Janji Sepasang Kekasih
Di pagi hari yang cerah, ketika semua orang sedang beraktivitas di sawah ataupun berdagang di pasar, sepasang kekasih justru duduk santai sambil memandangi sawah dengan penuh mesra.
"Lastri, kamu ingat apa yang pernah Mas bilang sebelumnya sama kamu?" ucap seorang pria dengan wajah yang cukup tampan dan rupawan.
"Iya, Mas, aku ingat kok tentang Mas yang mau pergi merantau ke kota, kan?" ucap seorang wanita dengan paras yang sangat cantik.
"Iyo, Lastri, Mas izin ya mau pergi ke kota untuk mencari rezeki! Kamu baik-baik ya di sini! Mas janji, Mas pasti akan pulang dan nikahi kamu ketika semua sudah selesai!" ucap seorang pria kepada kekasihnya dengan lembut.
"Iyo, Mas, ndak papa! Mas hati-hati, yo, di sana! Aku pasti doakan Mas supaya sukses di kota! Aku akan selalu menunggu Mas di sini! Aku juga akan menjaga dan merawat Bude Murni, ibunya Mas! Aku akan jaga dan rawat Bude seperti ibuku!" jawab wanita itu dengan tersenyum manis penuh ketulusan.
Lelaki itu lantas memegang tangan sang wanita sambil berbicara dari mata ke mata, "Kamu tenang saja! Begitu Mas sudah sukses, Mas pasti pulang ke kampung! Mas pasti akan menikahi kamu! Kamu tunggu di sini ya! Mas juga mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah mau menjaga ibu!"
Wanita itu tersenyum dengan sangat manis dan berkata, "Iya, Mas! Aku akan selalu menunggu kamu di sini! Mas juga tidak perlu berterima kasih, toh aku memang harus melakukan ini sebagai kekasihnya Mas!"
Sepasang kekasih itu lantas berpelukan dengan penuh kerinduan, dengan perasaan tak rela melepaskan menyelimuti mereka.
"Makasih ya untuk semuanya!" ucap pria itu penuh haru.
"Weesss! Udah, toh! Pagi-pagi udah mesra saja!" ucap seorang pria tua bernama Pak Syukur yang sedang bekerja di sawahnya, karena kebetulan sawah yang dipandangi oleh sepasang kekasih itu adalah sawah milik Pak Syukur.
Seketika, sepasang kekasih itu merasa malu dan tersenyum-senyum dengan salah tingkah.
5 tahun kemudian
Di sebuah desa bernama Desa Sukajaya, terlihat sebuah warung nasi uduk bernama Nasi Uduk Bu Ratih yang sedang sibuk melayani para pembeli.
"Iya, Pak. Bapak mau beli berapa?" tanya Bu Ratih dengan penuh keramahan.
"3 bungkus aja, Buk! Dagangan Ibu sudah mau habis, ya?" tanya pria itu dengan ramah.
"Iya, Pak. Alhamdulillah, dagangan saya laris hari ini!" ucap Bu Ratih.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Ngomong-ngomong, aku kok enggak lihat anak Bu Ratih, ya? Lastri ke mana, Buk?" tanya pria tua itu yang merupakan penduduk Desa Sukajaya.
"Iya, Pak. Lastri ada kok di dalam rumah! Sebentar ya, Pak, aku panggil Lastri!" ucap Bu Ratih dengan tersenyum penuh keramahan.
"Lastri... Lastri..." panggil Bu Ratih.
Tak lama, seorang wanita dengan wajah yang cantik dan tubuh yang ramping keluar dari rumah itu dengan senyum manis yang sangat memikat.
"Iya, Buk. Lastri di sini! Ada apa, toh, Buk?" wanita ini bernama Lastri, anak dari Bu Ratih yang sekarang berusia 24 tahun dengan wajah cantik sempurna.
"Ndak ada apa-apa! Tuh, Pak Syukur nyariin kamu!" jawab Buk Ratih.
Lastri lantas menoleh ke arah Pak Syukur.
"Ehhh, Lastri baru keluar, kenapa enggak bantuin ibuk, toh?" tanya pria tua itu yang sudah lama kenal dengan Buk Ratih dan Lastri.
"Ndak kok, Pak, aku dari tadi udah bantuin ibu. Aku beres-beres di dalam rumah tadi, Pak!" jawab Ratih sambil tersenyum dengan sangat manis.
"Iyoo, Bapak tahu, Lastri kan memang anak yang rajin dan cantik, persis kayak ibunya!" puji pria itu.
"Makasih, toh, Pak, atas pujiannya!" jawab Lastri dan ibunya yang kompak tersenyum.
"Ngomong-ngomong, usiamu kan udah waktunya untuk nikah. Kamu kapan mau nikah? Apa kamu masih nunggu Arya, ya?" tanya pria itu yang sangat peduli dengan Lastri, karena Pak Syukur sudah sangat lama mengenal keluarga Lastri.
Sembari tersenyum, Lastri berkata, "Iyoo, Pak, Mas Arya udah janji mau nikah sama aku! Pak Syukur kan tahu sendiri! Aku ndak mungkin ninggalin Mas Arya!" Ucapan Lastri terkesan datar.
"Buk, aku masuk dulu ke dalam rumah, ya!" tambah Lastri yang kembali masuk ke dalam rumahnya setelah mengatakan hal tersebut kepada Pak Syukur.
"Lastri marah, kah, Buk Ratih? Saya cuma tanya! Ndak bermaksud bikin dia tersinggung, apalagi sampai marah!" ucap Pak Syukur yang merasa bersalah atas ucapannya yang membuat Lastri tersinggung.
"Iya, Ndak papa, Pak. Lastri memang mudah tersinggung orangnya, apalagi semenjak Bude Murni meninggal, dia jadi gampang tersinggung dengan ucapan maupun perbuatan orang di dekatnya!" ucap Bu Ratih yang malah balik meminta maaf kepada Pak Syukur karena dia merasa apa yang dilakukan Pak Syukur tidaklah salah.
"Iyoo, aku tetap minta maaf, ya, Buk!" Pak Syukur tetap merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya kepada Lastri.
"Iya, Pak, Ndak apa-apa kok!" ucap Bu Ratih yang tak mempermasalahkan hal tersebut.
"Ini, Pak, udah selesai nasi uduk-nya! Makasih, yo, Pak!" Bu Ratih lalu memberikan Pak Syukur nasi uduk yang dibayar dengan uang.
Di tempat lain, sebuah mobil tengah berjalan menuju desa Sukajaya. Di dalam mobil itu terdapat seorang pria dan seorang wanita.
"Mas, aku enggak sabar pulang ke desa! Aku enggak sabar mau lihat desa tempat tinggalmu! Aku bahagia banget!" ucap seorang wanita dengan wajah yang cantik dan tubuh yang langsing.
"Iya, Saras, mas juga bahagia bisa pulang lagi ke desa! Mas enggak nyangka mas dapat tugas di desa Sukajaya, desa tempat mas tinggal selama ini! Akhirnya mas bisa ketemu ibuk setelah sekian lama!" Pria ini adalah Arya yang kini berusia 25 tahun. Dia sudah sukses di kota dan sekarang mendapatkan tugas di desanya.
Mereka kemudian sampai di rumah kepala desa Sukajaya. Mereka lantas turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah itu.
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum..." panggil Saras dan Arya dengan kompak.
Kemudian seorang pria keluar dari rumah itu.
"Lho Arya! Kamu apa kabar? Kamu kapan sampainya? Kok enggak bilang-bilang dulu sama Bapak?" ucap Kepala Desa Sukajaya yang bernama Pak Mukhlis; dia juga adalah pakde dari Arya.
"Aku baru juga sampai, Pakde. Aku datang juga karena ada tugas di desa!" ucap Arya dengan sangat ramah.
"Owh, jadi orang yang dari kota mau datang ke desa, kamu toh? Nggak nyangka ternyata kamu," Pak Mukhlis dengan bahagia memeluk Arya.
Saat memeluk Arya, Pak Mukhlis menyadari ada orang lain di dekat Arya.
"Ngomong-ngomong, dia siapa, Arya?" Pak Mukhlis bertanya tentang seorang perempuan di belakang Arya yang sedang tersenyum kepadanya.
"Owh, dia ini istriku, Pakde! Saras, ayo kenalan sama Pakde-ku yang juga Kepala Desa di sini!" ucapnya sambil tersenyum manis memanggil istrinya.
"Halo Pakde, aku Saras, istri dari Mas Arya. Kebetulan aku aslinya dari kota, jadi mohon maaf kalau ada yang enggak Pakde suka dari aku!" Saras memperkenalkan dirinya dengan sangat manis.
"Owh iya, Ndak papa kok! Kalian masuk aja dulu ke rumah pakde!" ucap Pak Mukhlis dengan kebingungan.
"Owh, Ndak perlu, pakde, karena aku ke sini cuman mau ketemu ibuk dan mau ngajak dia tinggal di rumahku karena aku udah ada rumah yang dapet dari perusahaan!" Kebetulan, perusahaan tempat Arya bekerja memberikannya sebuah rumah untuk dia tempati, sehingga dia tidak perlu lagi membeli rumah.
"Kamu masih belum tahu, Yoo?" Seketika, suasana yang tadinya riang gembira kini menjadi hening.
"Ada apa toh, pakde?" tanya Arya yang tak tahu apa yang telah terjadi.
"Ibukmu udah meninggal satu tahun yang lalu. Maafin pakde yaaa, pakde udah coba ngasih tahu kamu, tapi nomormu enggak aktif." Pak Mukhlis merasa bersalah karena tidak memberitahu Arya tentang kematian ibunya.
Sepasang suami istri itu menjadi sangat syok dan terkejut. Mereka sangat merasa sedih, terutama Arya yang selama ini berjuang untuk sukses di kota. Dia akhirnya sukses dan bisa pulang, tetapi apa yang dia dapatkan adalah kematian ibunya, satu-satunya keluarga baginya. Saras lantas berinisiatif untuk memeluk suaminya yang bersedih. Sebenarnya, Arya sangat sedih dan ingin menangis sekeras-kerasnya, tetapi air mata itu sama sekali tak keluar dari dirinya, dan dia hanya bisa memeluk Saras dengan erat.
"Sekarang ibuk di mana, Pakde? Ibuk di makam kan di mana? Aku mau ketemu ibuk!" pinta Arya dengan penuh kesedihan yang sangat dalam di hatinya.
Tanpa banyak berbicara, Pak Muklis lalu mengajak mereka ke sebuah pemakaman. Di sanalah tempat ibu Arya dimakamkan, yang makamnya tepat di sebelah makam mendiang ayahnya Arya.
Arya lantas memeluk batu nisan ibunya. Meskipun air matanya tidak mengalir, terlihat jelas jika Arya sangat sedih dan menderita atas kepergian ibunya yang ditemani oleh istrinya, Saras.
Di rumah Lastri, Lastri berpamitan dengan ibunya hendak pergi ke makam Bude Murni. "Buk, Lastri pergi bentar, Yoo!" Dengan pakaian sederhana dan menggunakan tambahan selendang untuk menutup kepalanya, Lastri berpamitan dan meminta izin kepada ibunya.
"Iyoo, Lastri, kamu hati-hati ya!" jawab Bu Ratih dengan penuh kasih sayang.
Lastri yang sudah sampai di makam Bude Murni terkejut mendapati makam itu sudah basah, seperti ada orang yang baru saja berziarah ke makam Bude Murni. Entah kenapa, Lastri merasa jika kekasihnya, Arya, lah yang berziarah ke makam Bude Murni.
Sementara di rumah Bu Ratih, Pak Syukur datang dan memberitahukan kepada Bu Ratih bahwa Arya sudah pulang. "Buk Ratih! Buk!" ucapnya dengan kencang sembari memanggil Bu Ratih dengan penuh kepanikan.
"Iyooo! Ada apa, toh, Pak?" tanya Bu Ratih yang merasa heran dengan sikap Pak Syukur.
"Lastri mana, Buk?" pria itu mencari-cari Lastri.
"Dia ke makam almarhumah Bude Murni, Pak! Ada apa, toh?" tanya Bu Ratih.
"Arya, toh, Buk, dia udah pulang. Ternyata dia orang yang akan tinggal di rumah besar warna biru itu, Buk!" Pak Syukur lantas memberitahu Bu Ratih jika Arya Wiguna sudah pulang ke desa.
"Apaaaa?" Seketika Bu Ratih terkejut mendengar kabar tersebut.