Bab 8 Kembali bersama

1550 Kata
"Sudah sudah, gak usah di bahas lagi. Yang penting Abel sekarang sudah gak kenapa napa. Udah malam kalian langsung tidur saja. Nenek juga sudah mengantuk." Potong Aminah menyela. Aminah menghentikan percakapan kedua cucu nya seperti tak suka mendengar pembahasan kedua nya. Setelah Aminah keluar Abelia kembali bertanya. Namun kali ini dengan intonasi yang sangat pelan. "Terus setelah angkat kakak masuk, pria itu kemana Nora?" Abelia berbisik sangat pelan karena Ia takut Aminah mendengar nya. "Gak tahu kak, pas aku mau ngucapin makasih, eh tahu tahu udah ngilang aja. Kaya debu aja ketiup angin langsung lenyap. Padahal baru aja ada di belakang Nora. Pas balik badan udah gak ada orang nya." Jawab Nora apa ada nya. Abelia merasa janggal, karena Nora bercerita begitu ringan tanpa menunjukkan kengerian seperti reaksi orang yang melihat kejanggalan pada umum nya. Abelia sibuk dengan pemikiran nya sendiri dan tak lama terdengar suara dengkuran halus dari mulut Nora. Gadis itu begitu mudah terlelap padahal baru saja berbicara dengan nya. "Apa itu kamu Rean?" Wussh. Suara hembusan angin serasa menyapu tengkuk nya. Membuat Abelia memutuskan untuk memejamkan kedua mata nya. Terlalu lama berpikir tentang sesuatu yang mustahil terjadi, membuat diri nya kian merasa ngeri sendiri. ************** "Yakin gak mau kakak anter ke sekolah, Nora?" Namun Nora menggeleng cepat sebagai penolakan. "Yakin kak, aku udah biasa jalan sendiri kok. Lagian hujan nya lebat banget tar kakak malah kebasahan pulang pergi jalan kaki." Tolak Nora halus. Gadis itu tampak tetap bersemangat meski hujan sedang menguyur desa mereka. Jarak ke sekolah sejauh 2 kilo meter. Cukup jauh bagi Nora yang hanya berjalan kaki untuk sampai ke sekolah nya. "Ya sudah, tapi kamu hati hati ya. Payungnya pas kan di badan biar gak kena cipratan air hujan. Sepatu kamu tenteng nya tinggian jadi gak kemasukan air." Pesan Abelia mewanti-wanti. Nora hanya mengangguk angguk layak nya seorang anak yang sedang di wanti wanti oleh ibu nya. "Nek! Nora berangkat dulu ya!" Seru Nora dari teras. Suara deras nya hujan membuat pendengaran sedikit terhalang. Aminah tergopoh membawa kotak bekal yang isi nya cukup istimewa hari ini. Karena di dalam nya ada lauk rendang, acar, juga daun singkong. Lauk yang mereka dapat dari hasil rewang di rumah pak kades kemarin. "Tar kalau kakak pulang dari sini, kotak bekal nya tinggalin buat Nora ya kak?" Ujar remaja itu nyengir lebar. "Kamu ini, udah sana. Nanti telat baru kapok." Tegur sang nenek. "Ya buat Nora saja. Jaket nya juga, boleh deh." Balas Abelia terlihat menilik ukuran jaket yang sangat kebetulan pas di tubuh Nora yang sama mungil nya dengan diri nya. "Jaket nya bagus nih, Bel. Kita beli yuk. Satu buat kamu satu buat aku. Couple_an kita." "Gak norak gitu, kaya anak remaja alay aja jadi nya." "Tapi pas loh sama badan kamu yang petit kaya burung sawah." "Heh! Enak saja! Aku mau warna biru ini saja, warna nya gak norak. Kayak kamu!" "Abel.." "Hah? Ya nek? Maaf, Abel melamun lagi." Aminah tersenyum simpul. Senyum teduh seorang wanita renta yang seharus nya sudah tak lagi bertarung dengan keras nya kehidupan. Berbeda dengan Aminah. Nora adalah tanggung jawab terakhir yang yang di tinggalkan oleh putra bungsu nya. Nora menjadi yatim piatu di usia yang baru menginjak 5 tahun. Dan Aminah harus bekerja keras agar cucu nya tetap dapat mengenyam pendidikan, di tengah marak nya perjodohan karena tuntutan ekonomi. "Masuk yuk, bantu nenek kupas ubi. Hari ini kita sarapan ubi saja, karena siang nanti kita kembali ke rumah pak kades lagi." Abelia mengangguk saja. Wanita itu sama sekali tak protes atas sarapan yang jauh dari kata mewah. Hanya ubi rebus, yang di makan dengan lauk istimewa. Rendang juga sambal goreng paru. **************** Abraham baru saja mendapatkan pesan dari Alesha. Wanita itu meminta Abraham untuk menjemput nya di kantor nya. "Halo sayang, maaf aku mungkin tidak bisa menjemput mu. Tidak masalah, bukan? Aku ada janji temu dengan pak Kardi yang tidak bisa aku undur karena sudah di jadwalkan bertepatan dengan jam makan siang." Alesha mengesah kecewa, namun ia tak dapat memaksa Abraham karena semua itu juga untuk nasa depan nya kelak. "Baiklah." Ujar Alesha pasrah. Kecewa sesungguh nya tetapi apa daya bila menyangkut pekerjaan, Abraham cukup sulit untuk di ajak bernegosiasi. "Terimakasih sayang. I love you sweet bee," ucap Abraham lega. Memiliki kekasih yang pengertian membuat nya merasa beruntung. "Kabarin aku kalau sudah selesai," pinta Alesha mengingatkan dengan nada manja. "Hmmm...kamu orang pertama yang akan aku hubungi setelah semua pekerjaan aku selesai." Janji Abraham. Selepas menerima panggilan dari sang kekasih, Alesha tampak merenung di kursi nya. Banyak hal yang mengusik pikiran nya belakangan ini, termasuk mimpi mimpi tentang Abelia yang sangat mengusik ketenangan jiwa nya. "Seharus nya semua tidak seperti ini, Bel. Andai saja kamu mau bekerja sama dengan baik dan tidak berlagak sok suci." Gumam Alesha mengenang dengan ekspresi wajah bak seorang psikopat berdarah dingin. Abelia adalah sahabat nya. Wanita paling naif menurut penilaian Alesha. Bahkan sampai ajal menjemput nya, Abelia tetap teguh pada jalan yang lurus tanpa peduli pada kengerian alam kematian yang menakutkan. Flashback Abraham terbangun di sebuah kamar yang jelas bukan kamar nya. Dari ukuran ranjang, warna sprei, interior beserta isi nya, Abraham langsung tahu bila diri nya tak sedang terbaring di kamar milik nya. Saat berusaha mengumpulkan kepingin ingatan, gerakan halus di samping nya membuat Abraham langsung menoleh. Betapa kaget nya pria itu saat melihat sosok yang ada di samping nya. "Alesha?!" Pekik Abraham terkejut. Bergegas pria itu bangun dari tempat tidur namun kepala nya tiba tiba merasakan sakit yang amat sangat. Abraham berusaha menahan namun kepala nya seperti hendak terbelah. Sakit nya nyaris membuat Abraham kehilangan kesadaran nya. Alesha berjalan tanpa menggunakan apapun di tubuh nya. Dengan penuh percaya diri Alesha membantu Abraham berdiri menuju ranjang. "Kamu sedang sakit Abraham. Menurut lah padaku kali ini saja. Semua demi kebaikanmu," ujar Alesha seraya menuangkan air ke dalam gelas yang akan ia berikan kepada Abraham. "Minum ini agar kamu merasa lebih baik," ucap Alesha memberikan sebutir obat yang langsung di arahkan ke mulut Abraham. Tak kuat menahan rasa sakit, Abraham langsung membuka mulut nya tanpa berpikir panjang. Sejenak rasa sakit di kepala nya berangsur membaik. Tubuh Abraham melemah di pelukan Alesha. Kedua nya sama sama tak menggunakan penutup apapun. Alesha dengan penuh kelembutan membelai rambut Abraham sembari memberikan pijatan lembut. "Kamu akan baik baik saja Abraham, kamu hanya perlu menurut padaku. Aku masih sangat mencintaimu sama seperti dulu. Tak ada yang berubah, kecuali kamu yang bersikap dingin padaku tanpa alasan." Bisikan itu bagai mantra yang menyembuhkan bagi Abraham. Kepala nya yang terasa bagai terlindas mobil, kini telah benar benar membaik. Bersamaan dengan perasaan lain yang kini membuat jantung Abraham berdebar kencang. Debaran yang berasal dari hati Abraham yang kembali berbunga ketika menatap Alesha. Perlahan tapi pasti, Abraham bagai tersihir oleh bibir tipis mantan kekasih nya itu. Entah siapa yang memulai, namun kini bibir kedua nya telah memulai silahturahmi tanpa di sadari. "Abraham...jangan..ahhh..." penolakan yang bagi Abraham seperti sebuah permintaan untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar belain. Tubuh Alesha bergetar hebat saat gelombang datang menerjang. Abraham menghentikan gerakan lincah jari nya untuk memberi jeda. Nafas Alesha tersengal sengal saat mendapatkan apa yang ia impikan dari Abraham selama mereka masih berpacaran. Abraham tak pernah mau menyentuh nya lebih dari sekedar kecupan singkat. Tetapi kini, ia akan mendapatkan semua yang dahulu tak bisa ia raih berkat kuasa magis sang kakek. "Bagaimana rasa nya, Alesha? seperti nya sangat nikmat, sampai sampai tubuhmu melenting hebat." Bisik Abraham setelah meninggalkan bercak keunguan di da*da kiri Alesha. Wajah Alesha merah padam. Abraham yang kaku kini berbicara frontal. Rasa nya tentu saja aneh. "Biarkan aku memberikan nikmat yang sama untukmu, Abraham." Tawar Alesha berusaha mengalihkan rasa malu nya. Namun Abraham malah beranjak dari sisi Alesha kemudian berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh pada nya. Alesha mulai was was. Wanita itu khawatir apa yang membuat Abraham berubah secepat hembusan angin, kini normal kembali. "Aku harap aku bisa mempercayai mu kek," gumam Alesha ketar ketir. Namun kekhawatiran nya terpatahkan. Abraham kembali dengan lilitan handuk di pinggang nya. Memperlihatkan lipatan roti sobek di perut sixpack nya. "Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Aku harus segera ke kantor, pagi ini akan ada rapat para pemegang saham. Mami pasti tak akan mentolerir keterlambatanku." Ujar Abraham sambil memakai kembali pakaian yang semalam ia kenakan saat menghadiri pesta seorang rekan kerja. Alesha tersenyum lega namun wanita itu berusaha menutupi nya. Tanpa rasa sungkan, Alesha menghampiri Abraham dengan tubuh polos. "Biar aku bantu." Abraham membiarkan Alesha memakaikan dasi nya. Kedua tangan Abraham bertengger di pinggang ramping Alesha. Pria itu seperti sedang mengamati lekuk tubuh Alesha dari jarak yang cukup untuk mengenyangkan mata. Alesha sama sekali tak risih. Seolah diri nya sudah terbiasa dalam keadaan seperti ini sebelum nya. "Aku tak tahu apa yang membuat hubungan kita merenggang Alesha. Tetapi melihat keindahan ini, bisakah kita melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu?" pinta Abraham sambil merapikan rambut Alesha yang sedikit berantakan. "Tentu saja aku mau, karena bukan aku yang menciptakan kecanggungan juga perpecahan dalam hubungan kita." Jawan Alesha lugas. Abraham tersenyum tipis lalu mendaratkan kecupan di kening Alesha. Tentu saja tindakan impulsif tersebut membuat hati Alesha berbunga bunga. Rencana nya berhasil, setidak nya kini Abraham yang meminta diri nya untuk kembali. Alesha tenang karena tak lagi memusingkan cara untuk membuat Abraham kembali dalam hidup nya. Flashback end Yuk lah, komentar barang sepatah dua patah kata agar author bersemangat update nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN