Dimarahi Ibunya Cacha

1120 Kata
Cacha terpaksa melepas kedua tangan pria itu sambil berteriak frustasi. Dia benar-benar kesal karena kedua tangannya menjadi sakit karena ditarik dua pria itu. “Please jangan buat keributan di sini! Aku mau pulang,” ucap Cacha sambil berlalu meninggalkan kedua pria yang terus saling menatap dengan tatapan bermusuhan. “Gue anterin lu pulang,” jawab Bimo. “Hey Bung! Cacha itu cewek saya. Jadi saya yang akan mengantarkannya pulang!” ucap Zayyan dengan tatapan tidak mau kalah. Bimo memandang Zayyan dengan penuh rasa curiga. “Aku bisa pulang sendiri dengan taksi,” jawab Cacha tanpa mengindahkan Zayyan. Bimo terlihat tidak terima dengan sikap Zayyan dan Cacha yang menurutnya sangat aneh. Bimo kemudian mengejar Cacha, tetapi Zayyan yang lebih dulu merangkul Cacha. Melihat itu Bimo menjadi tidak berkutik. Cacha terlihat risih karena Zayyan merangkul pundaknya dengan begitu intim. “Sayang jangan begitu, Apa kamu masih marah karena sudah membuatmu repot ikut ke kantor polisi?” tanya Zayyan dengan menunjukkan wajah bersalahnya. Cacha bingung dengan sikap Zayyan yang berlebihan padanya di depan Bimo. Saat ini Zayyan memang menyetirnya untuk bermain drama yang ia tentukan. Cacha menatap wajah Bimo yang terlihat tertekan melihat posisinya bersama Zayyan. Cacha merasa bersalah karena sudah menyembunyikan sebuah rahasia padanya. “Baiklah!” jawabnya sambil menatap wajah Bimo dengan tatapan tidak enak. Cacha kemudian mengikuti langkah Zayyan keluar kantor polisi. Ternyta di depan kantor polisi sudah ada Sandy menunggunya. Tanpa banyak bicara Cacha masuk ke dalam mobil. Berusaha untuk tetap tenang meski hatinya saat ini sedang gaduh. Entah apa yang terjadi kedepannya. Setelah beritanya dengan Zayyan muncul ke publik, sudah dipastikan kehidupannya akan lebih runyam. Belum lagi berhubungan dengan kasus Arya Liupani. "Sandy apa kamu sudah siapkan apa yang aku minta?" tanya Zayyan. "Sudah Pak. Ada di koper dalam bagasi." "Ok! Setelah ini Arya tidak mungkin tinggal diam. Kita harus segera buat rencana selanjutnya." "Zayyan! Sebenarnya kamu ini benar-benar penjahatnya atau bukan sih?" tanya Cacha yang semakin curiga dengan Zayyan. Dia belum percaya seratus persen padanya. Zayyan tidak menjawab. Dia hanya menoleh dan menatap wajah Cacha dengan penuh misteri. Ditatap seperti itu Cacha menjadi salah tingkah. Dia kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Tidak seperti di depan orang lain, Zayyan berubah kembali menjadi hening. Dia enggan dan terlihat malas bicara. Sisa perjalanan menuju rumah Cacha, Zayyan tidak banyak bicara. Dia hanya diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Sandy juga terlihat tenang mengemudi mobil. Setelah berhenti di depan rumah. Tangan Cacha dijegal Zayyan sebelum dia turun. “Yang harus kamu lakukan adalah hanya percaya padaku!” Lagi-lagi Zayyan mengucapkan kalimat yang sebenarnya sangat Cacha benci. Kenapa dia harus menurut sama orang yang baru ia kenal. “Kalau kamu mau aku percaya. Jujur padaku apa benar kamu bukan pelakunya?” tanya Cacha dengan sorot mata tajam. Zayyan tersenyum pahit. Dia kemudian melepaskan tangannya. “Apa kamu takut kalau aku pelakunya?” tanya Zayyan. “Tentu saja. Kamu sudah merencanakan ini dengan matang. Pergi ke hotel dan berpura-pura menjadikan aku sebagai kekasihmu. Apalagi kalau semua itu bukan untuk menutupi semua kebusukan dan kejahatanmu,” pangkas Cacha. “Apa kamu tidak sadar juga. Selain aku, kamu juga bisa masuk ke dalam daftar orang yang dicurigai. Kamu punya masalah dengan Arya Liupani. Apalagi kamu dipecat gara-gara dia. Itu sudah bisa dijadikan bukti kuat kalau kamu punya motif balas dendam padanya.” Cacha merapatkan kedua bibirnya. Semua yang dikatakan Zayyan memang benar. Dia bisa saja menjadi salah satu orang yang dicurigai. “Dengarkan aku! Sekarang kamu hanya tinggal ikuti perintahku. Dan semuanya akan aman kalau kamu ingin selamat!” “Lantas, apa rencanamu?” “Kita sudah punya alibi untuk menyelamatkan kita berdua dari polisi. Andai kita tidak punya alibi mungkin aku atau kamu yang akan dipenjara. Kita punya banyak waktu untuk mengungkap kebenarannya. Kalau kita ditangkap dan dipenjara. Kita tidak bisa mengungkapkan kebenarannya.” “Tapi bagaimana dengan Bimo. Dia tahu kalau kita bukan pasangan kekasih. Kita baru saja bertemu. Dia pasti lebih curiga.” “Kamu tenang saja. Aku akan menanganinya,” jawab Zayyan. “Benarkah?” Cacha sedikit lega mendengarnya. Dia pun mengangguk dan turun dari mobil. Tak disangka Zayyan pun ikut turun. Cacha jadi gelagapan karena saat itulah ibunya muncul dari dalam rumah. “Cacha!”panggil ibunya dengan begitu keras. Dia pasti marah karena dia lagi-lagi meninggalkan rumah tanpa izin. “Selamat malam Tante!” sapa Zayyan. Ibunya terkejut karena melihat anak gadisnya diantarkan pulang oleh seseorang yang tidak biasa. Apalagi ibunya melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya. “Siapa kamu Nak?” tanya ibu Cacha yang kebingungan karena melihat seorang laki-laki muda tampan dan gagah berdiri di depannya. “Saya Zayyan Dewanta. Saya pacarnya Cacha.” “Apa?! Pacar?” Ibunya shock mendengar pengakuan Zayyan yang tiba-tiba/ “Maaf ya Bu. Tadi Zayyyan tidak minta izin dulu untuk bawa Cacha.” Cacha melongo karena Zayyan begitu manis dan sopan di depan ibunya. Sungguh sangat bertolak belakang dengan sikap asli Zayyan padanya. “Tunggu dulu. Kenapa Ibu baru tahu kalau Cacha punya pacar?” selidik ibunya kemudian langsung menatap tajam pada Cacha. “Eh, eng — sebenarnya Cacha —” “Cacha tidak pernah cerita ya tentang saya Bu?” tanya Zayyan dengan tatapan kecewa dan sedih. Demi apa Cacha sebal karena akting Zayyan yang sempurna di depan ibunya. Cacha meyakinkan dirinya agar dia lebih waspada pada Zayyan. Pria itu sungguh berbahaya dan pintar bersandiwara. “Cacha! Dasar anak ini!” Tiba-tiba saja ibunya memukul bahu Cacha yang sedang bengong. Zayyan sedikit terkejut karena Cacha tiba-tiba saja dipukul ibunya di depan matanya. “Maaf Bu!” Cacha meringis sambil memegang bahunya yang sakit. “Maaf Bu. Mungkin Cacha malu menceritakannya pada Ibu. Karena kita memang pacaran diam-diam.” “Tapi kalian berdua tidak melakukan hal diluar batas kan?” tanya ibunya menatap horor pada Zayyan. Zayyan terlihat gugup dan panik. Reaksinya menjelaskan kalau mereka berdua memang sudah melakukan hal diluar batas. Melihat Zayyan yang mencurigakan tentu saja membuat amarah ibunya meledak. “Dasar lelaki b******n!” Ibunya Cacha kemudian mengangkat tangannya bersiap untuk menampar wajah Zayyan. Tetapi kemudian tangan ibunya berhenti ketika Cacha menarik tangan ibunya. “Ibu, kita tidak melakukan itu. Jadi jangan tampar anak orang!” ucap Cacha membuat Zayyan menarik napas lega karena sempat tegang saat ibunya hendak menampar wajahnya. “Cacha, kamu tahu kan apa yang sering ibu katakan padamu! Sebelum kamu menikah jangan pernah sampai kamu serahkan kegadisanmu selain suamimu!” Wajah Cacha tampak merah padam karena malu di depan Zayyan. “Bu! Tenang dulu! Ayo masuk dulu! Kalau ibu teriak-teriak diluar kayak gini kan malu sama tetangga!” ujar Cacha kemudian mengajak ibunya masuk. “Kamu juga masuk!” titah ibunya sambil menunjuk wajah Zayyan. Zayyan tersenyum pahit dan menelan ludah. Dia tidak mengira kalau ibunya Cacha akan bersikap keras padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN