Kasus Pembunuhan

1338 Kata
Cacha menunggu resah karena dia merasa ada sesuatu yang terjadi di sana. Siapa yang meninggal dan apa ada kaitannya dengan kejadian semalam di tempat parkir. Cacha bergidik ngeri jika semua itu ada kaitannya dengan kejadian penyerangan Arya Liupani. Ibunya melarang untuk pergi lagi karena baru pulang. Sedangkan Bimo, dia sudah berangkat menuju ke sana. Cacha yakin kalau telah terjadi sesuatu. Dan yang membuatnya khawatir dan takut adalah Zayyan. Dia semakin memiliki prasangka buruk padanya. Penasaran dan terus penasaran, Cacha tidak bisa berdiam diri terus di kamar. Jadi dia putuskan untuk pergi keluar. Dia melihat ibunya sudah pergi, jadi dia bisa leluasa pergi keluar. Cacha kemudian memesan taksi menuju ke Rockware club. Rasa ingin tahunya sangat tinggi karena ini menyangkut Arya Liupani. Sampai taksinya datang di dekat lokasi, Cacha melihat banyak petugas sedang berjaga-jaga dan mensterilisasi lokasi dari banyak orang. Cacha keluar dari taksi. Setelah membayar ongkos taksinya dia berjalan di trotoar dan bergabung dengan orang-orang yang juga penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Cacha melihat sebuah mobil yang sedang diperiksa oleh beberapa polisi. Dia juga melihat Bimo yang sedang berbincang dengan beberapa orang di sana. Sebuah ambulans bergerak meninggalkan tempat itu. Sepertinya ambulans itu mengangkut jenazah ke rumah sakit untuk diautopsi. “Kasihan, korbannya masih muda,” celetuk satu orang yang sempat melihat jenazah, “Korban, korban apa ya Mbak?” tanya Cacha semakin penasaran. “Korban pembunuhan Mbak, katanya sih dia staf anggota dewan. Dia dibunuh dengan cara dicekik.” “Astagfirullah!Kasihan sekali!” seru Cacha berempati. Cacha semakin merasa ada yang tidak beres. Dia takut kalau korban pembunuhan itu adalah gadis yang ia lihat bersama Arya Liupani. Saat Cacha kembali berjalan lagi, ponselnya bergetar. Ternyata ada sebuah panggilan telepon. Cacha sadar kalau nomor ponselnya itu baru dan orang yang meneleponnya adalah satu-satunya yang menyimpan nomor ini. Zayyan. “Halo!” “Kenapa kamu ada di sana. Seharusnya kamu jangan pergi ke situ!” Cacha terkejut karena Zayyan mengetahui keberadaannya. Dia pun segera memeriksa sekelilingnya. Mungkinkah Zayyan juga berada di sini. “Gadis bodoh! Apa kamu mau membuat polisi curiga?” Mendengar dirinya disebut bodoh tentu saja Cacha sangat marah. “Kenapa kamu bilang aku bodoh. Memangnya apa yang sudah aku perbuat?” tanya Cacha mengamuk. Dia paling benci kalau ada orang yang memanggilnya bodoh. “Kamu masih belum paham situasinya. Kemarilah! Naik mobil!” Cacha terkejut ketika Zayyan turun dari mobil yang sedang terparkir di dekatnya. Rupanya dia sudah ada di sana sejak tadi. “Kenapa kamu ada di sini?” tanya Cacha heran. “Naiklah!” seru Zayyan mengabaikan pertanyaannya. Cacha semakin kesal karena Zayyan bertindak sesukanya. Tetapi berhubung sorot mata Zayyan yang terlihat panik. Cacha kemudian patuh dan langsung naik ke mobilnya. Di dalam mobil juga terdapat Sandy yang setia mendampinginya. Setelah Cacha naik, mobil pun segera dilajukan Sandy. Cacha mulai merasakan ada yang aneh dengan sikap Zayyan. “Kamu tahu siapa yang dibunuh?” tanya Zayyan. “Tidak.” “Gadis yang bersama Arya Liupani. Dia yang kamu lihat malam tadi.” Cacha menutup mulutnya saking shocknya. Dugaannya benar. Jadi dia adalah gadis yang sempat dia akan rekam videonya untuk menjatuhkan Arya Liupani. “Apakah orang yang membunuh dan menyerang Arya adalah orang yang sama?” tanya Cacha. “Entahlah!” “Terus apa hubungannya denganku. Kenapa kamu memanggilku gadis bodoh?” hardik Cacha. Zayyan kemudian menatap Cacha dengan tatapan dingin. Meskipun dia terlihat menakutkan, wajahnya cukup tampan. Cacha tidak bisa mengingkari kalau Zayyan benar-benar makhluk maha sempurna. Rahangnya begitu tegas, matanya besar dengan sorot mata yang tegas. Hidungnya mancung serta bibirnya yang bersih berwarna merah muda. “Kamu lupa, kalau semalam kita ada di TKP. Bisa-bisa kita dicurigai kalau kita yang menjadi pelakunya.” “Apa? Mana mungkin? Lagipula tidak ada motif pelaku dariku.” Cacha mulai panik karena dirinya bakal dicurigai. “Motif bisa dibuat dengan mudah jika ada orang yang ingin kita sebagai pelakunya. Tapi kalau kita keliatan berada disini dan polisi menyadarinya. Nanti kita dikira datang untuk menghilangkan bukti yang tertinggal.” Cacha terdiam sesaat untuk menyerap perkataan Zayyan. Ucapannya memang benar dan masuk logika. “Tapi kenapa kita harus seperi ini. Toh bukan kita yang melakukannya,” sahut Cacha. “Ya kamu benar. Kita memang bukan pelaku. Tetapi aku mengetahui sesuatu yang penting,” ucap Zayyan dengan wajah yang serius. “Apa itu?”tanya Cacha penuh minat. “Kamu masih ingat pertama kali kita bertemu?” tanya Zayyan. Pria itu kemudian terlihat mengeluarkan sesuatu. Sebuah ponsel. “Waktu itu aku berniat untuk menemui Kamila." "Siapa Kamila?" "Dia orang yang hendak dijodohkan denganku. Dia putri Arya Liupani." "A-apa? Putri Arya Liupani. Jadi kamu calon menantu Arya. Pantas saja kamu berusaha menghentikanku," omel Cacha. "Dengarkan aku dulu. Aku tegaskan dulu, aku bukan dan tidak akan pernah menjadi menantunya!"seru Zayyan terlihat tidak suka. "Ok! Terus?" "Aku tidak sengaja mendengar rencana pembunuhan seseorang bernama Fely.” “Hah! Apa maksudmu?” Cacha tampak terkejut sekaligus shock mendengarnya. “Waktu itu aku tidak mendengar dengan jelas, karena aku keburu ketahuan. Jadi aku kabur dan bertemu denganmu.” Cacha berusaha menghubungkan apa yang ia dengar dengan mengingat kembali pertemuan pertama mereka di sebuah kafe. “Siapa Fely? Dan kamu mendengarnya dari siapa?” “Aku tidak tahu siapa Fely itu. Tapi aku mendengarnya saat aku menguping pembicaraan beberapa orang di tempat parkir.” “Apa Fely adalah gadis yang terbunuh itu?” tanya Cacha menarik kesimpulan. Zayyan tidak segera menjawab. Dia terlihat bingung. Dari raut wajahnya memang terlihat jelas jawabannya. “Sebaiknya kamu lapor polisi!Kalau itu adalah pembunuhan berencana!" ucap Cacha memberikan solusi. “Kalau aku lapor tanpa bukti. Aku juga tidak tahu siapa? “Tapi kan setidaknya kamu —” “Setidaknya apa?” potong Zayyan dengan tatapan tajam. “Apa kamu mengenal orang yang kau dengar perbincangannya?” “Aku tidak tahu, karena aku keburu ketahuan dan aku mencoba kabur karena aku tahu kalau aku tidak boleh mendengar semua itu. Tetapi aku curiga ini ada kaitannya dengan seseorang,” jawab Zayyan. “Siapa?” “Arya Liupani.” “Apa kamu yakin?” “Namanya juga curiga. Belum tentu benar.” “Itu bisa saja benar. Karena semalam dia berada di sini. Ah seandainya kamu waktu itu tidak menghentikanku. Aku mungkin sudah dapat rekamannya. Itu adalah waktu yang krusial,” ujar Cacha. “Masalahnya waktu itu aku tidak mau kamu terlibat.” “Masalahnya gara-gara kamu menghentikanku, kita tidak punya bukti rekamannya.” “Sebenarnya waktu itu aku sengaja membuntuti Arya karena penasaran. Aku terkejut ketika mengetahui nama gadis yang bersama Arya itu adalah Fely.” “Saat itu aku melihatmu di sana.” “Tapi bukankah Fely itu kekasih gelapnya Arya. Kenapa juga dia harus dibunuh. Kamu tidak lihat bagaimana mesranya mereka.” “Masalahnya orang yang bernama Fely itu tiba-tiba menghubungiku dan memintaku untuk datang ke sana. Aku pikir aku bisa menemuinya langsung untuk memberitahunya. Tetapi aku sadar sepertinya aku akan dijebak seseorang. Makanya aku segera membawamu pergi.” “Dijebak bagaimana?” “Kenapa aku tiba-tiba diminta untuk datang kesana. Begitu aku melihat ada Arya di sana, aku merasa ada yang tidak beres.” Cacha terlihat frustasi. Kenapa juga Zayyan dan dia berada di situasi yang tidak menguntungkan seperti ini. “Tunggu dulu, waktu kamu mau mengajak ke hotel apa maksudnya. Kamu bilang kalau itu akan menyelamatkan kita.” “Ya, aku jaga-jaga kalau keberadaan kita di sana akan dikaitkan dengan kejadian ini.” “Kalau kamu tahu ada rencana pembunuhan, kenapa kamu tidak berusaha mencegahnya.” Zayyan tampak terdiam, dia seperti sedang linglung dan kebingungan. “Aku juga tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak mau bertindak gegabah." "Oke, sekarang kita anggap saja ini ada kaitannya dengan Arya, lalu apa rencana kita kalau memang benar katamu kalau semuanya akan berkaitan dengan keberadaan kita di sana." Cacha harus memastikan kalau mereka berdua harus tahu langkah mereka seperti apa. "Yang jelas kita pergi dulu." “Sekarang kita mau kemana?” tanya Cacha bingung karena ia menghadapi situasi yang tidak biasa. "Siap-siap untuk menghadapi apa saja yang ada di depan kita," jawab Zayyan sambil menatap wajah Cacha dengan tatapan dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN