Perkara Sarapan

1486 Kata
Mendengar ucapan Saras kepada Lastri, seketika membuat Buk Ratih naik pitam dan darahnya mendidih, karena bagaimanapun Saras adalah orang yang menyebabkan semua kekacauan ini terjadi dan bisa dikatakan Saras adalah orang yang merebut Arya dari Lastri dan menghancurkan kebahagiaan Lastri. Sementara Lastri tentu saja merasa senang ketika mendengar ajakan dari Saras untuk berkunjung ke rumahnya karena Lastri juga sangat menyukai rumah Saras yang beberapa kali dia lihat ketika berjalan-jalan di desa. Akan tetapi, harapan itu harus musnah karena tiba-tiba saja Buk Ratih melarang Lastri untuk pergi ke rumah Saras. "Maaf ya, mbak, Lastri tidak bisa pergi! Lastri harus tetap di sini membantu ibunya!" ucap Buk Ratih yang menyela pembicaraan dua wanita itu. "Enggak bisa ya?" tanya Saras sekali lagi dengan harapan Buk Ratih dapat mengubah pikirannya. "Iya, enggak bisa! Lastri harus bantu ibunya!" ucap Buk Ratih dengan tegas disertai raut wajah yang galak. Saras lalu melihat ke arah Lastri yang sepertinya tampak ingin ikut bersamanya, tetapi lebih memilih menuruti keinginan ibunya. "Ya sudah kalau tidak boleh, tidak apa-apa!" Suara Saras terdengar cukup kecewa mendapat penolakan dari Buk Ratih. Begitu juga dengan Lastri yang merasa kecewa karena jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin sekali berkunjung ke rumah Saras dan bermain dengan Saras. Bukan hanya karena Saras orangnya sangat seru, tetapi sudah lama Lastri takjub melihat rumah itu karena dia sering melewati rumah itu sebelum ditempati oleh Saras. Rumah Saras sangatlah indah bagi Lastri; ingin sekali dia memiliki rumah seperti itu suatu hari nanti. Namun, dia sadar jika rumah itu bukanlah miliknya, akan tetapi dia selalu bermimpi dan berharap jika suatu saat rumah itu akan menjadi tempat tinggalnya nanti bersama Arya. Namun, kenyataannya rumah itu telah ditempati oleh Saras, dan hal yang tak diketahui oleh Lastri adalah rumah itu adalah rumah Arya bersama istrinya. "Maaf ya, Mbak Saras, aku enggak bisa pergi ke rumahmu! Aku harus membantu ibuku di sini!" ucap Lastri yang bagaimanapun pasti akan menuruti keinginan ibunya karena pada dasarnya dia adalah anak yang berbakti. "Iya, enggak apa-apa kok, Lastri. Aku paham dan aku mengerti, tapi nanti kapan-kapan kalau kamu enggak sibuk, kamu main ke rumahku ya!" ajak Saras dengan penuh harapan karena dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama Lastri dan berteman dengan Lastri. "Wah, makasih banyak ya atas tawarannya, Mbak Saras! Aku pasti akan main nanti ke sana!" ucap Lastri dengan sangat senang dan penuh semangat. "Baik, kalau begitu aku pamit dulu ya, Lastri. Makasih ya untuk semuanya!" Saras lalu pamit dan pergi dari tempat itu untuk pulang ke rumahnya. Buk Ratih benar-benar menutup telinganya untuk semua percakapan antara Lastri dan Saras. Hanya ketika dia mendengar ajakan Saras kepada Lastri, barulah dia membuka telinga dan suaranya. Dia juga tidak mengingat nama Saras karena dia membenci Saras, sehingga dia tidak tahu siapa nama wanita kota itu. Setelah Saras pergi, Buk Ratih dan Lastri melanjutkan pekerjaan mereka untuk menjual nasi uduk sampai habis. Sementara itu, Saras yang baru sampai di rumahnya langsung disambut oleh Arya yang sudah menunggunya di ruang tamu. Saras masuk ke dalam rumah dan seketika terkejut mendapati suaminya sedang duduk di sofa, lalu langsung bertanya kepadanya, "Kamu dari mana?" tanya Arya yang sedang duduk di sofa. "Mas Arya, kok ngagetin aku sih! Aku habis beli sarapan tadi!" jawab Saras yang benar-benar terkejut karena sedang asyik-asyiknya malah dikejutkan oleh suaminya yang sudah menunggu. "Kamu lho, kalau kemana-mana, ya izin dulu sama suami! Jangan pergi-pergi saja tanpa izin! Aku kan khawatir sama kamu! Aku takut kamu kenapa-kenapa, apalagi kamu itu lagi hamil!" ucap Arya yang sangat khawatir dan peduli dengan Saras yang sedang hamil. "Iya, Mas, aku minta maaf. Tadi aku lihat kamu masih tidur, aku merasa bosan, jadi aku pilih jalan-jalan di sekitar desa untuk mengenal desa ini juga!" Saras menjelaskan alasannya kepada Arya. "Terus, kamu mampir ke mana sampai bisa lama begini?" tanya Arya yang sudah menunggu Saras hampir 2 jam karena sudah hampir jam sembilan pagi. "Waktu aku jalan-jalan, aku enggak sengaja ketemu warung nasi uduk yang sangat ramai, jadi aku beli deh! Rasanya pasti enak sih, soalnya ramai yang beli. Wangi nasi uduknya juga sangat enak sampai tercium sama aku yang lagi jalan! Jadinya, aku mengantri dulu! Maafin aku ya, Mas!" Saras berusaha menjelaskan kepada suaminya jika dia memiliki alasan kenapa tidak izin terlebih dahulu dengan Arya. "Ya udah, aku maafin! Tapi ingat ya, lain kali kalau kemana-mana, izin dulu sama suami! Aku kan khawatir, takut terjadi sesuatu sama kamu! Tiba-tiba aku bangun, kamu udah enggak ada di kamar! Aku cari kamu di dapur juga nggak ada!" pinta Arya. "Iya, Mas, aku janji, aku enggak akan ulangi lagi! Ya sudah, Mas, ayo kita sarapan bersama! Aku juga sudah beli lebih untuk kamu sekalian! Baunya enak loh, Mas, dijamin kamu enggak akan menyesal!" Saras lantas mengajak Arya sarapan bersamanya. Saras lalu menarik tangan Arya, dan mereka berdua pergi ke meja makan untuk sarapan bersama. Di dapur, Saras bertemu dengan Mbok Sumi yang sedang bekerja. Dia lalu menyapa Mbok Sumi dan mengajak Mbok Sumi untuk sarapan bersamanya dan juga Arya. Padahal, tidak etis rasanya seorang pembantu makan di meja yang sama bersama dengan majikannya, tapi Saras itu berbeda. Meskipun dia kaya dan punya kuasa, dia sangat baik hati dan sama sekali tidak sombong. "Selamat pagi, Mbok Sumi! Mbok Sumi sudah sarapan belum?" sapa dan tanya Saras. "Pagi, Buk! Belum, toh, Buk. Saya mau membereskan ini semua dulu!" jawab Mbok Sumi yang sedang mencuci piring dan membersihkan dapur. "Tinggalkan saja semuanya, Mbok! Ayo sarapan bersama kami, kebetulan aku sudah belikan sarapan juga untuk Mbok Sumi!" ajak Saras yang perhatian kepada orang yang dia pekerjakan. "Iya, Mbok! Mari ikut sarapan bersama kami!" Sama halnya dengan Saras, Arya juga mengajak Mbok Sumi untuk ikut sarapan bersama mereka. "Wih, makasih banyak, toh, Buk, sudah dibelikan sarapan, tapi tidak apa-apa, Ibu duluan saja sama Bapak sarapannya! Nanti saya sarapan sendiri saja! Masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan!" ucap Mbok Sumi yang sebenarnya tak ingin mengganggu majikannya dan dia juga tak ingin makan di satu meja yang sama dengan majikannya. "Sayang banget, deh, Mbok Sumi enggak mau ikutan! Ya sudah, kami duluan ya, Mbok!" ucap Saras. "Mari, Mbok!" ucap Arya. Mbok Sumi lantas melanjutkan pekerjaannya dan memilih menghiraukan Saras serta Arya; dia fokus pada apa yang harus dia lakukan. Keduanya lalu membuka bungkusan itu dan mencoba memakannya. Ketika suapan pertama, Saras benar-benar terkejut karena rasanya sangat enak. Nasi uduk di desa sangat berbeda dengan nasi uduk yang dijual di kota, tetapi rasanya luar biasa enaknya. "Enak banget ya, Mas!" Dengan lahap, Saras memakannya dan memuji makanan itu. Sementara saat suapan pertama di mulut Arya, dia justru seperti flashback dan teringat dengan kenangannya bersama Lastri dahulu, karena rasa nasi uduk yang dia makan saat ini sama persis dengan yang pernah dia makan bersama Lastri dahulu. "Kok rasanya nggak asing ya di lidahku? Kenapa rasanya mirip sama yang pernah aku makan bersama Lastri waktu itu? Enggak salah lagi, ini persis dengan makanan yang dibuat oleh Lastri dan ibunya!" pikir Arya. "Tunggu dulu! Apa jangan-jangan makanan ini memang makanan yang dijual oleh Lastri bersama ibunya? Mereka memang menjual nasi uduk!" Seketika Arya mulai kepikiran sesuatu dan merasa cukup panik. Arya lalu memandangi Saras dengan seksama. "Apa jangan-jangan Saras pergi membeli nasi uduk di rumah Buk Ratih dan Lastri? Apa jangan-jangan mereka sudah bertemu satu sama lain? Ini gawat! Ini tidak mungkin?" Seketika Arya merasa panik dan khawatir. "Saras! Kamu beli nasi uduk ini di mana?" Arya mencoba bertanya kepada Saras. "Oh, aku enggak tahu sih, Mas. Kan kamu tahu sendiri, aku enggak hapal jalan! Intinya, waktu aku jalan-jalan, aku ketemu warung nasi uduk dan itu benar-benar ramai dibeli sama orang, dan wangi nasi uduknya tercium sama aku dan bikin menggoda! Jadi langsung deh aku beli!" jawab Saras, yang memang merupakan penduduk baru di desa ini, jadi dia tidak tahu jalan dan tidak mengerti tempat-tempat yang ada di desa ini. "Astaga! Ternyata aku salah bertanya! Aku lupa Saras tidak tahu apa-apa tentang desa ini!" Arya merasa malu dengan dirinya sendiri. "Maksud mas, ceritakan saja tempatnya itu di mana!" pinta Arya. "Kenapa? Pasti karena nasi uduknya sangat enak, kan? Aku setuju sih kalau mas mau beli lagi! Soalnya emang seenak itu! Pokoknya, warungnya tidak terlalu jauh dari rumah kita, kurang lebih satu kilometer dari rumah kita! Warungnya lebih tepatnya berada di depan rumah si penjual! Rumahnya itu sederhana dengan warna abu-abu yang tidak memiliki pagar!" jawab Saras yang berusaha mendetail lokasi tempat dia membeli nasi uduk tersebut. "Owh, syukurlah ternyata bukan beli di warung Buk Ratih karena rumahnya catnya warna hijau!" Arya bernapas lega dan tenang karena istrinya tidak bertemu dengan Buk Ratih maupun Lastri. Hal yang tidak diketahui oleh Arya, cat rumah Buk Ratih memang dulunya berwarna hijau, tepatnya 5 tahun lalu sebelum dia pergi merantau ke kota. Namun, seiring bertambahnya tahun, Buk Ratih mengubah warna cat rumahnya menjadi abu-abu. "Owh iya, mas, penjualnya itu baik dan ramah banget. Aku bahkan berkenalan dan mengajaknya untuk berteman denganku!" Saras menceritakan hal yang terjadi kepadanya. "Owh iya? Siapa namanya?" tanya Arya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN