Tidak Bisa Tidur

1033 Kata
Cacha merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Setelah mengalami beberapa kejadian melelahkan hari ini, dia ingin segera mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Gadis itu mencoba memejamkan matanya bersiap untuk terbang ke alam mimpi. Tapi seketika dia menjadi terbayang wajah menyebalkan itu. Zayyan Dewanta. Pria itu sudah banyak merepotkannya. Hari ini dia sudah membuat dirinya harus berbohong pada ibunya. Terpaksa dia harus mengaku pada ibunya kalau dia memang menjalin hubungan rahasia dengan Zayyan. Ibunya terlihat percaya kalau Zayyan mengejarnya dan sangat menyukainya sampai-sampai membawanya bertemu dengan orangtua Zayyan. Tentu saja bagian penolakan orangtuanya Zayyan tidak ia ceritakan. Toh hubungan sandiwara ini mungkin tidak ada berlangsung lama. "Apa karena dia anak orang kaya jadi dia seenak jidatnya saja bikin drama!" sungut Cacha kesal. Dia sama sekali benci dengan orang yang suka berbohong. Karena dia sudah bertindak sewenang-wenang, dirinya harus menjadi korban. Baginya dia paling pantang membohongi orang tua. Tapi bagi Zayyan, dia sangat mudah membuat kebohongan. Sekarang Cacha memiliki penilaian buruk untuknya. Ternyata penampilan dan wajah tidak menjamin akhlak dan perilakunya baik juga. Malam sudah larut, Cacha menjadi kepikiran dengan efek apa yang sudah dilakukan Zayyan. Cacha kebayang kalau Bimo nanti akan menceritakan tentang kasus pembunuhan itu dengan Zayyan dan juga dengan dirinya pada ibunya. Cacha menepuk jidatnya karena sesuatu yang penting sudah ia lewatkan. Segera ia mengambil ponselnya. Dia mengingat-ingat nomor Bimo karena ponselnya yang masih baru. Dia harus segera menceritakan kebenarannya pada Bimo. Dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Bimo. Cacha langsung menelepon nomor Bimo. "Bim, ini gue!" Cacha langsung mengenalkan dirinya begitu sambungan teleponnya diangkat Bimo. "Cha! Dimana lu? Ini nomor siapa?" "Ini nomor gue yang baru. Gue di rumah." "Syukurlah, jadi orang itu mengantarkanmu ke rumah dengan selamat." Suara Bimo terdengar sangat datar. "Hemm. Bim, gue harus cerita sama lu." "Gue lagi investigasi dulu di rumah korban pembunuhan kemarin. Nanti kita ketemu dan bicara lagi." Entah kenapa Cacha merasa ada yang aneh dengan nada bicara Bimo. Cacha merasa ada hawa dingin yang beku dari ucapan Bimo. "Ok." Sebelum Cacha menutup sambungan teleponnya. Sambungannya terlebih dahulu ditutup oleh Bimo. Tidak biasanya seperti itu. "Bimo pasti marah sama gue. Dia pasti kesel karena sudah bikin dia khawatir. Apalagi gue nyaris dicurigai polisi juga." Cacha menjadi tidak bisa tidur karena memikirkan nasibnya yang sekarang runyam karena kasus pembunuhan dan penyerangan Arya Liupani. Apalagi semua orang tahu kalau dia dan Arya memiliki rekam jejak saling adu mulut. Tidak bisa tidur, akhirnya Cacha membuka laptopnya dan mencari berita yang paling banyak dicari. Alangkah terkejutnya ketika pencarian berita tentang Arya dan Zayyan berada di urutan paling atas. Berita Arya yang mengaku kalau dia diserang Zayyan karena permasalahan perempuan berinisial F. Cacha lebih terkejut karena perempuan itu adalah korban pembunuhan itu. Belum sempat dia mencari tahu lebih banyak lagi tiba-tiba saja semua artikel itu hilang di depan mata. Cacha bingung dan merasa heran karena artikel itu terhapus, bahkan tidak ada artikel yang membahas pernyataan Arya yang menuduh Zayyan sebagai pelakunya. Seolah ada sebuah kekuatan sihir yang baru saja melenyapkannya. Padahal Cacha sedang membacanya jelas. Yang ada sekarang adalah berita Zayyan yang memiliki seorang wanita yang dikencani. Foto-foto Zayyan beredar dengan menyebutkan nama hotel yang diberitakan sebagai tempat bertemunya dengan wanita itu. Cacha hampir jatuh pingsan karena dia melihat foto-fotonya yang diblur berseliweran di sana. Cacha panik ketika melihat rating pencarian berita Zayyan dengan seorang wanita kini berada di nomor 1. "Kenapa bisa begini?" Cacha menjadi lebih gelisah. Meskipun wajahnya diblur tetap saja Cacha merasakannya tidak tenang. "Ini pasti ulahnya. Seorang Zayyan bisa menghapus semua berita dalam negeri dan membuat isu peralihan seperti ini. Dia benar-benar pandai menggunakan uang," caci Cacha menyadari kalau Zayyan lah yang menghapus semua artikel berita sebelumnya dengan koneksi dan kekuasaannya. Cacha menutup laptopnya dengan penuh kekesalan. Dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zayyan. Bagusnya panggilan dia langsung diangkat begitu nada sambung pertama. "Apa?" tanya Zayyan dengan nada suara yang ketus. "Kamu yang buat artikel kasus Arya hilang di media?" tanya Cacha langsung to the point. "Kalau iya kenapa?" tanya Zayyan. "Tapi kenapa kamu gak bisa ilangin berita tentang kita di hotel?" tanya Cacha. "Tidak bisa. Aku memang sengaja." "Kamu sengaja biar aku viral dan nanti aku jadi bahan gibahan orang?" tanya Cacha misuh-misuh. "Kan wajahmu tidak diekspos. Jadi semua orang tidak akan pernah tahu kalau itu adalah kamu." "Tapi orang-orang yang kenal sama aku dan dekat denganku pasti bisa mengenali," sahut Cacha mengajak berdebat. "Memang kenapa kalau ketahuan. Toh aku juga tidak akan lepas tangan begitu saja. Aku sudah perhitungkan semua konsekuensinya. Jika sampai ketahuan aku akan tambahkan uang kompensasinya," jawab Zayyan tanpa beban. "Haha!" Cacha tertawa pendek dengan nada sarkas. Dia merasa jengkel karena sikap Zayyan yang merasa uang bisa mengatasi semua masalah. "Aku jamin kamu tidak akan rugi," ujar Zayyan. "Tentu saja aku rugi banyak. Aku berdosa pada ibuku dan juga aku rugi karena kalau sampai aku ketahuan menjadi kekasih palsu, imejku sebagai wanita baik-baik bakal tercoreng." "Ckckck, memangnya kamu sebaik apa. Kamu sama saja dengan wanita lain. Bukankah dengan menjadi kekasihku imejmu menjadi tambah bagus." "Dengar ya Tuan Zayyan Dewanta yang terhormat, tanpa menjadi kekasih pura-pura saja imejku sudah bagus." "Benarkah? Kalau begitu aku tidak salah memilih." Tampaknya Zayyan sangat senang mempermainkan hari orang. Tanpa beban dia mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak pantas dengan sifatnya. "Apa kamu meneleponku hanya untuk itu?" tanya Zayyan ketus. Cacha jadi tidak bisa berkata-kata lagi karena sikap angkuh Zayyan. "Aku cape, sudah dulu ya." Tanpa sempat membalas perkataan Zayyan, sambungan telepon sudah ditutup. Cacha teriak saking kesalnya. Sikap Zayyan memang sangat menyebalkan. Sungguh tidak beruntung wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Sikapnya yang ketus, dingin, tidak ada sikap manis-manisnya. Adapun yang sering ia lihat di layar televisi itu hanyalah palsu. Cacha menghentak-hentakkan kakinya di atas tempat tidur untuk meluapkan kekesalannya. Tidak bisakah dia berhenti saja dan membatalkan semua perjanjian mereka. Tring. Sebuah notifikasi chat muncul. Cacha kemudian meraih ponsel dan memeriksa pesan chat tersebut. [Besok jam 8 kamu sudah siap, mulai besok kamu sudah harus bekerja] Cacha menarik napas dalam-dalam karena rupanya urusanya dengan Zayyan akan bertambah. Dia memang butuh pekerjaan untuk menopang kehidupannya ke depan. Tetapi, kalau harus ditambah setiap hari bertemu dengan Zayyan rasanya Cacha tidak sanggup. Malam itu Cacha gelisah dan tidak bisa tidur karena terus kepikiran bagaimana dia bisa melewati sandiwara itu dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN