Setelah selesai mendandani Cacha, Zayyan segera menghubungi ayahnya Withan. Dia memang memilki sebuah rencana setelah bertemu dengan Cacha tanpa sengaja di Rockware Club. Dia tahu kalau jalan satu-satunya untuk menghindari akal bulus Arya Liupani adalah memanfaatkan Cacha. Gadis itu tentu saja bukan pilihan tepat. Tetapi keadaan yang menyebabkan dia harus segera mengambil tindakan.
Pertemuannya dengan Cacha di kafe memang tidak sengaja. Waktu itu dia tanpa sengaja mendengar percakapan beberapa orang di tempat parkir basement sebuah gedung. Sayangnya, dia ketahuan menguping. Zayyan melarikan diri dan bertemu dengan Cacha.
Ternyata kejadian itu tidak berhenti sampai di sana. Tiba-tiba saja Zayyan mendapatkan pesan chat dari orang yang tidak dikenal kalau dia harus pergi ke Rockware Club. Seharusnya mungkin dia tidak datang kesana. Sampai di tempat parkiran dia justru melihat situasi yang tidak menguntungkan. Zayyan segera membawa Cacha dari sana dan pergi ke sebuah hotel. Kalau dia tidak salah perhitungan, dia merasa kalau kehadirannya di sana akan dihubungkan dengan kejadian pembunuhan itu.
Arya Liupani adalah orang yang luar biasa kejam. Zayyan tahu rekam jejak asli pria itu. Maka dari itu dia tidak ingin berurusan dengannya apalagi sampai menjadi menantunya. Hanya saja ayahnya Withan tidak percaya dann justru malah memaksanya untuk bersikap baik padanya.
Awalnya Zayyan tidak akan mengurus permasalahan Arya Liupani dan akan fokus pada dirinya sendiri. Tetapi begitu dia mendapat masalah. Zayyan rasa harus segera melakukan tindakan pencegahan. Menurut informasi yang ia dapatkan, kalau Arya akan membuatnya mendapatkan ganjaran atas semua sikapnya pada Arya.
Khansa Hansen. Gadis yang menurutnya sangat menyebalkan. Mulutnya tidak pernah berhenti mengoceh. Sebenarnya Zayyan malas berurusan dengan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, karena dia satu-satunya yang bisa membantunya membuat alibi. Alibi kalau sebenarnya dia tidak pernah terlibat dengan pembunuhann di Rockware Club.
“Zayyan, sampai kapan aku harus begini?” Cacha mengeluh karena dari tadi mereka berdua duduk menunggu di sebuah ruangan privat restoran. Mereka menunggu kedatangan ayahnya Zayyan.
“Apakah kata sabar tidak ada dalam kamus hidupmu?” tanya Zayyan dengan angkuh.
“Bukan tidak sabar. Tapi kenapa juga harus berpura-pura. Tidak bisakah kamu menolak perjodohan itu tanpa harus melibatkan aku. Aku merasa tidak nyaman.”
“Harusnya kamu merasa senang dan beruntung karena bisa bertunangan denganku. Banyak gadis yang mengantri hanya sekedar untuk makan malam denganku,” ucapnya dengan penuh narsis.
“Beruntung apanya? Yang ada aku rugi, rugi waktu dan pikiran. Jangan pikir kalau kamu tampan dan memiliki banyak uang semua gadis bakal takluk padamu,” jawab Cacha dengan wajah ketus.
Zayyan tersenyum sinis karena melihat sikap Cacha yang justru kebalikan dari semua wanita yang ia pernah temui.
Belum sempat Zayyan menimpali, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Lalu masuklah Withan dengan ibunya Zayyan. Cacha menjadi gugup karena pertama kalinya dia bertemu dengan Withan Dewanta. Mantan menteri yang merupakan orang yang memiliki pengaruh di negeri ini. Cacha memberi sambutan dan penghormatan.
“Jadi ini gadis yang akan dinikahimu?” tanya Withan dengan tatapan sinis.
“Ya Ayah, sudah Zayyan katakan kalau Zayyan sudah punya wanita yang Zayyan cintai.”
“Kamu benar-benar bikin Ayah kecewa.”
Zayyan kemudian merangkul bahu Cacha dengan lembut. Dia ingin memastikan kalau apapun reaksi orangtuanya, dia tidak akan gentar untuk tetap menolak perjodohan itu.
“Siapa namamu?” tanya Latifah, ibunya Zayyan. Berbeda dengan ayahnya, sepertinya ibunya lebih ramah dan menerima Cacha.
“Khansa Hansen Bu,”jawab Cacha dengan suara terbata-bata. Zayyan tahu kalau gadis itu pasti gugup dan ketakutan.
“Bukankah kamu penyiar berita Roar TV yang mempermalukan Arya Liupani?” tanya Withan dengan tatapan tajam.
Cacha semakin gugup dan panik karena tidak mengira kalau Withan mengenalinya.
“Sepertinya Bapak salah paham, saya tidak bermaksud mempermalukan Bapak Arya,” jawab Cacha.
“Siapapun yang berada dalam posisi Arya, pasti akan malu jika langsung ditanya seperti itu. Kamu sudah menciderai etika jurnalistik,” tambah Withan menyudutkan Cacha.
Cacha baru saja akan menjawab. Tetapi seketika tangan Zayyan mengenggam tangannya. Zayyan berusaha menghentikan Cacha sebelum gadis itu akan berdebat dengan ayahnya. Yang Zayyan tahu, gadis itu akan semakin membuat ayahnya marah.
“Ayah, sebaiknya jangan bahas itu. Cacha yang aku kenal adalah gadis yang lembut, pemberani dan dia dapat menghadapi resiko yang ia ambil. Cacha akan bekerja di Brave TV sebagai penanggungjawab siaran berita.
“Apa?” Withan kaget mendengar ucapan Zayyan.
“Apa kamu sudah gila?” tanya Withan dengan nada yang marah dan tinggi.
“Ayah, bisakah beri kesempatan pada Zayyan untuk menjelaskannya?” tanya Zayyan dengan suara lembut.
“Benar Yah, dengerin dulu apa kata Zayyan!” pinta Latifah sambil mengusap punggung Withan memintanya untuk sabar dan memintanya untuk tenang terlebih dahulu.
“Ayah, Zayyan tahu kalau ini akan membuat ayah dan ibu kecewa. Tapi please Zayyan mohon … Zayyan sangat mencintai Cacha. Zayyan tidak bisa menikah dengan Kamila.”
“Kamu tahu resiko apa yang kamu dapat jika menolak Kamila?” tanya Withan.
“Apa Ayah tidak tahu dan mengenal Arya Liupani. Kenapa Ayah tega menjerumuskan putra Ayah sendiri padanya?”
“Ini demi kebaikanmu. Kamu tahu, kalau sebentar lagi Pemilu. Ayah —-”
Withan tidak menyelesaikan perkataannya karena melihat wajah Cacha yang terlihat tertarik.
“Ayah, sebenarnya Zayyan —”
Belum selesai Zayyan berbicara, tiba-tiba saja pintu dibuka. Sandy datang tergopoh-gopoh. Sepertinya ada sesuatu yang penting. Kalau tidak, kenapa dia harus menerobos masuk ke dalam.
“Pak, gawat! Ada surat perintah kepolisian untuk penangkapan Anda!”
“APA!????
Tak lama kemudian, beberapa polisi datang ke ruangan itu dan membuat kegaduhan.
“Ada apa ini?” tanya Withan terkejut karena kedatangan polisi yang tiba-tiba.
“Zayyan Dewanta, ada ditangkap karena kasus penganiayaan Arya Liupani dan pembunuhan seorang wanita bernama Felycia!” Seorang polisi mendekat dan memasangkan borgol pada tangan Zayyan.
“Apa! Tidak mungkin!” Latifah ibunya Zayyan histeris melihat anaknya diborgol polisi.
“Siapa kalian dan berani menangkap anak saya?” Withan juga tidak terima melihat Zayyan akan digiring polisi.
“Bim!” Cacha memanggil salah satu orang dari polis itu.
“Cacha, kenapa kamu bisa disini?’
Zayyan melihat salah satu petugas polisi yang mengenali Cacha. Dia langsung teringat kalau laki-laki itu juga pernah bertemu dengannya di cafe. Jadi polisi itu kenal dengan Cacha.
“Ada apa ini? Kenapa kamu bisa bersama tersangka?” tanya Bimo menatap wajah Cacha dengan tatapan tidak percaya.
“Apa maksudmu tersangka?” tanya Cacha shock.
“Dia sudah menyerang Arya dan membunuh seorang wanita di Rockware, kenapa kamu bisa ada di sini bersama dengannya?” tanya balik Bimo.
“Apa kalian punya bukti kalau anak saya yang melakukannya?” tanya Withan dengan berang.
“CCTV di Rockware menunjukkan keberadaannya di sana. Juga dari saksi dan korban di TKP.”
Cacha terlihat terkejut, tetapi Zayyan hanya menatap wajah Bimo dan Cacha bergantian dengan tatapan menyelidik.