Di rumah Buk Lastri tampak Lastri yang masih membantu ibunya berdagang, dan pada waktunya akhirnya dagangannya pun habis, Lastri yang merasa sudah selesai membantu ibunya dalam berjualan, mencoba izin kepada ibunya untuk dapat pergi berkunjung ke rumah Saras karena dia ingin sekali pergi ke rumah Saras.
"Buk, semuanya sudah selesai kan?" Tanya Lastri dengan mata yang berbinar-binar karena tak sabar ingin bermain ke rumah Saras yang sangat dia sukai dan dianggapnya sangat indah.
Buk Ratih yang sangat mengerti tentang Lastri langsung mengerti jika Lastri pasti sekarang ingin pergi ke rumah wanita kota yang mengajaknya berkunjung dan tentu saja Buk Lastri tak ingin jika hal itu sampai benar-benar terjadi, dia tak ingin Lastri pergi ke rumah wanita itu.
"Belum Lastri! Kita harus bersih-bersih dulu dan mengemasi warung toh!" Ucap Buk Ratih yang dengan sengaja memberikan pekerjaan baru untuk Lastri sehingga dapat memperlambat waktu untuk Lastri bisa bermain.
"Owh iya! Ya sudah baik kalau begitu buk! Lastri akan mengerjakan semua yang ibu bilang!" Lastri lantas dengan bersemangat menantu ibunya berkemas-kemas, mulai dari memasuki semua barang bekas tempat dagangan ibunya dan tak lupa mencuci semua wadah itu hingga bersih dan menyapu warung serta menutup warung hingga bersih dan rapi.
Setelah semuanya selesai, Lastri lalu berbicara dengan ibunya untuk dapat pergi ke rumah Saras.
"Buk! Lastri udah selesai mengerjakan semuanya!" Ucap Lastri yang tampak senang dengan tersenyum penuh arti.
"Wah cepat sekali kamu kerjakan! Anak ibu rajin sekali ya!" Ucap Buk Ratih yang memuji Lastri sembari mengupas bawang untuk persiapan memasaknya hari ini.
"Iya haru dong buk! Kalau begitu apa sekarang Lastri boleh pergi?" Tanya Lastri dengan malu-malu yang sudah tak sabar bisa bermain dengan Saras di rumah Saras.
"Iyoo ndak boleh toh Lastri!" Jawab Buk Ratih yang tak sengaja keceplosan dengan suara yang cukup tinggi seakan marah dan membentak Lastri yang tentu membuat Lastri terkejut dan binggung dengan larangan ibunya itu.
"Loh kenapa buk? Kenapa Lastri enggak boleh pergi?" Tanya Lastri dengan merasa heran karena ibunya biasanya selalu mengizinkannya pergi kemana pun karena setiap harinya Lastri selalu pergi ke rumah bude murni sebelum bude murni meninggal dan setelah bude murni meninggal, Lastri rajin pergi ke makam bude murni di TPU yang tempatnya cukup jauh dari rumah mereka karena Lastri selalu pergi dengan berjalan kaki tanpa menggunakan kendaraan dan tak lupa, Lastri juga selalu pergi ke alun alun desa, tempat dia untuk mencari kesenangan karena keindahan alam di desa yang luar biasa dan sangat menyejukkan mata dan hati.
"Astaga! Aku ngomong apa sih? Kok aku malah ngomong kayak gitu? Bisa-bisanya aku ngelarang Lastri pergi dan membentak dia!" Ucap Buk Ratih di dalam hatinya yang tersadar jika dia sudah salah bertindak.
"Enggak kok Lastri, maksud ibu ya bantu ibu dulu toh! Ibu masih butuh bantuan kamu di sini! Apa kamu enggak mau bantuin ibu? Apa kamu mau membiarkan ini mengerjakan semuanya sendiri?" Ucap Buk Ratih yang langsung mengelak dan berusaha meyakinkan Lastri untuk tidak jadi pergi.
"Baik buk! Jadi apa lagi yang harus Lastri lakukan? Apa lagi yang harus Lastri bantu buk? Semuanya kan udah selesai aku kerjakan!" Ucap Lastri dengan raut wajah yang tampak murung karena tak dapat pergi ke rumah Saras.
"Loh kamu enggak mau bantu ibu beres-beres di rumah? Rumah kita kan belum dibersihkan seperti di dapur, lantai ruang tamu belum juga di pel, baju kotor juga belum di cuci. Kamu enggak mau bantu ibu mengerjakannya?" Tanya Buk Ratih dengan sengaja agar Lastri tak memiliki waktu untuk keluar rumah dan hanya bisa di dalam rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah, apalagi pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh Lastri sangatlah banyak dan bisa dipastikan bagi Buk Ratih kalau Lastri tak akan bisa menyelesaikan semuanya sebelum menjelang magrib.
"Yowes toh buk kalau begitu! Lastri enggak jadi pergi, Lastri jadinya bantuin ibuk saja di rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah!" Jawab Lastri dengan kecewa, tapi bagaimanapun dia tetap akan menuruti apapun permintaan ibunya, karena dasarnya Lastri adalah gadis desa sederhana yang sangat penurut dan rajin serta berbakti kepada ibunya.
Lastri yang tak jadi pergi, lantas mulai mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun terlihat jika dia sangat kecewa karena tak dapat pergi, tapi dia dengan penuh semangat dan keikhlasan membantu ibunya mengerjakan pekerjaannya rumah.
Di rumah Saras, Saras yang merasa bosan memilih untuk menghampiri mbok Sumi yang saat ini sedang berada di dapur mengerjakan pekerjaan rumah.
"Mbok Sumi! Lagi ngapain tuh?" Tanya Saras yang sengaja berbasa-basi dengan mbok Sumi untuk mengisi kebosanannya, padahal pertanyaannya sangatlah tidak penting.
"Ini saya lagi mempersiapkan bahan masakan untuk makan siang Buk Saras!" Jawab Mbok Sumi dengan lembut dan penuh hormat karena Saras adalah majikannya dan dia hanya pembantu yang dipekerjakan oleh Saras di rumah ini.
Saras lalu duduk di meja makan dan memperhatikan mbok Sumi dengan seksama sembari tersenyum tipis menatap mbok Sumi.
"Makan siang apa hari ini mbok?" Tanya Saras kepada mbok Sumi.
"Hari ini saya rencana mau masak ayam goreng sama tumis buncis kacang panjang untuk makan siang buk Saras!" Jawab mbok Sumi sembari memotong kacang panjang.
"Wihh enak tuh! Udah lama juga saya enggak makan buncis" Saras memuji mbok Sumi karena dia juga sudah lama tidak memakan makanan yang akan dimasak oleh mbok Sumi.
Mbok Sumi hanya tersenyum sembari melanjutkan pekerjaannya dan memilih untuk fokus melanjutkan pekerjaannya yang membiarkan Saras memperhatikannya, sementara Saras terus memperhatikan mbok Sumi dengan seksama untuk mengisi kebosanannya.
Semakin lama Saras memperhatikan mbok Sumi, dia menjadi semakin merasa jenuh, sehingga dia berinisiatif untuk membantu mbok Sumi memasak dan tentu saja mbok Sumi melarang Saras untuk membantunya karena Saras adalah majikannya ditambah lagi Saras sama sekali tidak bisa memasak karena Saras adalah gadis kaya yang semua pekerjaan rumahnya dikerjakan oleh pembantu, hal ini sebelumnya sudah diketahui oleh mbok Sumi dari pak Mukhlis.
"Mbok aku bantu mbok masak yaa!" Saras lalu mengambil kacang panjang dihadapannya dan berniat memotongnya sebelum dijawab oleh mbok Sumi.
"Ehhhh jangan loh buk! Jangan lakukan itu! Biar saya saja yang lakukan semuanya sendiri! Ibuk diam saja di sini!" Ucap mbok Sumi yang melarang Saras karena mbok Sumi sudah tahu semuanya tentang Saras dari pak Mukhlis dan Arya, Arya juga melarang keras Saras untuk melakukan pekerjaan rumah apalagi memasak.
"Lho kenapa mbok? Aku mau bantu mbok kok! Masak enggak boleh sih? Aku bantu ya mbok! Boleh dong! Kenapa aku enggak boleh bantu mbok masak?" Tanya Saras yang merasa sedikit kecewa karena tidak diperbolehkan masak dengan mbok Sumi, sedangkan dia ingin sekali mengisi Kebosanannya dengan memasak.
"Udah buk, ibuk duduk aja! Ibuk kan majikan saya! Biarkan saya mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga di rumah ini! Enggak mungkin saya biarkan ibuk bekerja! Ini tugas saya! Saya kan juga di bayar di sini untuk mengerjakan pekerjaan rumah!" Jawab mbok Sumi dengan suara yang sopan dan terkesan lembut, tapi sangat tegas dan penuh keberanian untuk menegur majikannya.
"Ya sudah deh kalau gitu!" Saras yang merasa kecewa dan cukup bete lantas pergi dari hadapan mbok, dia pergi ke ruang tamu dan duduk di sana sambil merenungkan kejenuhannya saat ini.
"Aku bete banget di sini! Aku bosan banget di sini! Apa enggak ada hal yang bisa aku lakukan selain jalan-jalan berkeliling desa?" Pikir Saras dengan sangat jenuh dan cukup bosan.
"Kalau gini aku jadi kangen kota deh! Kalau di kota aku bisa ke mall, ke salon, belanja, panggil teman-teman ku buat main ke rumah! Banyak deh yang bisa aku lakukan!" Pikir Saras yang tanpa sadar dia merindukan tempat tinggalnya sebelumnya, padahal dia sendiri yang dengan keras kepala memilih menetap tinggal di desa mengikuti Arya.
"Ehhhh apa sih yang sebenarnya aku pikirkan? Enggak enggak! Aku enggak boleh punya pikiran seperti itu!Ini semua pilihan aku untuk ikut dengan mas Arya tinggal di desa! Aku enggak boleh ngomong kayak gini lagi! Aku enggak boleh merindukan kota lagi! Aku enggak boleh menyesali apapun!"" Pikir Saras yang berusaha menyakinkan dirinya sendiri kalau dia tidak boleh menyesali pilihannya.
Saras berusaha keras untuk menutupi keinginannya sendiri agar dapat mewujudkan mimpi Arya, akan tetapi tetap saja Saras pasti akan merasa bosan karena tinggal di desa merupakan hal yang baru baginya dan dia sebagai gadis kota kaya raya tentu tidak terbiasa dengan hal ini.
"Tadi Lastri juga enggak jadi ke sini! Coba aja kalau Lastri jadi main ke tempat ku, pasti aku sekarang enggak akan bosan seperti ini!" Pikir Saras yang teringat dengan Lastri.
"Sekarang aku harus ngapain? Mau ganggu mas Arya enggak bisa! Mau pergi enggak tau arah!" Saras sangat jenuh dan bete dengan apa yang terjadi saat ini.
"Aku mau ngapain ya sekarang? Aku benar-benar enggak tahu harus melakukan apa!" Pikir Saras yang sangat jenuh dan bosan.
"Owh iya!" Tiba-tiba saja Saras mendapatkan sebuah ide.
"Mending aku bertanya tentang mas Arya dengan mbok Sumi. Mbok Sumi pasti tahu semua yang berkaitan tentang mas Arya, secara dia kan warga asli desa ini!" Pikir Saras yang akhirnya mendapatkan sebuah ide untuk mengisi kejenuhannya.
Saras lantas berjalan ke dapur menghampiri mbok Sumi yang sedang memasak.
"Mbok Sumi" panggil Saras.
"Iyoo buk, ada apa?" Tanya mbok Sumi.
"Aku mau nanya deh sama mbok! Boleh kan?" Tanya Saras.
"Iyoo boleh lah buk, ibuk mau tanya apa?" Ucap mbok Sumi.
"Soal mas Arya!" Jawab Saras.
Mendengar hal itu seketika membuat mbok Sumi terkejut karena takut pertanyaan itu akan berkaitan dengan Lastri.