“Harus, ya, kita pergi ke mal kayak gini?” tanya Zaina saat tiba di depan salah satu restoran Jepang. Barra menghela napas. “Bukankah tadi kamu yang ingin pergi? Aku hanya menuruti keinginan kamu.” “Aku memang bilang mau ke mal, tapi enggak sekarang.” Zaina menoleh ke kanan kiri. Suasana mal ramai seperti biasa. Sejujurnya, Zaina sedikit malu jika bertemu dengan seseorang. Dia belum terbiasa dengan status baru sebagai istri. Bagaimana kalau ada yang mengenal, lalu menggodanya? Pernikahan ini membuat gadis itu merasa gelisah. Siapa sangka kalau menikah membuatnya merasakan sensasi baru. Gerakan Zaina yang dirasa sedikit ganjil membuat Barra mengerutkan kening. Dia ikut memandang sekeliling untuk mengetahui apa yang mengganggu pikiran sang istri. Tidak ada tanda-tanda masalah. Jadi, apa

