Zayyan berusaha untuk tetap santai dan tenang di depan ibunya Cacha. Sudah menjadi konsekuensinya saat ini kalau dia harus berhadapan dengannya. Bukankah itu juga bagian dari usahanya.
“Jelaskan pada Ibu yang sebenarnya. Kenapa kalian berdua sampai menginap di hotel?” Ibunya Cacha menatap tajam pada Zayyan dan Cacha bergantian.
Informasi yang Zayyan dapat dari Sandy– Cacha adalah anak yatim dan tinggal bersama ibunya. Jadi, ibunya adalah kepala keluarrga sekaligus yang bertanggungjawab atas Cacha. Zayyan memerintahkan Sandy juga untuk mencari tahu orang-orang terdekat Cacha. Dia juga tahu apa hubungan Cacha dengan Bimo, yang rupanya lelaki yang bertemu dengannya di kafe itu adalah seorang polisi.
Semua dilakukan Zayyan agar dia bisa mengatasi beberapa masalah kedepannya yang berkaitan dengan Cacha.
“Saya akan bertanggungjawab penuh atas semuanya Bu.”
Mendengar Zayyan yang berkata demikian tentu saja membuat reaksi berbeda. Ibunya terlihat pucat pasi dan hampir menangis. Tatapannya begitu kecewa pada Cacha.
“Ibu, dengarkan Cacha dulu! Cacha tidak berbuat kotor. Cacha masih suci. Cacha tidurnya terpisah. Zayyan tidur di kamar lain kok Bu.”
Ibunya Cacha masih shock dan tidak bisa percaya dengan semua pengakuan Cacha. Dia menahan sakit di dadanya sambil menahan airmatanya supaya tidak keluar. Zayyan yang melihat pemandangan itu tentu saja tidak mengira jika sesuatu yang diperdebatkan kedua orang itu begitu penting.
“Zayyan! Kamu ngomong dong! Katakan kalau kita memang tidak ngapa-ngapain!” desak Cacha sambil menepuk pungung Zayyan beberapa kali. Sepertinya Cacha panik karena takut ibunya semakin salah paham.
“Itu benar kok Bu. Kita memang tidak berbuat apa-apa. Kita memang hanya menginap saja di sana.”
“Kenapa juga kalian ke hotel?” tanya ibunya heran.
“Begini Bu. Ada sesuatu yang harus kami hindari. Tolong masalah ini Ibu mempercayai kami. Aku janji aku akan menjaga Cacha.”
“Apa kamu berniat untuk menikahi anak Ibu?” tanya ibunya Cacha membuat Zayyan kehilangan suaranya. Sebuah pertanyaan yang sulit ia jawab.
“Ibu, mana mungkin membicarakan pernikahan secepat ini,” ucap Cacha menimpal. Dia terlihat misuh-misuh.
“Kamu cuma mempermainkan anakku saja?” tanya ibunya dengan menampilkan wajah kesalnya.
“Bukan begitu Bu. Begini –” Zayyan menggaruk-garuk kepalanya. Dia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa pada ibunya Cacha.
“Kami tidak akan menikah Bu. Aku sebenarnya anak buahnya. Aku bekerja di perusahaan TVnya. Jadi sebenarnya hubungan kami memang hanya sebatas atasan dan bawahan,” jawab Cacha membuat Zayyan terkejut karena pengakuannya itu akan merusak semua rencananya.
“Apa?” Ibunya Cacha malah tambah kaget.
“Bu, dia itu naksir Cacha. Cuma Cacha gak mau. Jadi – dia ngaku sama semua orang kalau Cacha ini pacarnya. Tapi Bu – cuma ibu yang tahu kebenarannya. Jadi anggap saja begitu,” tambah Cacha.
Zayyan sampai melongo karena tidak mengira kalau jawaban Cacha di luar prediksi.
“Jadi begitu? Kamu menyukai Cacha?” tanya ibunya mulai sedikit terpengaruh.
Zayyan tersenyum kaku sambil menatap Cacha dengan sinis. Dia mungkin tidak mengira kalau Cacha bisa mengatakan kebohongan itu. Terpaksa ia mengangguk mengiyakan.
Ibunya menghela napas dengan kasar. Setelah itu dia menatap Zayyan dengan tatapan penuh kecurigaan.
“Apa kamu berniat buruk pada putriku sampai kamu membawanya ke hotel?” tanya ibunya siap memberikan pukulan. Zayyan sempat panik karena melihat ibunya Cacha bersiap untuk memukulnya. Ia segera berlindung di balik tubuh Cacha untuk menghindarinya.
“Sebaiknya kamu jujur, kamu pacarnya atau bosnya?” tanya ibunya masih mengepalkan tangannya bersiap untuk menghajar Zayyan.
Sementara pria tampan itu hanya berdiri berlindung di balik tubuh Cacha. Apa ibunya Cacha tidak tahu siapa dirinya. Kalau dia tahu dia adalah Zayyan Dewanta, Presdir Brave Tv yang juga putra Withan mantan menteri, mungkin dia tidak akan seberani ini.
“Saya benar pacarnya Bu. Saya tidak bohong. Cacha hanya malu mengakuinya,” ucap Zayyan sambil mencubit lengan Cacha agar dia mau membantunya.
“Ibu, pokoknya Ibu harus percaya sama Cacha! Kita di hotel cuma tidur aja. Dan —” Cacha terlihat sedang berusaha untuk mencari alasan lain.
“Kita hanya ngobrolin kerjaan itu aja.” Zayyan berusaha melengkapi jawaban Cacha dengan memasang wajah polos.
“Jadi, alasan HP kamu hilang itu ada kaitannya kamu ke hotel?” tanya ibunya masih saja belum puas dengan jawaban Zayyan dan Cacha.
“Ibu, mungkin ini kedengarannya terlalu mendadak dan tidak tepat waktu. Tapi saya memang berniat serius sama Cacha! Kita baru saja bertemu dengan kedua orangtua saya!”
“Apa?” Ibunya Cacha masih shock.
“I-iya Bu.” Cacha sedikit harap-harap cemas karena melihat reaksi ibunya yang seperti kehilangan banyak darah. Dia kemudian melotot pada Zayyan karena mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia ucapkan. Cacha marah karena memang Zayyan hanya mengada-ada mengatakan punya niat serius pada Cacha
“Tunggu dulu! Kenapa bisa? Cha?” Ibunya menatap tidak percaya pada Cacha.
“Bu… Ibu tenang dulu. Cacha bisa jelaskan ini dengan pelan-pelan. Sekarang biarkan dia pulang dulu!” Cacha membuju ibunya agar membarkan Zayyan pulang terlebih dahulu.
“Kamu bilang kamu kerja di TV. Kamu bosnya kan?” tanya ibunya lagi tanpa menurunkan ketajaman tatapannya.
Zayyan mengangguk dengan wajah yang menahan panik karena masih takut dipukul seorang ibu. Bukan karena dia tidak bisa melawan. Tetapi rasanya melawan adalah ide yang buruk. Apalagi dia adalah seorang ibu. Dia tidak mau harus adu kekuatan fisik dengan seorang ibu.
“Baiklah kalau begitu. Kamu boleh pulang! Tapi awas– Ibu akan menghubungi dan menemui kamu jika terjadi sesuatu pada Cacha!” ancam ibunya Cacha pada Zayyan.
Zayyan terlihat ragu untuk pergi. Dia menatap Cacha sambil menggaruk rambutnya. Cacha kemudian mengibaskan tangannya agar Zayyan segera pergi dari rumahnya.
“Saya permisi pulang dulu Bu!” ucap Zayyan. Sebelum dia pergi dengan gerakan yang kaku dia pamit sambil mencium tangan ibunya Cacha. Sambil menatap wajah Cacha yang cemberut akhirnya Zayyan meninggalkan rumah Cacha.
Sampai di dalam mobil, Zayyan meminta Sandy untuk segera pergi. Dia menarik napas panjang sambil merebahkan setengah badannya ke kursi. Melihat Zayyan seperti kelelahan, Sandy pun mau tidak mau harus menanyakan kondisi bosnya itu.
“Are you okay Pak?” tanya Sandy sambil tetap fokus menyetir.
“Menurutmu bagaimana keadaanku. Aku benar-benar lelah. Urusan Arya benar-benar membuatku kesabaranku habis.”
“Tenang Pak. Rencana Bapak akan berhasil. Kali ini Arya akan kena getahnya.”
“Oh ya! Bagaimana dengan Ayah? Apa dia tidak curiga?”
“Saya sudah bergerak sesuai dengan perintah Bapak. Semua sudah disiapkan dalam koper. Tapi apa Bapak yakin kalau Kamila akan berpihak pada Bapak?” tanya Sandy kurang yakin dengan rencana Zayyan buat.
“Entahlah! Setidaknya kita punya sesuatu agar dia bisa berpihak pada kita,” ucap Zayyan sambil menutup matanya. Dia ingin tidur sejenak setelah seharian ini dia lewati dengan berbagai kejadian yang melelahkan. Sementara itu Sandy tetap menyetir menuju arah pulang.