"Mbok, aku mau ngomong serius sama mbok! Aku mau minta tolong sama mbok!" Arya bersuara dengan sangat lembut, dengan mata yang berlinang penuh harapan.
"Mau minta tolong apa, Pak?" tanya mbok Sumi dengan datar, seakan menyimpan perasaan tidak suka kepada Arya yang cukup dalam.
"Mbok! Aku mohon, mbok jangan bicara apa-apa dengan istri ku, Saras!" Arya semakin melembutkan suaranya, dan dari nada bicaranya terdengar seakan sangat tulus.
"Loh, maksudnya bicara apa ya, Pak, ke ibuk?" tanya mbok Sumi dengan bingung dan tampak dia sangat tidak menyukai Arya, serta semakin ingin menyelesaikan pembicaraannya dengan Arya.
Arya sebenarnya paham jika mbok Sumi tidak menyukainya, tapi dia juga tidak memiliki pilihan lain. Dia tidak bisa membiarkan Saras maupun Lastri sampai tahu yang sebenarnya, karena itu memilih bersikap masa bodoh terhadap ketidaksukaan mbok Sumi terhadap dirinya.
"Mbok, jangan ngomong kayak gitu! Aku tetap Arya, laki-laki biasa yang tinggal di desa ini! Mbok boleh panggil namaku saja seperti dulu!" Arya seakan memohon kepada Mbok Sumi akan suatu hal sampai-sampai dia merendahkan dirinya sendiri di hadapan wanita setengah baya yang tak memiliki harta maupun tahta.
"Enggak sudi aku panggil kamu kayak gitu! Dasar laki-laki kurang ajar! Bisa-bisanya kamu berbuat hal seperti itu!" ucap Mbok Sumi di dalam hatinya yang sangat tidak suka dengan Arya.
"Iya, enggak bisa lah, Pak! Bapak ini kan majikan saya! Orang yang mempekerjakan saya saat ini! Iyoo, ndak sopan manggil majikan dengan nama! Lagipula, hal apa yang tidak boleh saya bicarakan kepada Buk Saras?" tanya Mbok Sumi yang bersikap mada bodoh, padahal dia tahu betul apa maksud dari ucapan Arya.
"Aku tetap Arya kok, mbok. Tetap pria desa sederhana seperti dulu yang mbok kenal! Aku cuma mau minta tolong supaya mbok enggak ngomong macam-macam dengan Saras!" Arya memelas dengan mata yang berlinang, yang mana hal itu membuat mbok Sumi menjadi jijik, bukannya simpatik.
"Kamu ini ngomong apa? Ngomong macam-macam apa? Jangan berputar-putar kalau ngomong! Langsung ngomong aja apa yang kamu mau!" pinta mbok Sumi yang tak ingin menanggapi Arya lebih jauh lagi, dan dia sengaja bersikap pura-pura tidak tahu, padahal dia sangat tahu.
"Dasar laki-laki b******n! Dasar laki-laki tidak memiliki adab!" ucap mbok Sumi di dalam hatinya, yang memberikan umpatan kepada Arya karena kesal dan cukup muak dengan sikap serta permintaan Arya kepadanya.
"Tentang Lastri, mbok! Aku minta tolong sama mbok supaya jangan bicara apapun yang berkaitan dengan Lastri kepada Saras! Aku mohon ya, mbok, karena Saras lagi hamil! Aku enggak mau dia sakit hati, apalagi kalau terjadi sesuatu dengan bayiku ataupun dia! Aku mohon sekali sama mbok! Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk!" pinta Arya kepada mbok Sumi, karena mbok Sumi adalah penduduk asli di desa itu yang tahu betul tentang kisah cinta Arya dan Lastri.
"Kamu tega ya, Arya! Apa kamu pikir bagaimana nasib Lastri? Apa kamu pernah memikirkan dia selama ini? Apa pernah walau hanya sekali kamu mengingat dia selama kamu merantau ke kota?" tanya mbok Sumi yang sakit hati, karena sebagai seorang wanita dan juga tahu betul bagaimana kisah cinta antara Arya dan Lastri, mbok Sumi juga paham betul semua yang dilakukan Lastri selama ini.
Arya lalu bersujud di hadapan mbok Sumi, supaya mbok Sumi mau menutupi semua ini dan memenuhi keinginannya.
"Bangun, Arya! Jangan bersujud seperti itu! Mbok ini bukan Tuhan! Bangun!" ucap Mbok Sumi yang tidak suka dengan apa yang dilakukan Arya saat ini.
"Aku mohon, mbok! Aku mohon sekali!" Arya tetap tidak mau bangun dan memilih untuk tetap bersujud agar Mbok Sumi mau menuruti keinginannya.
Mbok Sumi yang sebenarnya sangat enggan mengikuti permintaan Arya terpaksa harus menyetujui kemauan Arya, walaupun di dalam hatinya tersimpan perasaan tidak suka yang cukup besar.
"Yowes, mbok tidak akan berbicara apa pun tentang Lastri ke Saras! Tapi, bukan berarti mbok membantu kamu menyembunyikan kebohonganmu!" ucap Mbok Sumi dengan ketus.
Seketika, Arya langsung bangun dari sujudnya dan berterima kasih kepada Mbok Sumi karena mau menutupi kebohongannya.
"Terima kasih ya, mbok! Kalau begitu, aku permisi!" Karena merasa sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Arya lantas pamit pergi kepada Mbok Sumi.
"Tunggu, Arya!" ucap Mbok Sumi yang seketika membuat langkah Arya terhenti.
"Kamu harus tahu, walaupun mbok maupun Pak Mukhlis diam dan tidak memberitahukan hal ini kepada Saras, dengan sendirinya Saras juga pasti akan tahu, karena kamu harus tahu bangkai yang ditutupi dengan baik juga akan tercium bau busuknya! Kamu harus tahu semua penduduk desa tahu tentang kisah cinta kamu dengan Lastri, apalagi saat kamu merantau dan Lastri menjaga ibumu!" ucap mbok Sumi yang memberitahukan Arya bahwa apa yang dilakukan Arya pasti akan diketahui oleh Saras. Saat Arya hendak berbicara, mbok Sumi kembali bersuara.
"Mbok cukup senang saat mendengar kabar ternyata orang kota yang datang ke desa dan akan menetap cukup lama di desa itu, kamu. Tapi seketika mbok kecewa saat mendengar kabar kamu sudah menikah dan membawa istri kamu ke desa, ditambah dia sudah hamil 5 bulan. Mbok kecewa dengan apa yang kamu lakukan terhadap Lastri! Selama 5 tahun, Lastri menunggu kamu sembari merawat ibu kamu! Bahkan dia juga yang mengurus pemakaman ibu kamu! Apa kamu enggak bisa berpikir tentang semua pengorbanan yang Lastri lakukan?" Mbok Sumi tahu betul apa yang dialami dan apa yang terjadi dengan Lastri.
Arya hanya bisa terdiam, kemudian keluar dari kamar Mbok Sumi tanpa menoleh ke belakang sekalipun, dengan wajah yang datar dan perasaan yang menjadi tak nyaman. Saat masuk ke dalam kamarnya, Arya langsung disambut hangat oleh Saras yang sudah menunggunya dari tadi.
"Mas Arya..." panggil Saras dengan lembut sambil memeluk leher suaminya yang terkesan ingin menggoda.
"Iya, Saras, mas di sini!" ucap Arya yang terdengar sudah termakan rayuan dan godaan dari Saras.
Saras dengan penuh nafsu lalu mencium pipi Arya dengan cukup lama, kemudian dia mencium pipi Arya di sebelah dahi, dan kemudian mulai turun ke bibir. Saat bibirnya mulai menempel, Arya tiba-tiba saja menghentikan semua itu dengan menghindari wajah Saras yang berhadapan dengannya, karena saat ini dia tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.
"Lho! Kok kamu menghindar sih, mas, dari aku?" tanya Saras yang mulai bete dan kesal dengan apa yang dilakukan oleh Arya.
"Saras, kamu kan lagi hamil! Kita juga baru sampai di sini! Kamu lelah kan pasti? Kasihan anak kita yang ada di dalam perut kamu! Kamu istirahat saja ya sekarang!" pinta Arya dengan sikap mengkhawatirkan keadaan istri dan anaknya, padahal sebenarnya dia memang dalam kondisi yang kurang nyaman.
"Ya udah deh, Mas, kalau menurut kamu seperti itu!" jawab Saras dengan bete kepada suaminya. Saras lantas berbaring di atas ranjang dan menghadap ke arah yang berlawanan dari Arya, menutupi tubuhnya dengan selimut. Arya menyadari hal tersebut, tetapi dia memilih untuk diam dan membiarkan saja Saras karena dia sendiri juga merasa tidak nyaman pada malam itu. Malam yang indah itu justru menjadi malam yang kurang indah bagi pasangan suami istri itu. Mereka memang tidur di satu ranjang yang sama, tetapi keduanya sama-sama memiliki perasaan yang kurang nyaman dan dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Sementara di rumah Lastri, Lastri sedang membantu ibunya mempersiapkan bahan-bahan untuk menjual nasi uduk besok pagi. Sembari menyiapkan hal tersebut, Lastri mencoba bertanya kepada ibunya. "Buk!" panggil Lastri. "Iyoo, Lastri! Ada apa toh? Kamu mau apa?" tanya Buk Ratih dengan lembut. "Aku mau nanya sama ibu! Boleh toh?" pinta Lastri dengan lembut.
"Yowes, nanya aja apa yang kamu ingin tanya! Kamu mau tanya apa sama Ibu?" jawab Buk Ratih sambil mengupas bawang.
"Buk, aku ngerasa Mas Arya udah pulang ke desa ini! Apa jangan-jangan Mas Arya beneran udah pulang?" tanya Lastri dengan penuh kasmaran.
Buk Ratih yang mendengar hal tersebut seketika terkejut dan sedikit panik disertai bingung. Dia lantas berusaha keras menutupi yang sebenarnya kepada Lastri.
"Iyoo, belum toh, Lastri! Kan kamu tahu sendiri kalau Arya belum pulang ke desa ini! Enggak ada juga tanda-tandanya dia pulang! Kalau emang dia pulang, seharusnya rumah almarhum Bude Murni lampunya hidup atau ada yang datang, tapi ini kan enggak ada tanda-tandanya, lampu rumahnya juga mati," ucap Buk Ratih yang berusaha keras menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya kepada Lastri.
"Iyoo sih, Buk, ibuk benar juga! Tapi tadi kan, Buk...." Ucap Lastri yang mulai bersemangat menceritakan hal yang terjadi tadi sore di makam almarhum Bude Murni, tetapi tiba-tiba saja Buk Ratih bersuara dengan cukup keras yang membuat Lastri berhenti berbicara.
"Tadi kenapa?" Seketika Buk Ratih langsung bertanya kepada Lastri.
"Tadi waktu aku ke makam almarhum Bude Murni, makam Bude Murni itu basah dan ada taburan bunga di atas makamnya......" Saat Lastri dengan bersemangatnya menceritakan hal yang terjadi, Buk Ratih lagi dan lagi memotong ucapan itu karena dia tak ingin Lastri mengetahui hal yang sebenarnya.
"Iya, bisa jadi Pak Mukhlis yang melayat ke makam Bude Murni! Kamu enggak usah mikir terlalu jauh, Lastri! Kamu ingat yang sudah-sudah waktu kamu pikir Arya udah pulang, ternyata apa? Dia belum pulang!" Ucap Buk Ratih yang mengingatkan Lastri tentang hal yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
"Iya, bisa jadi Pak Mukhlis yang melayat ke makam Bude Murni! Kamu enggak usah mikir terlalu jauh, Lastri! Kamu ingat yang sudah-sudah? Waktu kamu pikir Arya sudah pulang, ternyata apa? Dia belum pulang!" ucap Buk Ratih yang mengingatkan Lastri tentang hal yang sudah pernah terjadi sebelumnya.