Zayyan terlihat begitu serius dengan tatapannya yang jelas tidak bisa dimengerti oleh Cacha. Sejak pertemuannya yang tidak terduga dengannya, Cacha merasa kalau ada aura buruk menerjangnya.
Di tengah kebingungan serta rasa penasaran, Cacha menyimak percakapan Sandy dengan seseorang ditelepon.
"Apa! Tuan Zayyan tidak bisa datang karena sekarang beliau sedang ada urusan."
Zayyan memberi kode Sandy dengan bahasa isyarat. Cacha yang tidak mengerti dengan bahasa atau kode yang diberikan Zayyan pada Sandy tentu saja dia hanya bisa menatap mereka heran bergantian.
"Apa ini sebenarnya. Apa yang sedang kalian rencanakan?" tanya Cacha semakin dibuat cemas.
"Arya ingin bertemu denganku."
"Kenapa dia ingin bertemu denganmu?"
"Mungkin dia ingin aku segera menikahi putrinya."
"Bagus dong mau dikawinin," celetuk Cacha.
Wajah Zayyan terlihat ingin marah. Tetapi yang ia lakukan hanya menyipitkan matanya pada Cacha.
"Aku pernah dengar kalau putrinya Arya itu cantik. Kenapa kamu tidak menyukainya."
"Aku tidak ingin menikah dengannya. Aku tidak suka dengan perjodohan."
"Oh jadi kamu memutuskan untuk menjadi bujang lapuk."
"Jaga lisanmu Nona!" ucap Zayyan misuh-misuh. Ternyata mulut Cacha tajam juga. Apa karena dia seorang jurnalis.
"Sorry. Aku bisa paham kenapa kamu tidak ingin menikah dengannya setelah kamu tahu kelakukan kotor Arya Liupani. Tetapi bukankah semua orang kaya itu dijodohkan dengan anak orang kaya juga. Itu sudah tradisi. Apalagi kalau kedua keluarga Dewanta dan Liupani disatukan. Pasti semakin berlimpah."
"Ckckck. Lama-lama bicaramu seperti Arya. Selalu uang yang diutamakan," ejek Zayyan.
Cacha langsung merapatkan bibirnya karena Zayyan protes. Terpaksa dia harus jaga ucapannya.
Selang beberapa menit kemudian, Sandy tetap menyetir sambil memeriksa ponselnya.
"Pak Zayyan, beritanya sudah rilis di media."
Zayyan buru-buru memeriksa ponselnya. Penasaran Cacha pun ikut melihat ke arah ponsel Zayyan. Sebuah portal berita ternama menyiarkan berita kalau Presdir Brave TV sekaligus putra tunggal Withan Dewanta meninggalkan hotel bersama seorang wanita.
"Itu kan aku!" teriak Cacha kaget karena melihat tayangan dirinya yang keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil Zayyan. Meskipun pengambilan gambarnya tidak terlalu jelas menampilkan wajahnya. Tetap saja Cacha panik.
"Kenapa bisa ada berita seperti ini. Ngaco!" umpat Cacha.
Berbeda dengan sikap Cacha yang panik, Zayyan terlihat tenang.
"Syukurlah. Dengan adanya berita ini, minimal kita sudah bisa melakukan pencegahan."
"Kamu terlihat tenang. Apa ini masuk ke dalam rencanamu. Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan? Jangan -jangan kamulah orang yang —-"
Cacha sangat kaget dengan berita yang rilis itu.
"Dengan begitu, media akan ramai memperbincangkan itu. Arya pasti sangat marah karena aku sudah menolak mentah-mentah putrinya," jawab Zayyan.
Cacha sadar kalau dirinya saat ini tidak bisa berkutik dengan orang yang memiliki banyak kuasa dan pengaruh.
Sampai pada akhirnya mereka tiba di sebuah gedung dua lantai. Dari plang nama yang tertulis di depan gedung Cacha tahu kalau itu adalah sebuah gerai pakaian wanita dan salon terkenal di sini.
Cacha mengikuti Zayyan dari belakang dengan hati dan pikiran yang sudah mulai tidak sinkron. Sementara Sandy mengikuti paling belakang. Cacha cukup takjub karena saat mereka datang, Para pegawai dan staf tampak berbaris menyambut kedatangan mereka. Cacha juga tidak melihat ada pelanggan lain di toko ini. Apakah semua pegawai dan staf toko ini hanya khusus menyambut kedatangan Zayyan.
“Tolong dandani dia menjadi layak dilihat!” titah Zayyan pada seorang pegawai perempuan yang menyambutnya dengan takzim.
Pegawai perempuan itu kemudian melirik Cacha dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari caranya dia menatapnya, Cacha tahu kalau dia sedang diperhatikan dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Kenapa cuma diam ngelihatin doang. Apa ucapan saya tidak jelas?” gertak Zayyan yang terdengar marah pada pegawai itu.
“Baik Pak.”
Cacha memberikan tatapan sinis pada Zayyan karena dia meminta dirinya didandani menjadi layak dilihat. Memangnya dia seburuk apa sehingga dia meminta hal seperti itu. Zayyan dengan tatapan tanpa dosanya hanya menggerakkan jarinya pada Cacha agar dia segera bergegaas.
“Entah apa rencana dia?” gerutu Cacha dalam hati.
Sambil menunggu Cacha diberikan beberapa setelan pakaian, Zayyan hanya duduk dengan Sandy sambil mendiskusikan sesuatu. Cacha kesal karena dia tidak diberi penjelasan detail tentang apa rencana mereka yang melibatkan dirinya itu.
Sudah lebih dari lima setelan baju yang ia coba, tetapi Zayyan sepertinya tidak puas dengan penampilannya itu. Beberapa kali Cacha harus bolak-balik kamar fitting baju untuk mencoba beberapa pakaian.
Sampai akhirnya untuk setelah ke dua belas, Cacha merasa cape dan dia tidak bisa menunggu lebih lagi. Begitu Zayyan hendak membuka suara tentang pakaian yang ia kenakan Cacha langsung mendahuluinya.
“Kalau kamu nyuruh aku ganti lagi. Lebih baik kamu sendiri yang pakai semua baju itu!” ucap Cacha sambil melotot. Dia sangat lelah dengan sikap Zayyan yang terlalu gampang untuk memerintah seseorang.
Mulut Zayyan sampai menganga karena dia terkejut jika Cacha akan mendahuluinya untuk berbicara.
“Oke, yang itu saja! Mbak sekarang tolong sekalian make up in dia!” Untuk kesekian kalinya Zayyan memerintah.
Cacha menghela napas dalam-dalam karena Zayyan sudah menyita waktunya yang berharga. Baru saja dia hendak melontarkan protesnya, para pegawai gerai itu dengan cepat segera membawaku ke sebuah ruangan. Cacha masih tidak habis pikir, kenapa Zayyan repot-repot mendandaninya. Mungkinkah ini adalah sebagian rencananya. Cacha ingat kalau Zayyan pernah mengatakan kalau dia dijebak. Apa ini masih ada kaitannya dengan kasus pembunuhan tadi.
Cukup lama juga Cacha dimake up. Dia cukup terkejut dengan hasilnya. Dia sebenarnya sudah sering di make up, apalagi kalau dia harus melakukan siaran berita. Tetapi kali ini, dia juga merasa pangling dengan wajahnya.
"Apa ini? Kenapa tebal sekali?" cicit Cacha.
"Anda sangat cantik!" puji orang-orang di dekatnya.
"Iya saya tahu saya cantik. Tapi apakah harus setebal ini make up-nya?" tanya Cacha tidak terima.
"Ini tidak terlalu tebal Mbak. Mbaknya pasti jarang make up ya. Jadi merasa aneh sendiri?"
Cacha berdecit tidak puas karena dia merasa diremehkan. Sekali lagi Cacha menatap cermin melihat bayangan wajahnya disana. Sebenarnya dia memang cantik dan terlihat berbeda. Hanya saja Cacha sedikit risih karena tidak terbiasa.
Cacha pun segera meninggalkan ruang make up dan menuju ruangan tempat Zayyan dan Sandy menunggu. Kedatangan Cacha langsung membuat Zayyan dan Sandy tercengang. Cacha tersenyum kikuk karena melihat reaksi mereka.
“Sandy!” Zayyan lagi-lagi hanya memberikan bahasa isyarat pada Sandy. Dan sepertinya hanya Sandy yang paham akan isyarat itu.
Sandy segera berdiri dan meninggalkan tempat itu dan hanya tinggal mereka berdua. Cacha langsung duduk di samping Zayyan dengan santai.
“Dengarkan aku! Mulai sekarang kamu adalah tunangkanku. Hari ini kita akan bertemu dengan keluargaku!”
Cacha memang tidak terkejut lagi, karena Zayyan sudah memberitahu sebelumnya. Jika dia harus berpura-pura menjadi tunangannya demi menghindari perjodohan dengan putrinya Arya Liupani.