Raja cemberut saja sepanjang malam. Bahkan, sampai pagi menjelang pun dia masih saja tidak mengubah ekspresi wajahnya.
Suster memberinya roti dan juga selai kacang ketika sarapan. Itu adalah menu kesukaan raja. Biasanya kalau dibolehkan makan keju yang banyak bocah laki-laki itu akan senang.
Kali ini cara lama tersebut sama sekali tidak berhasil.
"Den, sarapannya dihabiskan, ya."
Raja mengangguk. Meski namanya Raja dan dia bisa dapat apa saja dari ayahnya, tetap kalau sudah diberitahu yang dewasa selama itu baik akan langsung menurut tanpa banyak bantahan.
"Sus, Papa pasti sudah berangkat, 'kan?"
Mia mengusap kepala raja ketika dia baru selesai memasukkan kotak bekal dalam tas Raja.
"Biasa, papanya Den Raja itu, 'kan, orang sibuk. Jadi, pagi-pagi harus berangkat kerja pagi-pagi."
Raja bersungut-sungut. "Bilang aja, Sus, kalau papa itu kabur mau diajak ngobrol sama Raja."
Mia tertawa kecil. Masa papanya Den Raja kabur dari anak sendiri."
"Ya iyalah, Sus. Papa itu pasti lagi cari alasan biar nggak ditanya-tanya soal acara Raja."
Mia tidak bicara apa-apa. Hanya menyuruh Raja segera menghabiskan makanannya supaya dia bisa berangkat sekolah.
Dia pikir, wajar kalau majikan kecilnya itu protes. Pasalanya Viano memang sudah beberapa kali janji akan datang di acara pertemuan orang tua, tapi tidak pernah bisa ditemui.
Mia tidak bisa jugaa menyalahkan Viano. Kenyatannnya, si Bos kalau terlewat acaranya dia sering merasa menyesal. Seandainya Raja paham, papanya itu paling menyempatkan waktu untuk nonton acaranya Raja lewat video.
"Den, makanannya dihabiskan, ya. Biar nanti di sekolah bisa semangat
Raja mau habiskan, tapi dengan syarat dia mau pinjam handphone untuk menelepon papanya.
"Papanya Den Raja lagi kerja, masa kita ganggu, Den?"
Raja anak yang cukup cerdas, dia walau belum paham sepenuhnya, tapi tahu apa yang papanya kerjakan di kantor.
"Sus, Papa itu dikantor cuma duduk aja sama tanda tangan. 'Kan, waktu suster Mia sakit ngggak kerja sehari, Raja main ke kantor Papa. Nah, Raja tahu kalau Papa itu kerjanya duduk aja."
Mia menarik sudut sudut bibirnya, dia ingin menertawakan betapa polosnya Raja. Memang iya sih Viano kemungkinan di kantor cuma tinggal duduk dan tandatangan Tapi dibalik itu semua dia pasti punya beban pekerjaan yang lain.
"Papanya Den Raja itu cara kerjanya memang begitu. Nggak bisa disamain dengan Suster Mia ataupun pelayan di rumah ini yang kerjanya harus pakai tenaga. Kalau papa Den Raja itu lebih pada pakai otak."
"Nah, justru itu, Sus." Raja masih keras kepala, "berarti tenaga papa Masih banyak kalau cuma dipakai untuk angkat telepon dari Raja aja Harusnya bisa."
Mia jadi bingung kalau tidak dituruti nanti Raja bisa merajuk dan mungkin malas sekolah karena mood-nya rusak. Tapi, kalau dituruti, nanti Viano bisa menyalahkannya membujuk seperti ini saja tidak bisa.
Sebelum masalah semakin besar, perempuan itu mencoba untuk membujuk Raja lagi mengatakan kalau memang tidak perlu menelepon papanya. Mungkin tidak diangkat. Tapi, Raja memang benar-benar keras kepala dia bilang harus dicoba dulu mana tahu nanti Papanya bisa mengangkat dan ia bisa bicara.
Raja jengkel dengan Viano yang lagi-lagi sudah menghindar tidak mau bicara. Dia tahu kok kalau papa kerja pagi-pagi karena tidak mau mendengar Raja merengek. Jadi bagaimanapun Mia menolak bocah itu tetap memohon agar diberikan ponsel. Sampai akhirnya Mia menyerah..
Mia bilang pada Raja kalau dia harus menurut. Misal, papanya bilang tidak bisa bicara lama-lama, Raja harus mau menutup telepon.
"Janji dulu." Mia mengeluarkan kelingking meminta Raja untuk mengaitkan kelingkingnya jug. ini biasa dijadikan simbol oleh orang manusia mau berjanji.
Raja pikir, daripada tidak dapat sama sekali walaupun hanya bisa mengeluarkan sebentar itu lebih baik. Jadi dia juga menggunakan kelingking untuk buat janji dengan Mia.
"Iya, Sus, Raja janji."
***
Viano selalu jadi morning person. Dia tidak pernah datang terlambat, kecuali memang ada urusan mendadak. Setiap hari, selalu datang yang paling pertama daripada karyawannya.
Maka dari itu, tidak ada satu pun karyawan Taruna Corporation yang berani datang terlambat.
Mood Viano lagi kurang bagus.
Raja terus saja merengek. Bahkan saat pria tampan tersebut berada di kantor pun, Raja masih terus menelepon untuk merengek.
"Raja, Papa harus kerja, Nak."
"Papa kerja terus, nggak pernah peduli dengan Raja."
Viano yang masih berada di dalam lift menghela napas. Bagaimana mungkin dia tidak peduli dengan anaknya?
"Nanti kalau Papa ada waktu, kita pergi ke luar negeri ya, Sayang. Sekarang, Papa benar-benar banyak kerjaan."
Terdengar bunyi dentingan.
Viano keluar dari lift. Sekarang dia berada di lantai paling atas kantornya.
Tidak ada percakapan lagi, tapi dia masih mendengar Raja menangis. Kalau anaknya sudah menangis, hati Viano jadi gundah.
"Oke, Sayang, jangan nangis. Papa janji, minggu ini akan temani kamu ke sekolah."
Obrolan belum selesai, sesuatu yang basah menyentuh sepatunya.
Viano berjengit. "Damn! Siapa yang kurang ajar begini."
Dia mengibas celana panjangnya yang basah dan kotor.
"Bapak!" Nesta terperanjat.
"Kamu lagi!" Viano menunujuknya. "Setelah kopi panas, sekarang alat pel. Besok apa lagi!"
Nesta menggeleng. Dia tidak sengaja.
Kejadian ini, kenapa mirip seperti di mimpi?
Yah, de javu. Tadi pagi kepalanya sampai sakit, gara-gara mimpi dicium Viano.
Tidak! Nesta tidak mau kalau Viano menciumnya.
Pasang 'kuda-kuda', siap melawan kalau si boss mau macam-macam.
"Bukannya saya udah bilang ke kamu, untuk jaga jarak dengan saya. Karena kamu tahu apa?"
Nesta mendengus. Sebetulnya, Viano ini sadar atau tidak?
Yang mau dekat-dekat dengan dia, siapa!
Kesal sendiri jadinya, Nesta.
"Setiap saya ketemu kamu, saya sial! "
Sama, Pak!
Oke, anak buah harus mengalah. Nesta minta maaf, kalau begitu.
"Maafin saya, Pak." Membungkukkan badan, biar Viano percaya kalau Nesta tulus.
Viano menatap tajam pada Nesta. "Sepertinya, saya harus kasih hukuman buat kamu."
Enak saja!
Nesta menggeleng, cepat. "Tolong, Pak." Dia mundur satu langkah.
Viano mengernyitkan alis. "Mau lari ke mana pun, kamu tetap akan menerima hukumannya!"
What! Ternyata si Boss, punya otak ngeres, Nesta jadi makin khawatir.
Tutup mulut, amankan diri.
"Bapak boleh hukum saya apa aja, tapi jangan minta yang itu."
"Minta yang itu, apa?" Viano bingung.
"Saya tahu apa yang ada di pikiran Bapak. Asal Bapak tahu, meskipun saya perempuan miskin dan jelek di mata Bapak, gini-gini saya masih punya harga diri. Walaupun Bapak itu termasuk golongan cowok ganteng, bukan berarti saya mau diapain aja."
Ocehannya panjang lebar, sayangnya Viano tidak mengerti Nesta bahas apa.
"Kamu ini ngomong apa, sih?"
"Saya tahu, apa yang ada di pikiran Bapak."
"Memang yang ada di pikiran saya apa?" Mulai gerah Viano dibuatnya. "Kamu sok tahu tentang saya."
Ketika Viano maju satu langkah, Nesta mundur lagi. Jika saja Viano itu bukan bosnya, Dia pasti sudah pukul dengan alat pel dari tadi.
"Pak, tolong. Walaupun di sini sepi, bukan berarti Bapak bisa cium saya sembarangan."
"Apa!" Viano tersentak.
"Saya bisa teriak sekencang mungkin, kalau Bapak berani macam-macam!" Nesta kemudian ingat kalau dia masih memegang alat pel. "Bahkan saya berani pukul Bapak pakai ini." Dia menunjukkan gagang pel yang masih dipegang.
Plang!
Viano memukul Nesta dengan tas kerja yang dia bawa.
"Kurang ajar kamu, punya pikiran seperti itu sama saya!"
Nesta meringis kesakitan.
"Kamu pikir saya punya nafsu dengan cewek model kayak kamu?" Viano memperhatikan bawahannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tidak ada yang menarik!
"Kalaupun saya mau cium seorang perempuan, saya hanya mencium istri saya sendiri. Nggak akan saya cium perempuan lain, selain istri saya."
Nesta membeku. Gara-gara mimpi semalam, dia jadi paranoid sendiri.
Viano menarik lengan Nesta untuk lebih dekat dengannya.
"Mau tahu, saya punya pikiran apa ke kamu?"
Nesta mendelik ketika Viano berada di sampingnya. Sementara lelaki itu mencengkram semakin kuat. Firasatnya buruk. Sudah pasti Viano tidak akan berkata sesuatu yang enak didengar.
"Saya nggak pernah suka, dengan perempuan yang mengakui dirinya kalau dirinya itu jelek dan miskin." Kemudian tubuh Nesta dihempaskan.
Astaga, kalau tahu bakal sesakit itu kata-katanya, mending Nesta jejal ujung gagang pel tadi ke mulutnya biar selesia tidak banyak drama.
"Bapak jangan menghina saya, dong," keluh Nesta. Biar cua pesuruh tetap saja dia perempuan yang punya perasaan.
"Saya nggak hina. Cuma mau menegaskan soal apa yang ada di pikiran kamu!" Kening Nesta ditunjuk-tunjuk.
"Bapak pernah dengar kualat? Pernah?" Nesta bertanya dengan menggebu. "Asal Bapak tahu, ya, semua ucapan Bapak itu nanti akan ada balasannya."
"Kamu mau balas saya?"
Nesta mencebik.
Viano bertanya lagi. "Karma aapa yang akan saya terima dari semua kata-kata jujur tadi, hah?"
"Ya, hari ini Bapak ejek saya, bisa aja nanti Bapak jadi kelepek-klepek sama saya."
Viano langsung pegang kening sendiri. "Otak kamu beneran konslet, ya."
Dalam. Sakit hati Nesta.
Lelaki bermulut pedas tersebut melenggang begitu saja.
Nesta menoleh ke arah perginya Viano.
"Dasar Bos sombong! Awas aja kualat!" Dia mengutuk.
Viano terus berjalan.
Tanpa menoleh ke arah Nesta, dia berkata, "Hari ini, kamu sudah melakukan pelanggaran. Sebagai hukumannya gaji kamu saya potong 20%." Setelahnya dia terus melenggang.
Ingin Nesta menjerit.
Bos sialan!
Detik ini juga, dia menyatakan perang dengan bos sombong paling menyebalkan sedunia, yang jadi atasannya.
Selagi Nesta kesal dengannya, Viano malah mengingatkan soal seratus aturan dia bekerja di sini. Duh, makan hati berulam jantung namanya.