Yang belum simpan buku ini di pustaka nya yuk sayang, jangan malu malu. Karena saya gak akan pernah malu terus mengingatkan kalian semua, untuk menyimpan buku receh ini sebagai koleksi heheheee...
"Lihat Minah, cucu angkatmu itu sudah lebih sering ikut acara perkumpulan dengan warga desa. Desas desusnya anak pak kades ingin melamar Abel kalau kamu setuju." Celetuk Parni sambil memperhatikan Abelia yang sedang membantu para wanita mengolah lauk pauk.
"Setuju saja Minah, soal wali gampang kan bisa pakai wali hakim." Sambung Asih ikut menimpali.
"Aku tidak bisa mengiyakan atau menolak nya. Semua tergantung sama Abel nya saja Parmi, Asih." Jawaban singkat yang sangat tidak memuaskan bagi kedua lansia tersebut.
Aminah menatap Abelia yang terlihat sedang membantu para wanita untuk menyiapkan hidangan makan siang. Mereka sedang berkumpul di kediaman pak Abdullah. Sang kepala desa. Besok adalah acara pernikahan putri sulung pak kades tersebut, dan seperti kebiasaan orang orang kampung. Gotong royong merupakan hal yang wajib dan menjadi kebiasaan bagi seluruh warga desa.
"Kamu mulai menarik banyak perhatian para pemuda nak," guman nek Aminah tampak khawatir.
***********
Abelia sedikit terkejut saat seseorang tiba tiba menyodorkan sepiring kue tepat di depan wajah nya.
"Eh? Kang Arman? Makasih kang, padahal gak perlu repot repot loh. Aku nya jadi gak enak ini. Kan bisa ambil sendiri padahal." Ujar Abelia tak enak hati.
Tangan Abelia terulur untuk menyambut pemberian Arman. Tak sopan bila ia menolak nya walaupun nek Minah sudah berpesan agar Abelia berhati hati terhadap kebaikan orang lain. Bukan berburuk sangka, nek Minah hanya tak ingin rasa tidak enak hati Abelia di salah artikan.
"Aku gak repot kok Bel, aku gak tau kamu suka nya kue apa. Jadi nya aku ambil nya random aja. Kamu bisa pilih yang kamu suka nanti aku bisa tambahkan lagi. Aman aja." Balas Arman tak merasa di repotkan sama sekali.
Abelia tersenyum tipis mendengar penuturan tersebut. Tak ingin mengecewakan kebaikan Arman, Abelia mulai mencicipi kue yang menurut nya enak dari aroma nya saja.
"Suka?"
Abelia mengangguk kecil sambil menyantap kue yang masih belum setengah ia makan.
"Kalau suka nanti kamu bisa bungkusin bawa pulang," ujar Arman senang. Abelia menggeleng cepat.
Yang benar saja. Tadi sore pun mereka sudah mendapatkan bagian paling banyak dari warga lain, dan sekarang pun Abelia akan membawa pulang bungkusan jajanan dari tempat hajatan tersebut? Mau di taruh di mana muka nya.
Beruntung tak lama Nora datang menghampiri.
"Aku nyariin kakak loh dari tadi," celetuk gadis itu terlihat menahan kantuk. Mereka kembali karena di undang khusus untuk datang di acara pengajian. Abelia meski memiliki keyakinan yang berbeda, tetap menghormati undangan tersebut tanpa penolakan.
Dan di sinilah diri nya terjebak situasi canggung oleh putra bungsu sang pemilik hajatan.
"Maaf Nora, kakak abis bantu bantu hidangkan makanan di meja prasmanan terus duduk di sini nyari angin."
Abelia beranjak dan menatap Nora dengan tatapan penuh permohonan. Nora seperti mengerti langsung meraih piring kue milik Abelia.
"Wah! Banyak banget kak, Nora suka semua nya loh. Kesukaan Nora semua ini." Ujar remaja tanggung itu berbinar. Arman terlihat tak suka namun ia tak mungkin melarang Nora untuk ikut mencicipi nya.
"Kalau suka nanti akang bungkusin buat di bawa pulang, Nora." Baru saja Nora hendak mengangguk, tatapan tajam Abelia membuatnya urung.
Dengan gelengan kecil Nora menolak nya.
"Gak usah kang, yang tadi sore aja masih banyak tuh di rumah. Kami gak punya kulkas soal nya buat nyimpen. Takut mubazir aja kalau gak kemakan semua. Sayang gitu." Tolak Nora halus.
Abelia senang, anak seusia Nora sudah mengerti cara nya menghargai seseorang, dan menolak dengan kata kata yang bijak dan halus.
"Ya sudah, kamu habisin yang ini saja. Yang di rumah buat sarapan besok gak mungkin basi kan, kalau baru besok?"
"Gak kang, nanti bisa di kukus juga kok. Aman mah itu." Jawab Nora lincah. Abelia senang Nora cukup kooperatif dan membuat situasi canggung mereka terselamatkan.
Di perjalanan pulang kedua gadis cantik itu bergandengan tangan. Jarak rumah nek Minah memang cukup jauh dari rumah warga lain nya. Rumah nek Minah berada di ujung desa. Jarak dari rumah terdekat sekitar seperempat kilo jarak nya. Lumayan bagi mereka yang tak terbiasa berjalan kaki.
"Kang Arman kaya nya suka deh sama kak Abel." Tebak Nora memecah kan keheningan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam dan suasana jalan yang sepi membuat Abelia sedikit merinding.
Sebenar nya Arman menawarkan tumpangan pulang menggunakan mobil, namun Abelia menolak dengan alasan tidak enak dengan pandangan warga terhadap diri nya.
"Huss! Anak kecil gak boleh ngomong soal suka sukaan." Tegur Abelia yang memang menghindari percakapan tentang hal tersebut. Trauma masa lalu membuat nya menjadi tertutup terhadap pria manapun.
"Yee...kakak gak liat ibu ibu muda tadi siang. Umur nya ada yang lebih muda dari aku loh kak. Tuh, si Wati. Dia nikah umur 13 terus punya anak pas masuk 14 tahun. Si Linda, nikah nya umur 15 tahun. Semua gadis desa itu kalau gak kaya ya nikah nya pasti cepet kak. Di jodohkan gitu sama orang tua nya. Makanya jarang ada suami yang seumuran. Paling mentok ya yang seumuran kang Arman. Sisanya tuh jadi istri kedua, ketiga. Atau nikah sama duda. Kaya gitu mah udah gak aneh lagi kak, buat gadis kampung kaya kami. Masa depan kami itu tergantung berapa banyak uang jujuran nya mampu di kasih pihak laki laki. Atau untuk tebus hutang keluarga juga ada, malah lebih banyak lagi tuh kejadian nya."
Cerita Nora mengalir jauh seperti arus air tanpa jeda. Abelia sempet terpaku tak percaya. Namun mengingat ini hanya lah desa terpencil, tak ada yang mustahil terjadi bagi mereka yang punya kuasa.
"Terus kamu kenapa masih sekolah? Nenek gak niat jodohin kamu juga? Atau kamu nya gak laku gitu sama pemuda di desa sini?" Mendengar ledekan Abelia, Nora sontak kesal. Abelia berlari kecil menghindari amukan Nora namun hembusan angin membuat tubuh nya seakan mati rasa.
Sekejap saja, Abelia sudah berada di tengah hutan belantara entah berantah. Abelia memutar tubuh nya mencari keberadaan Nora namun hanya desingan angin yang ia dengar. Suara gemercik air membuat perhatian nya teralihkan. Di belakang nya tiba tiba saja ada Kilauan yang berasal dari pantulan cahaya bulan yang menerpa deras nya air terjun.
Abelia melangkah lebar untuk menuju ke sana. Samar samar ingatan kembali membawa nya ke masa tiga tahun yang lalu. Semacam kilas balik yang terasa sangat nyata, terpampang di hadapan nya.
"Bel, terjun dari atas yuk!" Seru Abraham ketika melihat Abelia hanya mencuci wajahnya saja tanpa berniat untuk ikut mandi.
"Gak Bram, aku phobia ketinggian. Kamu juga mending jangan, tebing air terjun nya curam terus tinggi juga. Bisa fatal kalau salah mendarat. Mana tau kedalam nya cuma semata kaki, auto pindah alam." Tolak Abelia sambil mengibaskan tangan nya.
Abraham terlihat kecewa. Pria itu nekat naik seorang diri karena tergoda oleh sensasi yang di tawarkan oleh pesona alam liar tersebut. Belum lagi ia ingin menghibur hati nya atas kehilangan sang kekasih kemarin. Rasanya masih belum percaya ia kehilangan pujaan hati nya secepat ini dan dengan cara yang tragis pula.
Abraham sempat menyalahkan Abelia, karena tak berhasil membawa Alesha naik. Namun Abraham menyadari, bila Abelia pun sudah berusaha cukup gigih, agar Alesha juga Andrean tetap bertahan. Kini Abraham hanya ingin meluapkan semua rasa sakit atas kehilangan nya, dengan melompat dari ketinggian air terjun. Antara pasrah pada nasib juga patah hati.
"Aku memang berharap mati Bel, mau nyusul Alesha soal nya. Aku merasa jadi pacar yang gagal karena gak berhasil nolongin orang yang aku cintai!" Teriak Abraham setelah setengah perjalanan memanjat bebatuan menunju puncak air terjun.
Abelia memicing tajam namun terlihat seringai kecil dari bibir Abraham yang menandakan keputusasaan. Abelia berusaha mencegah nya. Namun ia tak memiliki keberanian untuk memanjat dari jalur yang sama. Sehingga Abelia memilih untuk memutar meski berpotensi kalah cepat dari Abraham.
Benar saja. Abraham sudah tiba di puncak sambil mengangkat kedua tangan nya. Pria itu berteriak keras memanggil nama sahabat sahabat nya yang sudah tiada. Juga nama sang kekasih dengan suara pilu.
"Abraham! Jangan bercanda kamu! Ini gak lucu sama sekali Bram!" Seru Abelia dari kejauhan. Nafas nya memburu karena berusaha untuk mencapai tempat Abraham dengan cara berlari.
Sayang sekali Abraham hanya menanggapi nya dengan senyum simpul. Saat Abelia berusaha untuk mencapai tujuan lebih cepat, Abraham sudah lebih dulu melompat dari puncak air terjun.
Kedua kaki Abelia terasa lemas seketika. Melihat sahabat nya melompat dengan senyum tanpa dosa menatap ke arah nya. Hanya tinggal sedikit lagi namun Abraham lebih memilih melampiaskan kekecewaan nya dengan cara yang tak pernah Abelia duga.
"Seharusnya kamu bisa menjaga putraku Abelia." Suara bisikan mengerikan mengisi rungunya. Dalam sekejap mata Abelia menyadari bila kini tubuh nya melayang di udara. Bukan karena ia memiliki kekuatan super, namun seseorang baru saja mendorong nya dari ketinggian menyusul Abraham ke bawah.
Saat tubuh nya terhempas hebat. Abelia terbangun dengan deru nafas yang memburu. Seolah kejadian yang baru saja ia alami, nyata ada nya.
"Kak Abel udah bangun nek!" Seru Nora memanggil sang nenek yang sedang berada di dapur yang berada di luar rumah.
Langkah tertatih nek Aminah berjalan cepat menuju kamar cucu nya. Rumah yang terbuat dari anyaman bambu, juga bilik yang di sekat oleh triplek bekas proyek pembangunan sekolah. Abelia terlihat sedang duduk bersandar sambil memijit pelipis nya.
"Sudah bangun nak? Kamu tadi pingsan di depan rumah, untung sudah dekat. Jadi Nora gak perlu ninggalin kamu sendirian untuk mencari bantuan." Ujar nek Aminah terlihat cemas.
"Terus yang bawa aku masuk siapa nek?" Abelia cukup penasaran siapa yang sudah mengangkat nya masuk. Tak mungkin bila Nora juga nenek Aminah yang melakukan nya.
"Tadi pas aku mau panggil nenek, tiba tiba seorang pemuda menghampiri dan bilang biar dia saja yang ngangkat kakak." Jawab Nora mendahului sang nenek.
"Siapa namanya? Kamu kenal? Pemuda kampung sini?"
Nora menggeleng lemah membuat Abelia semakin penasaran.
"Tapi pemuda tadi pakai jaket yang sama seperti yang kakak pakai waktu kami temukan di air terjun. Tuh, persis banget seperti jaket itu." Nora menunjuk jaket Abelia yang tergantung di dinding.
Darah Abelia seketika mendesir hebat.
Mungkinkah? Tidak! Abelia menggelengkan kepala nya dan itu tak luput dari perhatian Aminah.
Yuk kenalan sama tokoh cantik kita di kolom komentar