Menutupi Keberadaan Kekasih

1493 Kata
"Masa iya, Pak? Ya sudah, kita ke sana yuk, Pak! Aku sudah lama mau ketemu sama Arya!" pinta Bu Ratih dengan penuh semangat, karena bukan hanya Lastri yang menunggu Arya, melainkan Bu Ratih juga. "Yowes, ayo, Bu! Kita ke sana menemui Arya!" Bu Ratih dan Pak Syukur lantas pergi ke rumah baru Arya. Ketika mereka hampir sampai di rumah itu, betapa terkejutnya Bu Ratih ketika melihat Arya sedang berpelukan dengan perempuan lain. Seketika, langkah kaki yang tadinya ringan seperti kapas kini menjadi berat bagaikan besi. "Lho! Arya sama siapa, Bu? Bukannya dia janji mau nikah sama Lastri? Kok malah pelukan sama perempuan lain di sini?" Pak Syukur merasa bingung dengan apa yang dia lihat, karena Pak Syukur adalah saksi cinta antara Arya dan Lastri. "Kita pulang saja, Pak!" Bu Ratih memilih langsung membalikkan badan dan pergi dari tempat itu, mengajak Pak Syukur untuk ikut bersamanya. Dia yang tadinya sangat girang dan riang kini menjadi murung. Saat mereka sampai di depan rumah Buk Ratih, "Pak, aku minta sama Bapak untuk tidak usah ngomong atau kasih tahu Lastri tentang Arya! Aku tidak bisa lihat anakku sedih! Aku tidak mau dia sakit hati karena laki-laki itu!" pinta Buk Ratih yang paham apa yang akan terjadi jika Lastri menemui Arya yang saat ini sedang bersama wanita lain. "Kenapa, toh Buk? Bisa saja itu orang yang satu tugas sama dia di desa ini!" Pak Syukur mencoba menenangkan keadaan dan membela Arya karena dia yakin betul jika Arya sangat mencintai Lastri dan wanita tadi hanyalah kesalahpahaman. "Bapak coba pikir, dia tinggal di rumah Arya terus pelukan sama Arya, dia pasti pacar atau tunangan Arya! Atau bisa jadi dia istrinya Arya! Tidak mungkin kalau cuma teman atau rekan kerja! Dia pasti punya hubungan dengan Arya!" Pemikiran seorang wanita yang sangat teliti dan tajam. "Tapi kan mereka orang kota, bukan orang desa seperti kita. Wajar, toh, kalau mereka kayak begitu! Atau bisa jadi Arya lagi sedih karena ibunya sudah meninggal, jadi perempuan itu peluk dia!" ucap Pak Syukur yang kembali lagi mencoba membela Arya dan berpikir positif. "Menurut Bapak, mungkin seperti itu! Tapi aku ini wanita! Sekali lihat, aku juga tahu mereka punya hubungan spesial!" jawab Buk Ratih yang berpegang teguh pada pendiriannya. "Yowes, toh, Buk, kalau Ibu maunya begitu, tapi aku masih yakin kalau Arya tidak pernah melupakan Lastri!" Tak mau kalah dengan Buk Ratih, Pak Syukur juga tetap berpegang teguh pada pendiriannya. "Sudahlah, Pak. Intinya, aku tidak mau anakku sakit hati! Aku tidak bisa lihat dia sampai nangis! Kalau memang Arya ingat sama janjinya, dia pasti datang ke rumahku untuk menemui Lastri sekarang!" Kasih sayang seorang ibu sangat dalam, karena itulah Ratih tidak mau jika anaknya sakit hati dan bersedih karena Arya. Ceklekkkkk Suara pintu terbuka. "Ibuk! Pak Syukur! Lho, kok ndak masuk ke dalam rumah? Mari masuk ke dalam!" Ternyata Ratih sudah ada di dalam rumah. "Loh, Ratih, kok kamu sudah di rumah? Kamu kapan sampainya?" tanya Bu Ratih dengan cemas. "Udah dari tadi sih, Buk. Ehh, kebetulan ada Pak Syukur. Pak, aku mau nanya dong!" ucap Lastri dengan tersenyum. "Iyoo, Lastri, mau nanya apa?" tanya Pak Syukur dengan ramah. "Mas Arya udah pulang, Yoo?" Sontak saja pertanyaan Lastri membuat Bu Ratih dan Pak Syukur terkejut. "Belum, Lastri!" jawab Pak Syukur dengan datar, namun terkesan berbohong. "Kok, Bapak jawabnya kayak gitu? Kayak ndak yakin aja!" Lastri tentu merasa curiga setelah mendengar jawaban dari Pak Syukur. "Opo sih, Lastri? Kamu kok ngomong kayak gitu sama Pak Syukur! Ndak baik ngomong kayak gitu sama yang lebih tua!" Bu Ratih berusaha menyela agar Lastri tidak berpikir jauh dan hal ini tidak terbongkar. "Yowes, toh buk! Aku minta maaf ya, Pak!" Lastri, yang dasarnya gadis desa baik hati dan penurut, lantas meminta maaf kepada Pak Syukur. "Yowes, kamu masuk sana, bikinin kopi untuk Pak Syukur!" pinta Buk Ratih. "Iyoo, buk!" Lastri hanya menurut dan langsung masuk ke rumahnya. "Pak Syukur, gimana sih? Lain kali hati-hati kalau berbicara, bapak kan tahu sendiri Lastri itu orangnya gampang tersinggung, dia itu peka sama ucapan kita!" ucap Buk Ratih. "Iyoo, buk, maaf, toh!" Pak Syukur hanya bisa meminta maaf dengan sopan. "Yowes, ndak papa! Udah ndak usah dibahas lagi, Pak!" pinta Buk Ratih. "Baik, buk!" Pak Syukur menyanggupi hal ini. Sementara Arya bersama Saras kini sampai di rumahnya. "Ini rumah baru kita, Saras! Bagaimana menurut kamu?" tanya Arya yang turun dari mobil. Diikuti oleh Saras yang juga turun dari mobil itu dan memperhatikan rumah barunya dengan seksama. "Aku suka mas! Rumah ini bagus banget! Kamu pintar pilihnya! Cocok sekali dengan aku yang sedang mengandung anak kita!" ucap Saras sembari mengelus perutnya. "Iya, aku sengaja pilih rumah ini karena pemandangannya indah dan udaranya juga bagus, sangat cocok untuk ibu yang sedang mengandung!" Arya merangkul Saras dan mengelus perut Saras dengan lembut. "Ayo kita masuk!" pinta Arya sembari menggandeng Saras. Tak berselang lama ketika Saras dan Arya sudah masuk ke dalam rumah, datanglah Pak Mukhlis, seorang wanita setengah baya, ke rumah baru itu. "Permisi!!!" Tak lupa Pak Mukhlis memberi salam dan mengetuk pintu terlebih dahulu. "Masuk aja, Pakde!" jawab Arya dari dalam rumah karena kebetulan rumah itu juga pintunya terbuka. Masuklah Pak Mukhlis dan wanita setengah baya itu ke dalam rumah untuk bertemu dengan Saras. "Arya, ini Pakde bawakan orang untuk bekerja di rumahmu!" Ternyata wanita setengah baya yang dibawa oleh Pak Mukhlis adalah orang yang akan dipekerjakan di rumah Arya. "Iyoo, Pakde, makasih ya sudah bantu aku!" jawab Arya seraya tersenyum. "Saras! Saras!" panggil Arya. "Iya, Mas!" Saras pun datang. "Ini orang yang akan bantu kita mengerjakan pekerjaan rumah sudah datang!" ucap Arya yang memberitahukan Saras. "Halo, Buk! Perkenalkan, saya Saras, istri dari Mas Arya! Semoga kamu betah ya kerja di sini!" Saras lalu memperkenalkan dirinya kepada wanita setengah baya itu. "Iyo, Buk, perkenalkan nama saya Sumi, panggil saja saya Mbok Sumi. Kebetulan juga saya orang asli sini, toh. Mohon bantuannya ya, Buk!" ucap Mbok Sumi dengan lemah lembut. "Owh, iya, Mbok. Istri saya ini lagi hamil 5 bulan, jadi mohon bantuannya ya, Mbok!" pinta Arya dengan sopan. "Apa? Istrimu sudah hamil 5 bulan? Kok kamu ndak ngomong sama Pakde dari tadi, Arya?" Pak Mukhlis yang mendengarnya langsung terkejut karena baru mengetahui hal ini. "Iyoo, Pakde, maafin aku karena tidak memberi tahu Pakde dari tadi. Dari tadi, pikiranku cuma ke Ibu! Maafin aku, ya!" Arya merasa bersalah karena tidak memberitahu Pak Mukhlis dari awal. "Iyoo, tidak papa! Pakde benar-benar enggak nyangka kalau sebentar lagi Pakde bakal jadi kakek! Selamat ya buat kamu sama Saras!" Pak Mukhlis menepuk pundak Arya dan memberikan ucapan selamat. "Iyoo, Pakde, makasih ya!" Arya tersenyum. "Yowes, Pakde sudah harus pulang! Pakde pamit, ya!" pinta Pak Mukhlis. "Loh, enggak nginap saja di sini, Pakde?" Saras mencoba memberikan tawaran menginap kepada Pak Mukhlis. "Maaf, Pakde tidak bisa kalau nginap karena ada urusan pekerjaan! Intinya, kamu sehat-sehat, ya! Jaga kandunganmu dengan baik! Terutama kamu, Arya, jaga istri kamu dengan baik!" nasihat Pak Mukhlis yang menganggap Arya sebagai anaknya. "Iyoo, Pakde! Aku pasti akan jaga istriku dengan baik!" jawab Arya dengan sangat yakin. "Iya, Pakde! Aku pasti akan jaga anakku!" Saras tersenyum. "Yowes, Pakde, balik dulu! Mbok Sumi, saya balik dulu! Permisi!" Pak Mukhlis pun pergi. Setelah Pak Mukhlis pergi, Saras lalu mengajak Mbok Sumi untuk menunjukkan kamarnya dan hal-hal yang harus dilakukan bersama Mbok Sumi selama bekerja di rumahnya, sementara Arya pergi mengantar Pak Mukhlis yang kemudian memastikan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat dan terkunci. "Mbok! Ini kamar Mbok ya! Semoga Mbok suka dengan kamar ini!" Ucap Saras dengan cukup ramah dan sopan kepada orang desa, apalagi itu hanya pembantunya. "Wah, kamarnya bagus! Makasih ya, Buk!" Mbok Sumi cukup takjub dengan apa yang didapatkannya di sini. "Iya, sama-sama, Buk! Oh iya, kalau gitu saya kasih tahu langsung saja apa yang harus Ibu kerjakan!" Ucap Saras. "Iyoo, Buk, apa saja yang harus saya lakukan?" Tanya Mbok Sumi dengan penuh hormat. "Oke, Mbok, jadi yang pertama saya ingin Mbok pastikan semua pintu termasuk jendela di rumah ini dikunci sebelum malam. Walaupun saya tahu di desa ini sangat aman untuk tidak mengunci pintu, tapi saya tidak bisa! Kedua, saya alergi sama lada, apapun jenisnya, mau lada hitam ataupun lada bubuk, jadi setiap makanan di rumah ini tidak boleh mengandung bahan itu, apalagi kalau dalam jumlah banyak! Itu saja, Buk!" Saras memberitahukan semua yang harus dilakukan oleh Mbok Sumi. "Baik, Buk, lalu bagaimana dengan pekerjaan saya?" tanya Mbok Sumi. "Oh iya, kalau untuk pekerjaan, Mbok lakukan saja seperti biasa yang Mbok lakukan, seperti bersih-bersih, memasak, dan mencuci!" ucap Saras dengan sangat hangat. "Baik, Buk!" jawab Mbok Sumi yang menyanggupi semua permintaan Saras. "Ya udah, kalau gitu Mbok boleh kemas pakaian Mbok dan istirahat, karena aku juga mau istirahat! Selamat malam ya, Mbok!" Saras lalu pergi dari kamar Mbok Sumi untuk beristirahat di kamarnya. Mbok Sumi lalu mengemasi pakaiannya terlebih dahulu sebelum beristirahat. "Permisi, Mbok!" Terdengar suara Arya memanggil. Mbok Sumi lalu membukakan pintu untuk Arya dan membiarkannya masuk ke dalam kamarnya karena hal penting yang harus dibicarakan. "Pak Arya mau bicara apa?" tanya Mbok Sumi dengan sopan namun datar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN