KEDEKATAN YANG DIREKAYASA** Tidak ada perang yang dimulai dengan ledakan. Perang yang paling berbahaya dimulai dengan kenyamanan kecil—cukup halus untuk diterima, cukup sering untuk dirindukan. Elara merasakannya dua jam setelah mereka meninggalkan gudang pelabuhan. Bukan sebagai serangan. Bukan sebagai ancaman. Melainkan sebagai ketiadaan gangguan. Motor Raka melaju stabil menembus jalanan Jakarta yang mulai sepi menjelang dini hari. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, menciptakan ritme visual yang hampir menenangkan. Angin malam menyapu wajah Elara, membawa bau hujan lama dan asap knalpot. Dan tubuhnya… patuh. Tidak tegang. Tidak gemetar. Tidak gelisah. Padahal seharusnya ia merasa diawasi. “Ada yang salah,” kata Elara tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam oleh deru me

