“Jangan cemberut begitu, dong, Adikku sayang,” ujar Dzaky. Dia berusaha mencolek pipi Zaina, tetapi gadis itu menghindar. Sang kakak tersenyum lebar. “Kak Barra benaran enggak datang?” “Kamu mau nanya berapa kali, sih? Lagian, kami semua datang, kan? Nenek, aku, Kak Khafi, dan Kak Arisha. Kenapa kamu sedih cuma karena Kak Barra enggak datang?” Zaina mengerucutkan bibir mendengar perkataan Dzaky. Ini adalah hari yang sangat spesial bagi Zaina. Seharusnya ada Barra yang menemani. Pria itu juga sudah berjanji akan datang pada acara wisudanya. Namun, hingga sekarang, Barra tidak muncul. Zaina sudah mencoba menghubungi dan mengirim pesan. Nihil. Barra tidak menjawab. Apa mungkin Zaina akan dikecewakan lagi oleh keputusan Barra yang terkadang tidak masuk akal? Selama pergi dua tahun, Barra h

