bc

Arrogant vs Crazy

book_age16+
164
IKUTI
1K
BACA
arrogant
drama
comedy
bxg
humorous
kicking
enimies to lovers
virgin
punishment
like
intro-logo
Uraian

Cari duit tidak segampang yang ada di drama atau novel.

Dalam dunia khayalan, perempuan bisa jadi 'barang mahal' yang diperjuangkan habis-habisan sama CEO atau jadi mujur dengan dinikahi paksa sama tuan muda tampan kaya raya.

Dunia nyata tidak begitu.

Nesta yang butuh uang buat hidup, makan, dan beli kuota untuk nonton drama, nyatanya sering ditolak jadi karyawan lantaran pendidikannya yang cuma SMA. Ditambah lagi tinggi badan cuma 155 cm--pendek-- bikin makin susah cari kerja.

Satu-satunya perusahaan yang mau terima Nesta adalah PT Taruna, itu pun cuma sebagai office girl alias tukang bersih-bersih.

Oke, deal. Butuh uang halal apa saja dilakoni.

Eh, apesnya dapat bos sombong minta ampun, baru sehari kerja Nesta dipecat.

Kira-kira, jurus apa yang Nesta pakai biar bisa tetap kerja di sana?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bos, Kenapa Kamu Marah?
Teriakan Viano menggelegar ke mana-mana. Dia menunjuk gadis di depannya, bertanya dengan kesal siapa dia. "Saya, Pak?" tanya gadis itu sendiri. "Iya, kamu!" ketus Viano. "Saya--" Belum selesai kalimat gadis itu, seseorang membuka pintu. "Ada apa ini, Pak?" Ivan bukannya malaikat atau manusia punya indra keenam yang bakal bis langsung tahu kalau bos-nya lagi marah-marah. Dia kebetulan mau diskusi sama Viano soal laporan kinerja karyawan, tapi malah dibuat kaget dengan keberadaan Nesta--dengan muka cengoknya-- dan juga Viano yang marah. Firasat dia mengatakan pasti sudah terjadi sesuatu yang sangat mengerikan di sini. "Apanya yang ada apa! Kamu gak liat ini." Viano menunjukkan celananya yang ketumpahan kopi panas. Lebih tragis lagi, kopi itu tumpah di 'area terlarang'. "Maafin saya, Pak." Si pelaku berusaha menjelaskan. "Aduh ...." Ivan menepuk jidat. "Maafin dia, Pak. Dia OG baru. Viano mendengkus. "Pecat dia sekarang juga!" Ivan melirik pada Nesta--OG yang baru saja menumpahkan kopi. Nesta panik. Masa iya, baru kerja sehari sudah dipecat? Mana, ada rencana makan-makan awal bulan, mau jalan-jalan. Belum lagi si Yato yang sudah menodong hadiah macam-macam ke Nesta, ibunya yang minta daster baru sekalian ganti kompor, dan bapaknya yang diam-diam meminta sepatu kulit. Hih! Kalau dipecat, bisa sirna harapan empat orang rakyat jelata. Nggak banget, deh! "Pak, maafin saya." Nesta mengambil tisu coba untuk bersihkan noda yang ada di celana Viano. "Mau ke mana tangan kamu!" "Mau bersihin celana Bapak." Astaga! Ivan geleng-geleng. Viano mundur satu langkah. "Jangan coba-coba, ya! Kamu istri saya aja bukan, mau pegang-pegang." "Istri?" Nesta mengernyit bingung. Apa ini yang dinamakan nasib kacung, sana-sini salah melulu. Dia bodoh atau bagaimana? Mana mau, Viano membiarkan perempuan asing menyentuh dia sembarangan. "Keluar kamu dari ruangan saya!" "Hah?" Asli ini mulut Nesta menganga dia merasa b**o banget dalam situasi ini. Ivan mengambil alih situasi. "Kamu keluar dulu, ya." "Tapi, Pak." Mau bilang saya jangan dipecat, kok kelihatan menderita amat. Makanya Nesta tahan itu omongan. "Udah, keluar aja dulu. Ini biar saya yang urus." Nesta menurut. Dia permisi keluar pada para bos. "Sial! Cewek itu dari mana, sih? tanya Viano setelah Nesta menutup pintu. "Itu, 'kan, karyawan kemarin kita rekrut, Pak," jelas Ivan. "Terus kamu ambilnya asal-asalan?" "Loh?" Ivan tidak terima tuduhan Viano. Sembarangan dibilang asal. Dia sampai lembur. "Kan, Bapak sendiri yang bilang pilih karyawan yang hasil tesnya terbaik. Dan itu yang terbaik, Pak." "Terbaik dari mananya!" Viano menukas. "Kamu enggak lihat, dia numpahin kopi panas ke sini." Viano menunjuk celananya. "Gimana coba masa depan saya!" Ivan hanya menghela napas. Setelah emosinya sedikit reda, Viano duduk di office chair-nya. "Pokoknya saya nggak mau tahu, pecat itu karyawan hari ini juga!" Ivan menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Kita udah keseringan pecat karyawan, Pak. Kalau kali ini kita pecat dia, itu namanya Bapak zalim. Dia masih karyawan baru, kita harus kasih kesempatan. Biasanya kalau di tv-tv, Bos zalim kena azab." Viano meradang. "Kamu yang saya pecat!" Ivan jadi sakit kepala. "Tapi, Pak, di luar itu, dia kemarin udah tanda tangan kontrak dengan kita. Dia minimal kerja 1 tahun dengan kita. Kalau dia berhenti di tengah jalan, kita kenakan denda 3 bulan gaji. Sedangkan kalau kita memecat dia kurang dari 1 tahun tanpa alasan fatal, kita akan kenal penalti seratus juta." Viano tersentak. "Gila! Seratus juta? Orang b**o mana yang buat aturan itu?" "Bapak sendiri yang buat." Damn! Viano merasa begitu bodoh buat aturan semacam itu. Semuanya karena dia kesal dengan diri sendiri, karena tak bisa menahan diri untuk tidak memecat karyawan yang menjengkelkan. "Jadi gimana?" Ivan penasaran dengan keputusan Viano. Pria 34 tahun itu menyandarkan tubuh di kursi. "Gimana apanya? Sana kerja lagi." "Saya kira, Bapak masih ada yang mau diomongin." "Nggak ada." Viano kini mengetuk-ketuk meja. "Lagian, Van, kalau yang begini mau lama-lama kita bahas, itu namanya buang waktu! Kamu nggak paham apa, kalau waktu itu sangat berharga." "Iya, Pak. Paham." "Ya sudah sana kalau paham, kembali ke ruangan kamu. Kerja." Viano dengar dengkusan Ivan. Persetan soal itu, dia bos di sini. Ivan sudah biasa menghadapi ini. Kalau bos terdesak, pasti langsung cari alasan lain biar dia langsung kembali ke ruang kerja. *** Nesta pergi ke pantry untuk membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Tangannya sedikit gemetaran. Bagaimana ya kalau dia benar-benar dipecat? Baru juga memikirkan akhir bulan bisa gajian, akhir tahun bisa jalan-jalan ke Bali malah sudah dipecat. Kalau begini sih, akhir tahun bukan jalan-jalan ke Bali, tapi ke BIKINI BOTTOM. Lihat si Kuning sama si Pink ketawa-ketawa tidak jelas. Lusi tiba-tiba datang mencengkeram tangan Nesta. Nesta mengaduh kesakitan. "Tadi kamu ngapain aja di ruangan Pak Viano?" "Bikin Vlog," jawabnya santai. Lagi pula, pertanyaan Lusi terlalu aneh. Nesta di ruangan Viano? Ya sudah pasti membawakan kopi. "Jangan main-main kamu, ya!" Lusi galak bukan main ke Nesta. "Ibu aneh, udah tahu saya lagi kerja masih ditanya apa." "Kamu nggak pernah diajarin sopan santun, ya! Ngomong sama atasan nggak ada sopan-sopannya." "Bukan gitu, Bu. Ibu justru yang aneh, datang-datang main kekerasan fisik. Terus, saya juga bingung kenapa Ibu penasaran banget." Lusi mencebik. "Ada ribut-ribut apa tadi?" "Tadi saya numpahin kopi ke celananya Pak Viano." Lusi mengernyit. "Kok bisa?" "Ya, Habisnya waktu saya mau tanya Pak Viano kopinya mau ditaruh di mana dia diem aja." "Terus?" "Karena dia diem aja pas saya panggil, saya tepuk pundaknya. Dia malah kaget. Tumpah semua, deh, kopinya." "Kamu berani banget pegang Viano!" "Bukan pegang, Bu, tapi cuma tepuk. Di sini ...." Nesta menunjukkan pundaknya. "Itu pun cuma pakai kuku, pelan lagi," tambahnya. Belum tahu saja, Nesta kalau sama Yato bisa pakai sandal jepit buat panggil adiknya. "Ih!" Lusi mulai kesal. "Kamu banyak omong, ya." "Nanti kalau saya diam aja, Ibu bingung." "Ya, Tuhan ...." Lusi semakin kesal. "Awas sana!" Dia menggeser tubuh Nesta. Bergeser, Nesta kembali melanjutkan pekerjaannya. Lusi kembali ke ruangan. "Aneh dia yang tanya, dia yang marah-marah. Dasar sekretaris carper. Sok cantik." Nesta mengomeli gelas kotor. Nesta harus sabar. Namanya orang kerja begini. Penting untuk diingat, tidak punya uang lebih horor, daripada dimarahi Bos! *** Ivan masih ada di ruangan Viano. Mendengarkan ocehan atasannya tersebut. Nasib dia memang sial hari ini. Dia diam, Viano mengusir. Dia mau pergi, Viano juga marah-marah lagi. Kelihatannya belum selesai marah-marah. Apes! "Kamu, kok bisa salah pilih karyawan begini, Van? Biasanya kamu enggak pernah salah rekrut karyawan." Ivan hanya diam. "Coba bayangin, baru satu hari kerja udah begini. Kamu tumben nggak becus pilihnya." Kali ini, Ivan menjawab. "Lho, bukannya Bapak sendiri yang minta supaya saya pilih karyawan sesuai dengan keinginan Bapak?" "Keinginan saya gimana?" sergah Viano. "Bapak bukannya bilang, pilih karyawan yang kuat, rajin, bisa kerja, gak baperan, tahan banting kalau Bapak lagi marah, nggak mudah tersinggung." Viano memijit kepala saat dengar penjelasan Ivan. "Waktu saya tes, Nesta itu, yang jawabannya paling mendekati kriteria Bapak. Karena, dia bilang dia udah biasa dengan situasi begini." Ivan mengetuk meja kerja Viano supaya diperhatikan. "Dia tinggal sama ibu tirinya yang cerewet." "Jadi maksud kamu, saya sama cerwetnya dengan ibu tiri dia?" Ivan mengerucutkan bibir. Pikir aja sendiri! Viano coba mengingat. "Emang saya minta begitu?" "Saya bisa tunjukin rekamannya ke Bapak." Ivan hendak mengambil ponselnya. Ivan memang selalu siap sedia, karena Viano itu labil. Dia memang punya strategi bagus untuk urusan project bisnis. Namun, soal emosi dia nol besar. Sering disalahkan, Ivan akhirnya mengatur strategi. Setiap kali Viano memerintahkannya, dia akam rekam di ponsel. Sebagai cadangan, kalau boss-nya itu 'kumat'. Viano buru-buru mencegah. "Nggak usah. Yang penting mulai hari ini, saya nggak mau lihat dia lagi." "Tapi kita nggak bisa main pecat gitu aja, Pak, karyawan juga punya hak asasi." "Terserah kamu. Pokoknya saya nggak mau lagi lihat dia." "Oke, Pak, kita bisa atur supaya Bapak nggak lihat dia lagi." "Saya nggak percaya kamu lagi. Saya buatin aturan sendiri, nanti kirim ke email kamu." Ivan menunggu, kalau-kalau Viano masih ada perlu. "Kok, kamu masih diem. Lanjut kerja, Van!" Mendesah, Ivan permisi. Awas, kalau Viano masih mau 'ceramah' lagi! Bisa-bisa, nanti dia yang mengajukan resign. "Misi, Pak!" Ivan taham emosi. "Humh!" Viano mana peduli. Kembali ke ruangan, Ivan duduk di kursi. Mengatur napas sebentar, dia menelepon Nesta, meminta gadis itu masuk. Nesta datang tak lama setelahnya. "Masuk!" Ivan mempersilakan, ketika ada yang mengetuk pintu. Tebakannya, Nesta yang datang. Nesta masuk. "Permisi, Pak." Dia duduk di depan Ivan, dalam hati menebak kalau dia pasti akan dipecat. Ivan menatap Nesta. "Kamu tahu, pagi ini kamu sudah keterlaluan," ujar Ivan. Nesta hanya menunduk. "Maafin saya, Pak." Ivan berdecak, lalu dia salin sebuah file dari ponselnya ke komputer. Nesta mendelik, ketika sesuatu tercetak dari mesin printer. Ivan membacanya sekilas, kemudian dia lipat rapi kertas tersebut. "Ini untuk kamu." Ivan menyodorkan hasil print-nya. Yah, beneran dipecat, deh. "Baca itu baik-baik, dan jangan sampai ada kesalahan." "Baik, Pak." "Kamu boleh kembali kerja." Nesta keluar dari ruangan Ivan. Sebelum mulai kerja, dia baca kertas yang tadi diserahkan Ivan. Matanya terbelalak. Bukan surat pemecatan. Namun, ini LEBIH BAHAYA. Viano gila!

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook