“Sepertinya pekerjaan kamu sudah lancar,” ujar Khafi sambil memperhatikan beberapa lukisan yang ada di kamar Dzaky. Pagi-pagi sudah mendapat kunjungan dari sang kakak membuat Dzaky tegang. Meski Khafi sudah lebih ramah dan terkendali, dia masih tetap merasa terintimidasi setiap kali mereka berbicara. Pasti ada tujuan kenapa Khafi menemuinya secara khusus seperti ini. Dia mulai memikirkan berbagai kemungkinan. Kalau masalah pekerjaan, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dzaky sudah sangat rapi menangani semua divisi. Dua tahun dan tawaran kerja sama terus datang silih berganti. Dia bisa memastikan kalau usahanya mampu menghidupi keluarga kecil ketika sudah menikah nanti. Umur Dzaky sudah dua puluh empat tahun, memikirkan rencana pernikahan sudah hal wajar, bukan? Apa lagi saat

