Apa Dosaku, Pak?

1342 Kata
"Stupid!" Lagi asyik-asyik pel lantai atas, tiba-tiba ada yang memakinya. Waktu Nesta tengok siapa orangnya, ternyata Viano. Ngeselin! Tahu, memang salah karena kain pelnya kena sepatu Viano. Cuma, memang harus pakai bilang 'stupid' segala? Itu, 'kan, artinya bodoh. Memang, sebagai manusia kalau punya kesalahan begini langsung dicap t***l, begitu? Kalau iya, ini sih, bia dibilang tidak manusiawi. Harusnya, Nesta bisa laporkan perlakuan Viano ke perlindungan tenaga kerja. Ingat saja, pembulian zaman sekarang bukan cuma masalah fisik. Menggunakan kata-kata juga termasuk perundungan. Viano belum selesai marahnya. "Maafin saya, Pak." Karyawan yang baik, mengalah sama boss. Bukan maaf, Nesta malah dapat omelan. "Saya udah bilang ke kamu jangan pernah dekat-dekat saya!" "Yang deketin Bapak, siapa?" Sumpah kalau Viano bukan atasannya, Nesta mau bar-bar marahnya. Dipikir-pikir lagi, bukan dia yang salah. Toh, memang tugasnya mengepel lantai jam segini. Matanya otomatis fokus sama lantai dan kain pel. Jadi, jelas di sini siapa yang salah. "Harusnya, Bapak yang ngapain ke sini. Udah tahu kalau jam segini saya pasti lagi ngepel. "Karyawan kurang ajar!" Viano ngegas , "saya ini atasan kamu. tahu?" Nesta mengangguk. "Iya, Pak, saya tahu. Tapi saya, 'kan nggak salah. Memang saya lagi ngepel. Bapak yang muncul tiba-tiba." "Oh, jadi kamu mau ngatur saya?" Sakit kepala Nesta. Terus, dia yang benar harus lakukan apa? Kalau diladeni, Viano tetap tidak mau mengakui kalau dia yang salah. Nesta pilih mengalah saja kalau begitu. Daripada mati lompat dari lantai atas, gara-gara orang menjengkelkan di depannya sekarang. "Ya udah, Pak, saya minta maaf." "Nggak usah minta maaf kalau kamu nggak tulus sama sekali." Nesta geleng-geleng. "Saya tulus atau nggak, Bapak lihatnya dari mana?" "Dari segala sisi. Mau depan, belakang, kiri, dan kanan. Semua sisi yang saya temukan cuma hal negatif!" "Terus, Bapak maunya saya gimana?" "Pakai akal kamu, gimana caranya untuk bersihin sepatu saya ini." Nesta melihat sepatu Viano yang basah sedikit, kemudian dia ambil sapu tangan dari kantungnya. "Biar saya bersihin sepatu Bapak." Berjongkok di hadapan Viano, Nesta bersihkan sepatu si boss. Mau tidak mau. Hampir sapu tangan menyentuh sepatu, Viano malah tarik mundur kakinya. "Ngapain kamu?" "Bersihin sepatu Bapak!" Boleh, dong, karyawan merasa jengkel dengan Pak Bos. Secara, dari tadi dia yang mengomel karena sepatunya kotor. Sekarang mau dibersihkan, protes lagi. Maunya apa! "Nggak usah. Saya bisa bersihin sendiri tanpa bantuan kamu." Ya sudah kalau bisa. Harusnya, dari tadi Viano pergi dari hadapan Nesta. Dia bikin orang darah tinggi di sini "Berarti, saya lanjut kerja lagi kalau Bapak nggak mau saya ganggu." "Siapa bilang kamu bisa pergi!" Nesta memegang erat gagang sapu. Serius, kalau Viano bukan bos, dia bakal angkat ini gagang sapu tinggi-tinggi terus ketok itu kepalanya. Ingat bahwa dirinya hanya kacung di depan mata Viano, Nesta harus membungkuk memasang wajah sabar iklas, dan terima apa adanya untuk semua perlakuan ini. "Bapak sebenarnya, masih ada urusan apa lagi sama saya, sebenarnya?" Viano mencengkram dua lengan Nesta, memaksa gadis itu berdiri kembali. "Saya tahu trik semacam ini!" "Maksud, Bapak?" Viano tersenyum miring. "Kamu pakai cara ini untuk menggoda saya, bukan?" Pede banget! Nesta tak habis pikir. Viano mengeluarkan tatapan licik pada Nesta. "Ayolah, di sini sepi. Apa yang kamu mau, saya lakukan ke kamu?" "Hih! Kalau sepi, Bapak kira saya mau apa dari Bapak?" Viano mengangkat bahunya. "Pastinya sesuatu yang sangat kamu harapkan." Apanya yang diharapkan? Nesta harap Viano pergi dari hadapannya sekarang supaya dia bisa lanjut kerja. Mana? Nah, kalah boleh izinkan dia untuk bisa hajar pakai gagang sapu. Itu bos sialan, masih stay di tempat. Ganggu Nesta yang mau kerja. Apanya coba yang masih sesuai harapan? Tidak perlu diladeni. Angkut ember dan alat pel, lebih baik pergi dari sana. Tapi, dengan cepat Viano menarik tangannya. Membuat tubuhnya menempel begitu dekat dengan Viano. Alat pel terlepas dari genggaman, ember juga jatuh. Bahkan airnya sampai terpercik ke mana-mana. Viano kini memepet tubuh Nesta ke tembok balkon kantor, Nesta makin kesal. "Di sini sepi, belum ada orang. Gimana kalau kita sedikit 'bermain'?" Didekatkan bibirnya ke telinga Nesta, membuat tubuh office girl baru tersebut meremang. "Bapak gila!" Nesta memukul wajah Viano. "Ayolah jurus pura-pura menolak seperti ini, saya sudah tahu." Viano semakin mengunci Nesta. Nesta coba menampar Viano untuk kedua kalinya. Namun, kali ini Viano menangkis tangannya. Sekarang, dua tangan Nesta justru berada di atas. Membuat sang atasan semakin bebas mendekatkan wajahnya ke wajah Nesta. "Bapak mau apa?" Sekali lagi Nesta bertanya. Sudut bibir Viano terangkat naik. "Mengecup bibirmu," bisiknya di telinga Nesta. "Tidaaaaaaak!" Nesta teriak sekuat tenaga. *** Habis mandi, dandan cantik, terus berkutat sama sapu dan pel. Siapa lagi kalau bukan Nesta. Demi keluarga di kampung halaman, demi perut yang harus diisi, demi hati yang harus dihibur pakai kuota dan jalan-jalan. Semua harus dijalani. Omong-omong, Nesta kepikiran soal peringatan beberapa hari lalu. Pertama, dia tidak boleh dekat-dekat Viano. Kedua, dia tidak boleh melihat Viano. Ketiga, dia tidak boleh menyapa Viano. Keempat, saat bertemu di luar mereka harus bersikap tidak saling kenal. Seumur hidup, Nesta baru tahu ada aturan begitu. Apalagi di situ ditulis besar-besar, jika Nesta melanggar dia harus bersedia gajinya dipotong 10%, tiga kali pelanggaran berarti dipotong 50%. Bos sadis! "Gimana kerjaan kamu?" Pagi-pagi di saat Nesta sedang sarapan nasi uduk beli di depan kosan ditelepon bapaknya. "Lancar, Pak." Lancar dari Hongkong. Demi orang tua Nesta harus rela bohong. Meski kenyataannya, dia ditindas oleh atasan. Belum lagi masalah Lusi yang kelihatan selalu sebal dengan dia setiap kali bertemu. Banyak penindasan. "Alhamdulillah kalau gitu, Bapak lega dengarnya." "Pak, bilang sama Kak Nes, beliiin Yato sepatu baru. Udah mau jebol, kalau bisa yang bermerek sekalian. Biar awet!" Hih! Pengang kuping Nesta dengarnya. Dasar Yato, alasan saja titip pesan ke bapaknya, padahal dia teriak-teriak di depan HP. "Heh, Yato!" Nesta mencak-mencak. "Kamu nggak usah modus, ya." "Pelit. Orang pelit jodohnya kecebong!" "Ohh, kamu iparan sama kodok bangkong!" "Bodo." Berani jawab si Yato. "Pokoknya, beliin aku sepatu gaji pertama. Kalau aku dapat sepatu aku doain Kakak jodohnya bos." "Nggak ngaruh. Doa orang nakal kayak kamu mana manjur." "Ih, enak aja. Orang yang selalu dipuji guru, dari SD dapat beasiswa, wakil ketua OSIS. Mana nakalnya, hah?" Sialan kuadrat itu anak. Ya, memang sih. Dia dapat semua yang diomongin tadi. Beda jauh sama Nesta yang rangking lima besar dari belakang. Kalau sudah kalah begini, satu-satunya jalan adalah .... "Bapak, Yato tuh!" "Dih, ngadu." "Terserah!" Nesta malah berpikir kalau dulu bapaknya tidak menikah lagi, pasti itu anak tidak akan lahir ke dunia. Atau kalaupun dia lahir harusnya ke keluarga yang lain jangan satu atap begini dengan Nesta. Hidup Nesta yang sudah sengsara secara ekonomi, semakin bertambah miris setelah kelahirannya. "Kalian ini kalau lagi berdua ribut terus. Bapak pusing." "Bapak salahin Yato, dia nakal banget." Atau kalau boleh Nesta mau salahkan bapaknya. Kenapa dia dulu menikah lagi sama Ningsih. "Aku nggak nakal, aku cuma minta sepatu." Yato mengelak. "Kasian dong, Kak, seganteng ini terlahir di keluarga miskin. Coba kalau kaya, aku bakalan dikejer-kejer cewek." Ck! Mulut Yato suka sembarangan. "Kamu ambil aja sempak mereka, pasti kamu dikejar sambil diteriakin orang gila." "Pak, Kak Nesta ngajarin yang nggak bener." Nesta menjulurkan lidah. Sarwani mana pernah marahi Nesta. Kalaupun salah, biasanya dihukum berdua mereka. "Kamu udah siang, daripada ganggu kakak kamu sana berangkat sekolah." Nesta tertawa puas. Mampus si Yato diomeli. Tapi, dasar itu anak memang tidak akan mau kalah kalau lagi perang begini. Tetap, dia nekat mendebat bapaknya. "Bapak kalau begini pasti cuma bela Kak Nesta." "Ya sudah kamu siap-siap sekolah sana!" Yato cuma mendengkus. Dia anak laki-laki, mana berani ikut-ikutan mengadu. Meski sambil menggerutu akhirnya dia mau juga menurut. Meski harus balik lagi untuk teriak di dekat speaker handphone. "Pokoknya nggak mau tahu jangan lupa nanti gajian beliin aku sepatu!" "Kamu, nih!" Kalau begini kepala Nesta bisa pusing dengan berat hati terpaksa harus mengiyakan. Lagi pula kalau tidak dituruti kasihan juga. Biar bagaimanapun juga dia adiknya Nesta meskipun beda ibu. "Iya, nanti dibeliin." "Janji, ya?" Dia tetap menagih. "Iya, janji." Nesta memakan nasi uduknya sembari menyahut. Bakat banget bisa makan sambili teleponan. "Yang bermerek pokoknya." "Itu, Udin Collection. Bermerek, 'kan?" Yato mencebik. "Nggak mau. Aku maunya barang import." "Sesuai budget. Pokoknya kalau uang Kak Nesta gak cukup, fix Udin Collection yang Kakak beli. Titik!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN