacha menggosok-gosok tangan kanannya di atas pahanya. Dia merasa bimbang. Apakah Zayyan orang bisa dipercaya? “Tapi kenapa harus aku? Bukankah banyak gadis yang lain. Tentunya lebih cocok dan lebih cantik?” tanya Cacha penasaran. Zayyan kemudian tersenyum dingin. “Aku hanya butuh pacar pura-pura. Bukan untuk sungguhan! Kamu lupa!” “Jadimu maksudmu untuk kekasih palsu kamu tidak masalah harus gadis seperti aku?” “Tentu saja! Menurutmu apa? Aku tidak butuh wanita yang sesuai dengan tipeku. Toh ini hanya pura-pura. Jadi tidak perlu melibatkan perasaan dan hati.” Cacha terpaku dengan ucapan Zayyan barusan. Harusnya dia lega karena Zayyan memang hanya sepenuhnya ingin mengajaknya bekerja sama bukan untuk menjalankan hubungan asmara yang sesungguhnya. “Baiklah!” jawab Cacha memutuskan. “Bagus! Kalau begitu, ayo kita lakukan one night stand!” Cacha melongo karena mendengar ucapan Zayyan yang membuatnya jantungan. Kenapa Zayyan bicara terang-terangan seperti itu. “Apa kamu gila???” teriak Cacha. Dia merasa dilecehkan oleh Zayyan. Setelah memintanya menjadi pacar palsu. Dia meminta untuk melakukan hal yang jelas-jelas di batas norma. Apa dia menilainya terlalu gampangan dan murah. “Anggap saja tadi malam kita tidur bersama! Kamu tidak tahu wartawan dan reporter di hotel tadi siapa yang mengumpulkan?” tanya Zayyan dengan senyuman aneh. “Kamu?” tanya Cacha tambah kaget. “Kenapa kamu ceroboh sekali. Bagaimana jika aku tertangkap kamera mereka.” “Itu yang aku mau. Kamu tahu kenapa aku membelikan scarf ini untuku. Agar kamu bisa menutup wajahmu. Tapi kamu terlalu bodoh malah berlari seperti orang pengecut!” Cacha menjadi panik, apa yang harus dia lakukan jika wajahnya terekspos. Dia belum siap untuk terkenal sebagai orang yang dekat dengan Zayyan. “Untuk masalah itu kamu jangan khawatir. Sandy akan urus semuanya! Wajahmu tidak akan diekspos. Cacha tidak menanggapi ucapan Zayyan lagi. Akhirnya dia hanya bisa berdebat sendiri dengan hati nuraninya. Haruskah dia mengikuti rencana Zayyan. Dia menjadi kepikiran dengan kejadian penyerangan yang menimpa Arya Liupani. Kalau benar Zayyan tidak meninggalkan hotel. Lalu siapa yang menyerang Arya. Apa orang yang menyerangnya ada kaitannya dengan gadis muda yang bersamanya di klub malam itu. Cacha meminta Zayyan untuk menurunkkannya di depan gang komplek perumahannya. Dia tidak ingin Zayyan mengantarkannya sampai depan pintu rumah. “Rumahmu yang mana?” tanya Zayyan celingukan menatap barisan blok perumahan. “Tidak penting juga kamu tahu. Lagipula aku tidak akan mengajakmu mampir. Ibuku bisa pingsan jika melihat anaknya dianterin kamu,” cegah Cacha. “Baiklah, aku juga tidak terlalu pingin tahu.” Zayyan membuang mukanya ke arah lain. Cacha kemudian segera turun dari mobil Zayyan tanpa mengucapkan apapun. Lagipula kata apa yang pantas untuk ia ucapkan. Masa dia harus mengucapkan terima kasih padanya. “Jangan lupa besok kamu harus datang ke Brave TV! Mana sini HP mu!” tagih Zayyan. “Nih!” Cacha menyerahkan HP barunya itu. Dia pikir Zayyan akan mengambil kembali pemberiannya. Tapi rupanya ia salah kira, ternyata Zayyan hanya menyimpan nomornya di ponsel itu. “Hubungi aku di nomor itu! Besok jam 10 pagi kamu harus sudah berada di Brave TV!” titah Zayyan mengembalikan HPnya. Cacha sedikit khawatir dengan keputusannya itu. Apakah semuanya akan berjalan dengan baik. Mobil Zayyan pun bergerak meninggalkannya. Cacha melihat ke sekeliingnya untuk memastikan tidak ada banyak orang yang melihatnya. Sampai di depan rumah, dia melihat motor Bimo di depan rumahnya. Perasaan Cacha langsung tidak enak. Ibu pasti panik karena dia tidak pulang semalaman. Bimo juga pasti ikut cemas karena dia menghilang di Rockware Club. “Astaga Cacha!” pekik sang ibu melihat kedatangannya ke rumah. Cacha menjadi tidak enak begitu melihat wajah cemas ibunya. Wajahnya pucat mungkin disebabkan semalaman tidak bisa tidur. “Cha! Lu darimana. Kenapa HP lu gak aktif?” tanya Bimo sama paniknya. Wajahnya terlihat gusar. “Ceritanya panjang. Hpku jatuh dan hilang di sana!” ucap Cacha. “Cacha kamu dari mana saja sih Nak. Semalaman ibu tidak bisa tidur nunggu kamu pulang. Kata Bimo kamu udah pulang duluan. Memangnya apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa kan?” Ibunya memberondonginya dengan banyak pertanyaan. Cacha menatap wajah ibunya dengan tatapan bersalah. Dia juga bingung harus menceritakan dari mana. Dia tidak mungkin bercerita kalau Zayyan membawanya ke hotel dan menginap di sana. “Cacha cuma —” “Cha, ibu sudah tahu.” Cacha kaget karena ibunya mengatakan kalau dia sudah tahu. Apa mungkin tayangan reporter di hotel itu sudah ada. “Kamu sabar ya Nak. Masih banyak kesempatan untuk kamu!” Cacha mengerutkan keningnya mendengar ibunya berbicara ke arah lain. “Yang penting kamu tidak salah! Kamu masih bisa mendapatkan pekerjaan lain. Atau kalau perlu kamu melamar ke stasiun TV lain!” Aku menarik napas lega, ternyata yang ibu tahu adalah masalah ia dipecat di Roar TV. Ibunya mungkin khawatir dan menyimpulkan kalau dia tidak pulang karena dia strees akibat dipecat dari pekerjaannya. Bimo menepuk pundakku berusaha memberinya kekuatan dan dukungan. Cacha hanya tersenyum bingung. Dia belum bisa mengatakan kalau dia akan bekerja di Brave TV. Tiba-tiba ada sebuah panggilan telepon dari ponsel Bimo. Cacha dan ibunya memberi kesempatan pada Bimo untuk mengangkat telepon itu. “Halo!” “APA?” Cacha melihat wajah terkejut Bimo. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. “Baiklah! Saya akan ke sana segera Pak!” “Ada apa Bim?” “Ada penemuan jenazah di Rockware Club. Gue harus pergi!” Cacha tampak shock mendengar informasi itu. Kenapa ada jenazah di sana. Apa yang terjadi di sana? Jiwa jurnalisnya kembali meronta. “Gue ikut! Gue pengen meliput!” ucap Cacha. “Hei lu baru datang! Lagipula lu kan udah bukan seorang jurnalis lagi!” ucap Bimo mengingatkannya. Cacha berdecak kesal. Dia penasaran dengan kasus itu. Siapa dan kenapa penyebab kematiannya itu. Sayangnya, dia memang bukan lagi seorang jurnalis. Kalau dia nekat ikut Bima, pasti dia tidak bisa mendekat. ID jurnalisnya saja sudah ia serahkan kembali ke Roar TV.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN