"Mau tanya apa ya buk tentang bapak Arya?" Tanya mbok Sumi dengan sedikit ragu-ragu disertai rasa khawatir karena takut Saras akan bertanya perihal Arya yang akan berkaitan dengan Lastri.
"Coba mbok ceritakan semua yang mbok tahu tentang suami saya, secarakan mbok adalah warga asli di desa ini, otomatis mbok tau dong semua yang berkaitan dengan mas Arya dari dia kecil sampai dia besar, sampai sekarang"pikir Saras dengan tak sabar ingin mendengar cerita yang berkaitan dengan suaminya dari mbok Sumi.
"Cerita tentang apa dulu buk? Saya memang sudah lama tinggal di desa ini karena saya dari lahir sudah tinggal di desa ini, akan tetapi tidak semua hal saya tahu tentang bapak Arya buk!" Ucap mbok Sumi dengan sengaja agar Saras tak terlalu jauh bertanya tentang Arya kepada mbok Sumi apalagi hal yang sangat mendetail tentang Arya kepada mbok Sumi.
"Iya iya saya paham kok mbok, saya enggak akan tanya banyak-banyak kok ke mbok, apalagi sampai mendetail kepada mbok tentang mas Arya! Saya cuma mau tau aja tentang suami saya yang mbok ketahui" ucap Saras sembari tersenyum manis.
"Iya buk saya paham, ya sudah ibuk mau nanya apa tentang bapak?" Tanya mbok Sumi sembari berharap jika pertanyaan Saras tidak akan berkaitan dengan Lastri nantinya.
"Coba mbok ceritakan sedikit tentang mas Arya yang mbok ketahui sebelum dia pergi merantau, dia itu orang seperti apa? Masa kecilnya itu bagaimana? Kenapa dia pergi merantau? Lalu ceritakan juga tentang keluarga mas Arya di desa ini, itu seperti apa? Pokoknya semua hal yang mbok tahu tentang mas Arya! Owh sekalian dengan pandangan mbok terhadap mas Arya!" Pinta Saras yang duduk di meja makan dan meminta mbok Sumi untuk duduk bersamanya.
"Maaf lancang ya buk, tapi kenapa ibu bertanya kepada saya mengenai bapak? Apa bapak tidak pernah menceritakan kehidupannya kepada ibu? Ibu kan istrinya bapak, seharusnya ibu lebih tahu tentang bapak daripada orang lain seperti saya! Apa ibu enggak tahu sama sekali tentang bapak? Maaf kalau saya lancang!" Tanya mbok Sumi yang terkesan sangat lancang, tapi apa yang dikatakan oleh mbok Sumi ada benarnya, bagaimanapun seorang istri harus lebih mengetahui dan memahami suaminya sendiri dibandingkan orang lain.
"Mbok tidak lancang kok! Apa yang mbok katakan itu benar! Saya bukannya tidak tahu, akan tetap hanya sedikit yang saya tahu tentang suami saya! Mas Arya jarang sekali bercerita mengenai kehidupannya! Dia hanya pernah bercerita sedikit tentang asalnya yang dari desa dan memiliki seorang ibu yang dia tinggal di desa karena himpitan ekonomi, dia juga cerita tentang mimpinya dan impiannya yang ingin hidup bahagia di desa bersama ibunya. Itu saja yang saya tahu mengenai mas Arya, selebihnya saya tidak tahu apa-apa tentang dirinya!" Ucap Saras yang tampak sedih karena sebagai seorang istri, dia ingin lebih mengenal suaminya lebih dalam.
Mbok Sumi yang merasa iba dan mengerti perasaan Saras, akhirnya mematikan kompor dan duduk bersama Saras di meja makan untuk memenuhi permintaan majikannya itu.
"Ya udah saya cerita yang saya tahu aja ya buk! Menurut saya bapak Arya itu orang yang baik, dia itu sangat rajin dan sangat pekerja keras. Sebelum merantau ke kota, bapak Arya selalu ikut membantu kedua orangtuanya di ladang karena mayoritas penduduk desa adalah petani, pak Arya dengan sangat rajin dan penuh cekatan pergi ke ladang setiap harinya untuk membantu ayah dan ibunya, tapi seiring waktu ayahnya sakit dan meninggal dunia dan setelah itu pak Arya yang menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi tulang punggung keluarga, setiap pagi pak Arya pergi ke ladang untuk bekerja, akan tetapi saat itu nasib tidak baik bagi pak Arya dan keluarganya, pak Arya mengalami kegagalan panen secara terus menerus dikarenakan kondisi cuaca ditambah hama, oleh sebab itu pak Arya akhirnya memutuskan untuk pergi merantau ke kota agar dapat mencukupi kebutuhan hidup dan memperbaiki ekonomi keluarga" mbok Sumi bercerita mengenai kehidupan Arya yang cukup menyedihkan dengan sebatas yang dia tahu saja.
Mendengar cerita mbok Sumi membuat Saras merasa sedih karena ternyata kehidupan suaminya sangatlah berat, dia tak pernah menyangka jika hidup suaminya sangatlah susah.
"Aku benar-benar enggak menyangka kalau hidup mas Arya akan sesusah itu, aku tahu kalau mas Arya pergi merantau karena ekonomi, tapi tidak ku sangka akan sesusah itu!" Saras jadi sedih setelah mendengar cerita tentang suaminya.
"Penduduk desa memang hidupnya sederhana, mayoritas kami hanya bekerja menjadi petani dan pedagang dengan memanfaatkan ladang dan persawahan, makanya banyak yang memilih pergi merantau ke kota dengan harapan bisa meningkatkan ekonomi yang lebih baik" jawab mbok Ratih yang menjelaskan kepada Saras tentang keadaan kehidupan di desa yang tidaklah mudah dan cukup sulit.
"Lalu apa lagi yang mbok ketahui tentang mas Arya?" Tanya Saras kembali yang ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang Arya.
"Arya adalah anak yang sangat berbakti, dia manusia penuh janji dan mimpi, tapi sayangnya arya tak bisa menepati janji yang dia buat karena keadaan dan kondisi yang di luar kendali!" Maksud ucapan dari mbok Sumi berkaitan dengan janji selama hidupnya, tak hanya janji kepada kedua orangtuanya, namun juga janji Arya kepada Lastri yang tak bisa ditepati.
"Aku tahu mbok, janji mas Arya kepada ibunya yang tak bisa ditepati karena ibu mas Arya yang sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan dunia ini!" Jawab Saras yang tak mengetahui jika Arya juga memiliki dengan seorang wanita.
"Kamu tidak tahu saja kalau Arya juga memiliki janji dengan seorang wanita dan wanita itu adalah cinta pertamanya, wanita yang dijanjikan akan dinikahinya!" Ucap mbok Sumi didalam hatinya yang merasa kasihan dengan Saras yang sedang hamil.
"Iya buk, ngomong-ngomong kalau saya boleh tahu apa alasan ibu bisa menikah dengan bapak?" Tanya mbok Sumi yang penasaran dengan kisah Saras dan Arya.
Mendengar pertanyaan mbok Sumi, Saras langsung tersenyum dan tersipu malu.
"Maaf nih kalau saya lancang secara bapak itu hanya seorang pria desa biasa, bagaimana bisa dia menikah wanita dari kota seperti ibu?" Tanya Mbok Sumi karena bagaimanapun terlihat dengan jelas kalau Saras sangat berkelas dan Arya hanya pria desa yang tidak punya apa-apa.
"Sebenarnya saya yang jatuh cinta dengan mas Arya, bukan dia yang jatuh cinta dengan saya" jawab Saras dengan tersipu malu.
Mendengar jawaban Saras membuat mbok Sumi menjadi binggung.
"Kenapa ibu bisa jatuh cinta dengan bapak?" Tanya mbok Sumi.
"Karena dia adalah mas Arya!" Jawab Saras dengan sangat singkat.
"Maksudnya bagaimana buk?" Tanya mbok Sumi yang tak mengerti maksud dari ucapan Saras.
"Saya mencintai dia tanpa alasan! Saya mencintai dia apa adanya!" Jawab Saras dengan jelas.
"Ternyata begitu, tapi maksud saya bagaimana ibu bisa dekat dengan bapak?" Tanya mbok Sumi sekali lagi.
"Itu semua berawal dari mas Arya yang bekerja di kantor ayah saya, waktu itu dia dipekerjakan sebagai obe, dia itu sangat rajin dan sangat pekerja keras, dia juga meminta ayah saya memberikannya kesempatan untuk dapat menjadi staf, karena kegigihan dan kerja kerasnya dia berhasil menjadi staf di perusahaan dan saya terkesima dengan dia dan kami mulai berteman karena kami mendapatkan satu proyek yang sama!" Saras lantas menceritakan kepada mbok Sumi tentang kisah cintanya dengan Arya.
"Lalu bagaimana bisa sampai menikah buk?" Tanya mbok Sumi.
"Itu semua terjadi ketika ibu saya meninggal dunia dan orang yang selalu ada untuk saya adalah mas Arya dan lambat laun kami menjadi sangat dekat dan saya jatuh cinta dengan sikap dan perbuatannya kepada saya, lalu pada akhirnya kami menikah!" Ucap Saras sembari tersenyum mengingat kenangan manisnya bersama Arya.
Di rumah Buk Ratih, Lastri sedang mengemasi rumahnya dengan bersemangat dan penuh cekatan.
"Ayo Lastri kamu pasti bisa! Ayo sedikit lagi!" Ucap Lastri yang menyemangati dirinya sendiri untuk dapat menyelesaikan pekerjaan rumah dengan lebih cepat.
Sementara Buk Ratih saat ini sedang asyik memasak di dapur yang tanpa disadari semua pekerjaan itu telah pun selesai dikerjakan oleh Buk Ratih.
"Akhirnya selesai juga semua pekerjaan hari ini!" Lirih buk Ratih.
"Aku mau lihat Lastri deh sekarang!" Buk Ratih lalu pergi ke tempat Lastri berada saat ini yaitu ruang tamu.
Saat sampai, Buk Ratih melihat Lastri yang sedang asyik berkemas-kemas.
"Syukurlah dia sangat sibuk, jadi dia pasti tidak akan pergi ke rumah wanita itu! Aku jadi bisa tenang!" Pikir Bu Ratih.
"Lastri!" Panggil Buk Ratih.
"Iyoo buk? Ada apa?" Tanya Lastri.
"Kamu habis ini, jangan lupa kemas kamar juga! Lalu beri ayam peliharaan kita makan di kandangnya ya!" Perintah Buk Ratih kepada Lastri.
"Iyoo buk! Lastri akan melakukan itu semua!" Jawab Lastri dengan manis.
"Yowes, ibu capek! Ibu mau istirahat ya di kamar!" Ucap Buk Ratih yang sudah merasa sangat lelah atas semua aktivitas yang dia lakukan hari ini.
"Iyoo buk! Ibuk istirahat saja di kamar, biarkan Lastri yang mengerjakan semua pekerjaan rumah" jawab Lastri sebagai anak yang berbakti.
Buk Ratih lantas pergi ke kamarnya, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur dan seketika tertidur karena merasa sangat lelah.
Sementara Lastri melanjutkan pekerjaannya dengan sangat bersemangat dan penuh cekatan dan tanpa disadari semua pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Lastri akhirnya selesai.
"Akhirnya selesai juga semuanya!" Lastri lalu duduk di atas sofa karena merasa lelah atas semua yang sudah dia kerjakan.
Lastri tak sengaja melihat ke arah jam didinding dan melihat bahwa sekarang pukul tiga sore.
"Loh ternyata baru jam 3 ya, masih ada waktu cukup banyak nih!" Pikir Lastri.
Di rumah Saras, Saras sedang duduk di rumah tamu sambil menonton TV.
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Permisi!" Terdengar suara seorang wanita.
Saras yang mendengarnya lantas berjalan mendekati pintu dan membuka pintu.
"Lastri!" Ketika Saras membuka pintu, dia terkejut karena yang datang ke rumahnya adalah Lastri.