Di kantor polisi.
Zayyan duduk di depan meja penyidik polisi. Sementara itu, Cacha entah kemana. Sejak dibawa ke kantor polisi dia diseret oleh temannya yang polis itu. Entah apa yang mereka bicarakan.
“Bapak Zayyan Dewanta. Sekarang katakan pada kami keberadaan Bapak kemarin malam?”
Zayyan melihat dengan angkuh polisi yang bertanya padanya. Dia merasa prosedur penangkapannya tidak masuk akal dan terlalu dibuat-buat.
“Pertama-tama saya komentari dulu kinerja kalian. Tidak bisakah kalian bekerja lebih baik dari ini. Kalian sudah menganggu privasi orang dengan tidak menigindahkan asas tidak bersalah. Kenapa harus ditangkap dan diborgol. Bagaimana kalau kalian salah tangkap?” tanya Zayyan dengan nada bicara santai. Sebenarnya dalam hati dia sudah kesal karena perintah penangkapannya sebagai tersangka bukan sebagai seorang saksi.
“Baiklah, kami mungkin sedikit tergesa-gesa sampai merusak acara makan malam Anda dengan keluarga. Tapi kami sudah mengantongi surat penangkapan secara resmi.”
“Tidak bisakah kalian lebih teliti. Kenapa kalian menangkapku tanpa bukti yang jelas.”
“Karena kesaksian korban adalah kunci utama untuk menangkap pelaku,” jawab polisi itu dengan begitu yakin.
“Bagaimana kalau saksi itu memberikan informasi palsu,” jawab Zayyan masih tenang.
“Dengar Pak Zayyan, jangan pikir karena Anda adalah anak Pak Withan dan juga seorang Presdir TV Anda bisa mendapat perlakuan istimewa.”
“Saya memiliki alibi yang pas saat kejadian itu.” Zayyan menatap wajah polisi itu. Dia akan mengingat jelas wajah petugas polisi itu. Kenapa polisi itu langsung menangkapnya hanya dengan berbekal kesaksian palsu Arya.
“Saya berada di hotel bersama tunangan saya sampai pagi hari. Jadi bagaimana bisa saya menyerang dan membunuh seseorang.”
“Benarkah itu? Apa alibi Anda bisa dikonfirmasi?”
“Tentu saja, silakan tanya pada tunangan dan pihak hotel.”
“Tapi di TKP, ada rekaman Anda di sana. Jadi —”
“Saya memang ada di sana janji bertemu dengan tunangan saya. Setelah itu kami langsung pergi ke hotel,” jawab Zayyan.
Setelah Zayyan mengatakan itu, sebuah panggilan telepon masuk ke meja polisi itu. Zayyan hanya memperhatikan petugas itu dengan tatapan santai. Sepertinya dia memang sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi padanya.
Zayyan melihat gelagat polisi itu yang sedang berkomunikasi serius dengan seseorang di telepon. Dari apa yang ia simak, percakapan mereka seputar keberadaan dia dengan Cacha di hotel. Dari raut wajahnya, Zayyan menebak kalau polisi itu terlihat kebingungan dengan informasi yang ia dapat.
Beberapa menitk kemudian, polisi itu menyudahi percakapannya dan meletakkan ponselnya sambil menatap Zayyan dengan tatapan tidak enak.
“Bapak Zayyan Dewanta, baru saja kami konfirmasi kalau memang benar Anda berada di sebuah hotel. Tetapi kami masih akan tetap menyelidiki ini. Mohon kerjasamanya!”
“Baiklah. Pertama saya tegaskan lagi. Kalau saya tidak menyerang Bapak Arya dan membunuh gadis itu. Kemudian, kalau Pak Arya mengatakan kalau saya pelakunya, Anda bisa tanyakan lagi kenapa Arya mengatakan itu. Bukankah jelas, kalau saya ini difitnah?”
“Tim forensik masih memeriksa tubuh korban. Kalau ada sidik jari atau DNA Anda di tubuh korban, itu bisa saja mematahkan alibi Anda.”
“Silakan! Tetapi sebelum kalian mendapatkan informasi dan bukti yang benar, lepaskan saya dan pengacara saya akan membantu untuk mengurus ini semua.”
“Tapi Bapak Zayyan, Anda dan tunangan Anda menjadi salah satu saksi. Jika ditemukan bukti, status kalian berdua bisa berubah menjadi tersangka.”
“Sudah kutegaskan, bukan saya atau tunangan saya. Saya bisa mengatakan kalau pelakunya bisa saja orang-orang terdekat dari Arya Liupani.”
Zayyan sudah merasa lelah, dia tidak ingin berlama-lama di kantor polisi. Media mungkin saat ini sedang heboh. Penangkapannya mungkin sudah ada di berita.
Sementara itu di lorong kantor polisi yang lumayan sepi. Cacha sedang berbicara dengan Bimo. Saat penangkapan tadi, gadis itu juga ikut ke kantor polisi. Sedangkan orangtua Zayyan langsung pulang ke rumah karena Latifah ibunya Zayyan tampak tidak sehat.
“Cacha, apa benar kemarin itu lu berdua di hotel bersama Zayyan?” tanya Bimo. Tatapannya begitu sedih sekaligus kecewa.
Cacha tidak langsung menjawab. Dia benar-benar bingung. Karena tidak tahu apakah dia harus jujur atau tidak pada Bimo. Kalau dia mengatakan bahwa dia mengikuti rencana Zayyan untuk pura-pura menjadi pasangan kekasih dan menghabiskan malam bersama Bimo pasti akan melaporkannya pada ibu. Tapi, kalau dia jujur apa adanya. Lantas Apa yang akan terjadi pada Zayyan?
“Cha! Jawab gue! Jadi cewek yang bersama Zayyan di hotel itu lu?” tanya Bimo dengan suara tinggi.
Tubuh Cacha jadi gemetar saking gugupnya. Dia benar-bingung sekaligus takut kalau jawaban dia akan mempengaruhi nasibnya ke depan. Bagaimana kalau memang benar kata Zayyan, mereka berdua ke hotel memang untuk menyelamatkan mereka berdua tetapi akan berimbas pada kelangsungan hubungannya dengan ibunya. Ibunya pasti akan membunuhnya karena telah berzina.
“Cha! Jangan diem, lu harus jawab dengan jujur, lu gak ke hotel kan sama Zayyan?” tanya Bimo dengan suara yang tercekat.
“Ya, gue sama Zayyan ke hotel. Waktu itu gue gak pulang karena gue sama Zayyan di hotel.” Akhirnya Cacha memilih untuk ikut dalam permainan Zayyan. Entah kenapa dia menjadi lebih cemas dengan nasib Zayya daripada nasibnya sendiri nanti di rumah.
Bimo tampak shock mendengar jawaban Cacha. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kalau dia tidak percaya. Cacha bisa melihat reaksi Bimo yang kecewa mendalam. Bimo memang sangat dekat dengannya. Mereka seperti bersaudara. Cacha memahami perasaaan Bimo jika mengetahui kalau dirinya sudah melanggar batas norma.
“Bilang sama gue kalau itu bohong Cha! Gue tahu lu baru ketemu Zayyan aja sehari. Mana bisa kamu pergi ke hotel!”
“Zayyan itu benar. Gue dan Zayyan memang bermalam di hotel.”
“Jadi kalian berdua udah tidur berdua?”
Cacha kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Bimo. Dia tidak tahu jika masalahnya menjadi rumit.
“Sebelumnya lu marah karena dibayar 500 ribu sama dia. Apa lu sengaja untuk dibayar ke hotel?” tanya Bimo cukup marah.
“Sayang!”
Cacha dan Bimo menoleh kearah suara. Zayyan tampak berdiri dengan tatapan tajam. Sepertinya dia sudah lama mendengarkan percakapan mereka.
Wajah Cacha merah padam karena sebelumnya Bimo sudah menuduhnya menjadi w************n. Belum lagi kedatangan Zayyan di depannya membuat suasananya menjadi lebih mencekam.
“Apa?” Bimo terkejut karena Zayyan memanggilnya dengan kata sayang.
“Ada apa ini. Kenapa auranya seperti sedang menonton horor. Sayang ayo kita pulang!” ajak Zayyan sambil menarik tangan Cacha tanpa melihat reaksi Bimo yang sangat terkejut.
“Pak Zayyan, apa hubungan Anda dengan Cacha. Bukankah kalian baru bertemu kemarin. Kenapa Anda memperlakukan Cacha seperti wanitamu?” tanya Bimo dengan penuh penekanan.
“Cacha kekasihku dan kita akan bertunangan.”
“Omong kosong apa ini? Anda pasti sedang memanfaatkan Cacha. Aku masih ingat Anda membayarnya untuk menyelamatkan diri dari kejaran preman. Sebenarnya orang seperti apa Anda?” tanya Bimo sambil menahan Cacha untuk tidak pergi bersama Zayyan.
Cacha tidak bisa berkata-kata karena kebingungan. Entah bagaimana dia menghadapi situasi pelik seperti ini. Zayyan kemudian mengenggam lebih erat tangan Cacha. Sementara Bimo menahan tangan Cacha yang lain.