Latar Belakang Saras

1499 Kata
"Jadi namanya...." Saat Saras hendak memberitahukannya kepada Arya, tiba-tiba saja terdengar bunyi suara telepon. Arya yang menyadari handphonenya berbunyi lantas mengangkatnya. "Sebentar ya, Saras, mas angkat telepon dulu!" ucap Arya. "Oh iya, mas, baik!" jawab Saras. Arya lantas mengangkat teleponnya, sementara Saras melanjutkan sarapannya. Tak berselang lama, Arya kembali. "Sudah, mas? Siapa tadi yang nelpon?" tanya Saras sembari melihat dan menatap Arya. "Pak Abu yang menelpon! Biasa bahas urusan pekerjaan! Kamu kan tahu sendiri!" Pak Abu adalah bawahan Arya dalam pekerjaannya di desa ini. Arya ditugaskan di desa ini sebagai kepala proyek untuk tambang karena Arya bekerja di perusahaan tambang di kota. Kebetulan, di desa ini memiliki sumber tambang timah yang sangat berlimpah, jadi Arya dipindah tugaskan untuk menjadi kepala proyek di desa ini. "Owh, ternyata Pak Abu! Dia ngomong apa, Mas, sama kamu? Apa ada masalah dengan proyeknya?" tanya Saras yang penasaran dan mengenal siapa itu Pak Abu. "Enggak kok! Enggak ada apa-apa! Enggak ada masalah dengan proyek! Pak Abu menelpon aku, cuma buat ngasih tahu kalau para pekerja semuanya sudah berkumpul di tambang, mereka semua sedang menungguku!" jawab Arya yang memberitahukan semua obrolannya dengan Pak Abu kepada Saras, karena selama ini Arya selalu memberitahukan semua hal kepada Saras, khususnya dalam hal pekerjaan. "Ya udah, kalau gitu kamu juga harus siap-siap dengan segera, Mas! Enggak baik membuat mereka menunggu kamu terlalu lama! Kasihan mereka menunggu kamu!" pinta Saras yang menganggap waktu itu sangat berharga. "Enggak papa kok, santai saja. Aku sudah menyuruh mereka untuk melanjutkan pekerjaannya terlebih dahulu tanpa aku, karena aku masih mau di sini menemani istriku yang sedang hamil!" ucap Arya yang berniat menggoda Saras dan bersikap sebagai suami yang sangat menyayangi, mencintai, serta peduli kepada istrinya. "Iiihhhhh, kamu enggak boleh gitu, Mas! Enggak baik, tahu, membuat orang menunggu kamu! Udah, kamu pergi kerja aja! Lagipula, aku enggak papa kalau kamu tinggal. Sekarang kan sudah ada Mbok Sumi! Aku enggak sendiri kok, jadi kamu enggak perlu khawatir!" pinta Saras, karena bagaimanapun menurut Saras, tidak baik membuat orang lain menunggu kita dan sekarang ada Mbok Sumi di rumahnya. "Kamu yakin nih enggak mau aku di sini lebih lama bersama kamu? Kamu yakin mau biarkan aku pergi?" tanya Arya yang tak percaya jika Saras bisa tanpa dirinya, karena Saras adalah orang yang sangat manja. "Iya, Mas! Aku yakin banget! Sudah, kamu pergi saja sana!" jawab Saras dengan cemberut karena tingkah Arya kepadanya. "Ya sudah, iya deh, kalau begitu aku pergi dulu ya, Saras!" Arya lantas pamit kepada istrinya terlebih dahulu untuk pergi bekerja. "Ehhh, Mas! Mas Arya! Tunggu dulu!" panggil Saras yang seketika menghentikan langkah kaki Arya. "Iya! Kenapa, Saras?" tanya Arya dengan heran. "Kamu lupa ya, Mas?" ucap Saras dengan tersenyum penuh makna. "Lupa? Lupa apa, Saras?" tanya Arya dengan heran dan bingung. Saras lalu menunjuk perutnya, berharap Arya peka dan mengerti apa yang diinginkan oleh Saras. Beruntungnya, Arya peka dan memahami maksud istrinya, "Owh, iya, aku lupa! Maaf ya, Saras!" Arya lalu kembali mendekati Saras, dia berpamitan terlebih dahulu dengan bayi yang ada di kandungan Saras dan mencium perut Saras. "Sudah kan? Kalau begitu, aku pergi dulu ya!" Karena merasa sudah melakukan semuanya, Arya lalu berpamitan kembali untuk pergi bekerja kepada istrinya, Saras. "Ehhh, Mas! Mas Arya! Tunggu!!" Saras memanggil kembali suaminya itu dengan raut wajah yang bete. "Ada apa lagi? Apa lagi, Saras?" tanya Arya dengan wajah yang bingung. Saras lalu memberikan tangannya kepada Arya dengan sangat lembut. "Aku mau salam kamu dulu, sebelum kamu pergi kerja!" Saras ternyata ingin menyalami suaminya dulu sebelum Arya pergi bekerja. "Owh, astaga, aku lupa!" Arya lalu mendekat kembali ke arah Saras. Saras lalu mencium tangan suaminya dengan lembut dan penuh kasih sayang, yang kemudian dibalas dengan ciuman hangat yang dilakukan oleh Arya di kening Saras. Setelah itu semua terjadi, Arya lalu pergi ke tempat kerjanya. Setelah Arya pergi, Saras lantas melanjutkan sarapannya. Ketika sudah selesai sarapan, Saras pergi ke ruang tamu dan membuka handphonenya. Dia tak sengaja melihat galeri yang menyimpan sebuah foto keluarga yang terdiri dari empat orang. Di dalam foto itu terdapat seorang ayah yang tampak gagah sedang duduk, ibu yang tampak cantik duduk di sebelah ayah, dan kakak laki-laki Saras beserta Saras itu sendiri yang tampak tersenyum bahagia di foto. Foto keluarganya tampak seperti keluarga kaya raya dan sangat terpandang. Foto itu membuat Saras teringat dengan kenangan-kenangan yang pernah terjadi antara dia dan keluarganya. Dia teringat bagaimana harmonisnya keluarganya dan betapa bahagianya dirinya saat itu, memiliki ibu yang senantiasa menyayanginya dan selalu mendengarkan curahan isi hatinya, serta ayah yang selalu memberikan cinta dan kasih sayang yang sangat peduli kepadanya dan selalu memasang badan ketika terjadi sesuatu kepadanya. Selain itu, ada juga kakak laki-lakinya yang tampan, yang hanya berjarak lima tahun darinya, yang sangat peduli kepadanya dan penuh perhatian. Saras sebenarnya adalah anak dari pemilik perusahaan tempat Arya bekerja, yaitu sebuah perusahaan yang bergerak di pertambangan bernama PT. Mulia Aswari Group, yang termasuk salah satu perusahaan besar, terkemuka, dan terpandang yang memiliki penghasilan hampir triliun per tahun. Arya adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa bekerja di PT. Mulia Aswari Group. Melalui kerja keras dan usahanya, dia diterima masuk ke dalam perusahaan ini. Akan tetapi, posisi tinggi yang didapatkan oleh Arya di dalam perusahaan masih berkaitan dengan campur tangan dari Saras, karena Arya memiliki hubungan spesial dengan Saras, anak dari pemilik PT. Mulia Aswari Group. Seperti yang diketahui, Saras bukanlah anak tunggal, melainkan memiliki seorang kakak laki-laki yang sekarang menjadi pemilik perusahaan itu. Hal ini dikarenakan beberapa bulan yang lalu, saat Saras dan Arya baru saja menikah, ayah Saras meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Sehingga, otomatis perusahaan itu diwariskan kepada kakak laki-lakinya yang merupakan seorang ahli waris. Akan tetapi, bukan berarti Saras tidak mendapatkan apa-apa dari keluarganya; dia tetap mendapatkan warisan dan harta peninggalan dari orangtuanya. Faktanya, dia mendapati sejumlah aset yang dimiliki kedua orangtuanya, seperti beberapa rumah beserta tanah dengan ukuran yang cukup luas yang dimiliki oleh keluarganya dan sejumlah uang tunai dengan jumlah yang sangat fantastis, hampir tiga triliun rupiah. Kakak laki-laki Saras sangat tidak menyukai Arya karena perbedaan status Arya dan Saras yang sangat tinggi, di mana Arya hanya pria kampung biasa yang tidak memiliki harta maupun tahta, sementara Saras adalah gadis kaya raya yang cantik jelita dan berasal dari keluarga terpandang. Namun, meskipun begitu, dia tetap menyetujui pernikahan adiknya karena rasa sayangnya yang luar biasa kepada Saras, apalagi pernikahan itu terjadi di luar kendalinya dan orang tuanya. Sebenarnya, kakak laki-laki Saras tidak setuju dengan kepergian Saras yang akan menetap bersama Arya di desa Sukajaya. Dia tidak ingin adiknya tinggal di desa dan jauh darinya beserta keluarga besar mereka. Apalagi, kakak laki-laki Saras merasa masih harus bertanggungjawab secara penuh untuk menjaga dan melindungi adiknya, karena itu adalah permintaan ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Sementara itu, Saras sangat keras kepala dan tetap pada pendiriannya untuk mengikuti ke mana pun suaminya pergi. Keinginan untuk ke desa Sukajaya adalah keinginan yang selama ini diinginkan oleh Arya, yang sudah sangat rindu dengan kampung halamannya dan juga ibunya yang ditinggalkannya saat merantau. Saras sudah mengetahui semua itu karena Arya bercerita kepadanya, sehingga Saras lebih memilih bertengkar hebat dengan kakaknya untuk mengikuti egonya agar dapat tetap bersama suaminya, Arya. Kepala proyek yang akan bekerja di desa ini bukanlah Arya, melainkan orang lain yang sudah digantikan oleh Arya. Akan tetapi, berkat keinginan Saras, orang yang pergi bekerja ke desa ini dapat diganti dengan mudah menjadi Arya. Sehingga, kakak laki-laki Saras marah besar atas perubahan tersebut kepada Arya dan bertengkar hebat dengan Saras, yang menyebabkan terjadinya kerenggangan hubungan persaudaraan antara Saras dan kakak laki-lakinya itu. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Saras merasa bersalah atas kerenggangan hubungan persaudaraan yang terjadi antara dia dan kakak laki-lakinya, karena bagaimanapun masih terdapat sedikit rasa penyesalan dalam diri Saras yang tersimpan terhadap semua yang telah terjadi. Namun, dia juga merasa harus melakukan ini karena dia adalah istri dari Arya. Dia harus mengikuti egonya untuk dapat mengabulkan impian suaminya yang terpendam selama ini, karena dia sangat mencintai Arya. Kematian Ayah Saras memiliki kaitan dan hubungan dengan Saras dan Arya karena sesungguhnya ayah Saras juga sama dengan kakak laki-lakinya, yaitu tidak mengizinkan Saras memiliki hubungan dengan Arya yang dianggap tidak sederajat. Saras yang merupakan gadis cantik, pintar, dan kaya raya, jelas sangat tidak pantas mendapatkan laki-laki miskin yang tidak memiliki apa-apa. Namun, Saras yang keras kepala tetap bertahan dengan pendiriannya sehingga melawan ayahnya, yang menyebabkan ayahnya sakit. Ketika Saras memutuskan untuk menikah dengan Arya tanpa izin keluarganya, hal tersebut benar-benar membuat ayah Saras terkejut dan terkena serangan jantung hingga mengakibatkan ayahnya meninggal dunia. Kakak laki-laki Saras sebenarnya sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan oleh adiknya itu karena menyebabkan ayah mereka meninggal dunia. Namun, dia teringat dengan pesan ayahnya untuk menjaga dan melindungi adiknya, karena Saras tetaplah adik kandungnya. Oleh itu, kakaknya berusaha bersikap baik dengan Arya, yaitu memberikannya posisi yang cukup tinggi di perusahaan. Namun, apa yang dilakukan Saras justru di luar dugaan. Saras malah ingin pergi bersama suaminya dan menetap di sebuah desa tempat asal suaminya, sehingga mengakibatkan kakaknya marah besar dan terjadi pertengkaran hebat antara keduanya yang menyebabkan kerenggangan hubungan persaudaraan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN