Pertemuan dengan istrinya

1487 Kata
"Loh! Buk Ratih, coba lihat deh!" Buk Ratih lantas melihat ke arah yang Buk Minah katakan. "Itu bukannya wanita kota yang datang bersama Arya? Lihat, Buk! Dia sepertinya akan datang ke sini!" ucap Buk Minah yang melihat ada seorang wanita yang hendak ke warung nasi uduk Buk Ratih. "Ngapain wanita itu ke sini, ya? Apa dia mau cari masalah?" ucap Buk Minah yang sengaja mengompori Buk Ratih karena bagaimanapun Buk Minah adalah seorang ibu-ibu yang suka menonton pertunjukan seru. Ibu-ibu lain yang berada di lokasi yang sama juga ikut membicarakan hal ini karena mereka semua adalah penduduk asli di desa ini yang sangat mengenal Buk Ratih dan juga Lastri, yang tentu saja mereka mengetahui cerita cinta antara Lastri dan Arya. "Mungkin dia ingin beli nasi uduk atau bertanya jalan!" jawab Buk Ratih yang berusaha terlihat tidak panik, tapi terlihat jelas dari wajahnya jika dia cukup sakit hati walau hanya melihat wanita itu dari arah yang cukup jauh. Semua orang yang berada di lokasi itu mulai berbicara mengenai Arya dan wanita itu, Buk Ratih yang khawatir lantas meminta warga untuk diam saja karena dia takut jika Lastri sampai mendengar obrolan mereka. "Bapak-bapak dan ibu-ibu di sini semua, saya mohon jangan bicara apa-apa lagi ya! Apapun yang berkaitan dengan Arya maupun Lastri, termasuk wanita itu! Saya minta tolong jangan dibicarakan! Saya mohon sekali dengan pengertian Anda!" pinta Buk Ratih yang tak ingin Lastri sampai menyadari hal ini, apalagi mulut para warga desa yang tidak bisa direm. Namun, ada baiknya jika kita mencoba untuk meminta tolong. Baik bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di tempat itu dapat mengerti dan memahami keadaan Buk Ratih, dan beruntungnya mereka semua setuju serta menerima dengan senang hati permintaan Buk Ratih. "Yowes, kami paham, toh Buk! Kami enggak akan ngomong apa-apa!" ucap salah seorang warga yang memahami keadaan Buk Ratih. "Iyoo, buk, kami paham betul perasaan ibuk, apalagi perasaan Lastri kalau sampai dia tahu!" tambah salah satu warga. "Kami mengerti kok, buk, bagaimana perasaan ibu! Lagian, ibu mana yang mau anaknya sakit hati! Semua ibu ingin anaknya bahagia!" tambah warga lainnya yang mengerti dan memahami perasaan ibu Lastri. "Makasih, yoo, semuanya mau mengerti dan memahami kondisi saya di sini!" Buk Lastri cukup terharu dengan para penduduk di desa ini yang mau mengerti dan memahami keadaan dia. Meskipun dia tahu kalau hidup di desa harus siap dengan omongan dan pembicaraan warga desa yang tak terkendali, Buk Ratih bersyukur karena penduduk di sini masih mau membantunya. Saras lalu sampai di warung nasi uduk Buk Ratih. Dengan tersenyum, dia berniat untuk menyapa para penduduk yang ada di sana. Namun, saat tiba di sana, Saras merasa cukup heran karena suasana tiba-tiba menjadi hening dan sunyi. Para penduduk yang tadinya sangat asyik mengobrol, ketika didekati oleh Saras, menjadi diam seribu bahasa. Sehingga, Saras jadi diam tak berkutik dan hanya bisa tersenyum kepada para warga di sana, walaupun sebagian mengacuhkan Saras dan sebagian lainnya membalas Saras dengan senyum yang tidak ikhlas. Sementara itu, Buk Ratih tetap melanjutkan pekerjaannya dengan melayani para pembeli nasi uduknya tanpa memperdulikan keberadaan Saras. "Tadi mereka padahal asyik sekali mengobrol! Kenapa sekarang malah diam saat aku datang ke sini? Apa ada yang salah dengan aku?" pikir Saras yang ikut mengantri nasi uduknya. "Penduduk di sini kok gini sih? Kok aku merasa mereka mengacuhkan aku! Waktu senyum dibalas sih, tapi senyumnya enggak ikhlas!" ucap Saras di dalam hatinya yang merasa kesal dan kecewa dengan apa yang dia dapatkan. Tak berselang lama, keluarlah Lastri yang membawakan sambal permintaan dari ibunya. Seketika, hal itu membuat para warga di sana, termasuk ibunya, menjadi ketakutan dan sedikit panik karena posisinya sekarang ada istri Arya. "Ibuk! Ini ya sambalnya!" ucap Lastri dengan suara lembut dan sopan khas gadis desa, disertai dengan senyumnya yang sangat manis. "Iyoo, makasih ya nak!" jawab Buk Ratih dengan sedikit kaku, mengerutkan dahinya. "Ibuk, kenapa buk? Kok jadi kaku gitu sih? Apa ibu kecapean melayani pembeli? Ya sudah, sini biar aku saja yang melayani para pembeli! Ibu istirahat saja di sana!" pinta Lastri yang sangat menjaga kesehatan ibunya. "Enggak kok, nak! Enggak sama sekali! Ibu enggak capek kok! Sudah-sudah, ibu mau melanjutkan pekerjaan ibu! Kamu masuk saja ke dalam rumah!" pinta Buk Ratih yang tak ingin Lastri berada di luar lama-lama karena di sana ada Saras yang sedang mengantri. Buk Ratih takut jika Lastri bertemu dengan Saras. "Loh, kok aku disuruh masuk sih, Buk? Apa aku enggak bantuin Ibuk saja? Biasanya aku bantuin Ibuk, kok sekarang Ibu malah suruh aku masuk ke dalam rumah? Enggak mungkin aku membiarkan Ibuk kerja sendiri!" ucap Lastri, yang nyatanya adalah gadis yang berbakti kepada ibunya dan akan selalu membantu ibunya dalam hal apa pun serta tak akan membiarkan ibunya kesusahan. Sembari membungkus pesanan nasi uduk, Buk Ratih menjawab, "Sudahlah, Lastri, kamu masuk saja ke dalam rumah. Ibu bisa sendiri! Lagipula para pembeli juga enggak butuh cepat-cepat! Mereka minta lama-lama saja tidak apa-apa!" ucap Buk Ratih yang mencari alasan agar Lastri masuk ke dalam rumah. "Iyoo, betul itu, Lastri! Kami enggak butuh cepat-cepat kok! Kamu sekali-kali diam saja di dalam rumah!" ucap para pembeli yang membantu Buk Ratih agar Lastri masuk ke dalam rumah, padahal mereka ingin dilayani dengan cepat. "Yowes, kalau begitu aku masuk ke dalam rumah. Aku kemas rumah saja ya, Buk? Aku tidak bisa kalau cuma diam saja di dalam!" ucap Lastri dengan tersenyum. Saras yang awalnya kecewa dan kesal, kini justru sedang memandangi Lastri yang mengobati kekesalannya, karena akhirnya dia bertemu dengan gadis desa yang seusianya dan terlihat masih gadis. Gadis-gadis yang dia temui sebelumnya di desa ini sudah memiliki anak, dan tentunya mereka yang sudah berkeluarga tidak sama seperti mereka yang belum menikah. Apalagi, gadis desa akan sangat berbeda dengan gadis kota yang sudah menikah. Saras juga merasa cukup kagum dan salut dengan apa yang dilakukan oleh Lastri. Saras juga memuji Lastri yang sangat cantik. "Wah! Akhirnya ada juga perempuan desa seusia aku yang belum menikah! Jadi bisa punya teman nih di desa!" pikir Saras dengan senang hati melihat Lastri. "Dia juga sangat ramah, lemah lembut, dan sangat sopan! Gadis itu juga sangat cantik! Apalagi kalau cuma gadis desa, dia termasuk yang sangat cantik! Fiks, dia gadis desa paling cantik!" Bagaimana tak memuji, Lastri benar-benar sangat sempurna. Sifat yang dimiliki Lastri sangat baik dan fisiknya sangat sempurna. Wajahnya sangat ayu dengan kulit putih s**u yang sangat bersih, ditambah dengan proporsi tubuh yang sangat sempurna dan sikapnya yang sangat baik. Dia sopan, penurut, rajin, ramah, dan sangat berbakti kepada ibunya. Siapa yang melihat pasti akan tersanjung dengan Lastri. Saras lalu berinisiatif menghampiri Lastri yang hendak masuk ke dalam rumahnya. "Heiii!" panggil Saras sembari berjalan menghampiri Lastri. Buk Ratih, yang mendengar Saras memanggil Lastri, langsung terkejut dan panik, termasuk para pembeli yang tak lain adalah penduduk asli di desa ini. Lastri lalu berhenti dan menoleh. Dia melihat ke arah Saras dan tersenyum kepada Saras. "Halo!" sapa Saras dengan tersenyum manis. "Salam, mbak!" jawab Lastri dengan sangat ramah. "Hai, perkenalkan, aku Saras!" Saras mencoba berjabat tangan dengan Lastri untuk berkenalan. Lastri lalu menjabat tangan Saras, tak lupa dia tersenyum kepada Saras sebagai tanda keramahtamahannya. "Saya Lastri, mbak!" ucap Lastri. "Aku dari kota! Aku datang kemarin ke desa ini bersama suamiku!" tambah Saras yang mengenalkan dirinya. "Owh, iyoo, mbak! Ndak nyangka orang yang datang dari kota cantik sekali!" puji Lastri. "Makasih ya! Kamu juga cantik banget!" puji Saras. Lastri yang menyadari bahwa perut Saras membesar lantas bertanya kepada Saras. "Loh, mbak lagi hamil ya?" tanya Lastri dengan sangat bersemangat. Saras melepaskan jabat tangannya dengan Lastri yang kemudian mengelus perutnya. "Iya! Saya lagi hamil! Sudah 5 bulan usia kandungan saya sekarang!" jawab Saras sembari tersenyum. "Wah! Sebentar lagi akan ada bayi dong di desa ini! Enggak sabar deh!" ucap Lastri dengan bersemangat karena dia sangat menyukai anak-anak. "Owh iya! Kok, Mbak, diri terus? Ayo duduk! Mbak kan lagi hamil!" pinta Lastri yang peduli dan perhatian. "Sudah enggak usah panggil Mbak, panggil saja saya Saras! Ngomong-ngomong, saya ke sini mau beli nasi uduk. Rame sekali ya yang beli di sini, pasti enak!" ucap Saras. "Owalah, yowes, Mbak, duluan aja! Mbak kan juga lagi hamil!" Lastri lalu mengajak Saras ke tempat ibunya. Dia menghampiri ibunya dan meminta agar pesanan Saras didahulukan karena sedang hamil. "Buk! Pesanan Mbak Saras duluan ya! Dia lagi hamil, kasihan kalau berdiri terlalu lama!" pinta Lastri kepada ibunya dan para pembeli yang sedang mengantri. Buk Ratih maupun para pembeli yang ada di sana mengiyakan permintaan Lastri untuk membuat pesanan Saras terlebih dahulu dengan jantung yang berdebar-debar. Bu Ratih lalu membuat pesanan untuk Saras. Sepanjang menunggu pesanannya dibuat, Lastri dan Saras mengobrol dengan sangat santai, dan tak terasa pesanan itu pun telah selesai dibuat. Bu Ratih langsung memberikannya kepada Saras, dan Saras membayarnya. "Makasih ya, Bu! Lastri, makasih banyak ya untuk semuanya! Aku benar-benar senang karena akhirnya aku punya teman di desa ini!" ucap Saras. "Iyoo, mbak! Aku juga senang, toh!" jawab Lastri yang juga merasakan hal yang sama karena dia sangat cocok dengan Saras. "Owh iya, ayo ikut main ke rumahku!" ajak Saras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN