'Nesta?'
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Nesta. Saat diperiksa, sungguh mengejutkan itu dari Viano.
Berdebar ini jantung nesta. Eits, jangan salah. Jangan kira jantung Nesta berdebar yang ala-ala romantis begitu. Ini berdebarnya bagai orang yang sedang terancam keselamatan hidupnya.
Hati-hati balas pesan dari Viano
'Iya, Pak, ada apa?'
"Kamu hari ini libur, kan?'
Ya iyalah tanggal merah, Nesta dpaat jatah libur.
Iya, Oak, saya libur.
'Kosongin jadwal kamu hari ini saya ada kerjaan.'
Hah! Nesta yang lagi asyik-asyikan berbaring sembari menonton drama marathon mendadak jadi kesal dengan kata-kata Viano.
'Maksud Bapak saya harus kerja hari ini?'
'Iya, saya ada kerjaan tambahan buat kamu.'
'Bapak nggak bisa mendadak kasih kerjaan, dong. Saya telanjur sibuk, Pak.'
'Kamu sibuk apa, memang?'
'Menghitung cicak di dinding, Pak.' Nesta bercanda
'Nggak lucu.'
Ye, Nesta juga tahu kalau Viano tidak akan tertawa dengan candaannya.
'Saya sebagai atasan kamu kasih tugas kalau kamu hari ini ada lemburan.'
Kalau boleh, Nesta pagi ini mau ngedumel, ngomel, marah-marah atau maki-maki.
Masa iya, sih, ada bos yang suruh karyawannya lembur dadakan di hari Minggu. Hari di mana para kaum rebahan untuk merebahkan diri, sambil nonton drakor.
Duhai Oppa, hari ini aku tidak bisa menemuimu. Hiks.
Kelakuan Nesta yang menganggap ponsel barang hidup, sampai bisa diajak bicara.
Mau menolak Viano. Tiba-tiba ada pesan masuk lagi:
Uang lembur, saya bayar cash hari ini
Nesta mengerucutkan bibir. Paling juga, cuma dua ratus ribu, tidak sebanding dengan wajah oppa yang tampan.
Pesan berikutnya dari Viano, membuat bola mata Nesta hampir keluar.
Saya bayar cash tiga juta unyuk jam lembur kamu!
Wah, gila parah! Nesta mau teriak baca kata tiga juta. Untuk rakyat miskin yang berobat pakai bantuan pemerintah, tiga juta itu besar.
Tidak pakai pikir lagi, langsung katakan, 'ya'.
•°•
Lembur macam apa ini? Kok, Nesta malah disuruh ke Mall pagi-pagi gini--jam delapan--toko-tokonya saja belum pada buka.
Mungkinkah, Nesta dimutasi ke Mall?
Yah, tidak masalah juga, sih. Cuma risiko kerja di mall itu, mengorek mata menguras dompet. Uh, mana tahan lihat barang-barang yang dipajang di etalase.
"Pak, kok, kita malah ke sini?"
Viano ditanya, santai saja. Terus jalan tidak memedulikan Nesta yang terseok-seok, mengimbangi langkah agar mereka beriringan.
"Pak!" Nesta berteriak.
"Nggak sopan kamu!" Viano membulatkan mata.
"Saya lembur apa temenin Bapak kencan?"
Ucapan Nesta barusan, dapat geraman gratis dari Viano.
Kencan? Something impossible bagi Viano.
Viano melihat jam tangan sebelum menjawab Nesta. "Saya punya waktu cuma satu jam untuk kamu."
"Satu jam buat apa, Pak?"
"Pilih baju. Saya mau beliin kamu baju yang sesuai dan agak pantes sedikit untuk ke restoran."
Wah, beneran kencan, nih!
"Kita mau makan siang bareng?"
"Geer banget kamu!" Viano mencebik. "Saya hari ini ada undangan makan sama rekan bisnis keluarga. Sayangnya, Raja nggak bisa satu meja dengan saya. Kamu!" Viano menunjuk hdiung Nesta. "Hari ini saya tugasin untuk temenin anak saya, di meja yang lain. Dia pasti senang, kalau ada kamu."
"Oooh, gitu!" Hampir saja, Nesta mengira Viano mau ajak kencan.
"Tapi inget, ya, Nesta!" Viano mewanti-wanti, "kamu jangan sampai buat ulah yang bikin anak saya kesal atau saya malu!"
"Oke!" Neta melingkarkan jemari. Hidupnya memang tanpa beban. Demi tiga juta yang dibayar cash, ulala, siap kerja maksimal.
Naik ke lantai dua pakai eskalator, Viano bersama Nesta ke toko baju bermerek--yang harganya paling murah setara satu bulan gaji Nesta.
"Kita ngapain ke sini, Pak?"tanya Nesta, bingung. Ini, jangan sampai Viano suruh dia beli satu baju pakai uang lemburan. Tidak akan!
Viano berhenti tepat di tengah toko. Sementara Nesta masih tingak-tinguk.
"Nih, saya punya permen karet." Viano menyodorkan satu permen karet rasa mint yang tersimpan di sakunya.
Meski agak ragu, Nesta menerima. Buka bungkusnya--sampahnya dia masukin ke tas dulu--terus makan permennya.
"Kamu, saya kasih bonus untuk pilih satu baju yang kamu suka dan sesuai untuk acara makan siang di restoran bintang lima,"
"Bbe-bas, Pak?"
"Bebas!" Viano menandaskan
"Bapak yang bayar, 'kan?"
Viano memijit pangkal hidung. "Iya, Nesta, saya yang bayar."
"Harga, nggak masalah, 'kan, Pak?"
"Kamu, ya!" Viano mendelik. "Sudah ada makanan dalam mulut masih aja banyak tanya."
Mata Nesta membulat. Makanan? Maksudnya selembar permen karet yang tadi dikasih?
"Permen, maksud Bapak?" Nesta memastikan.
"Apa lagi, memang. Saya suruh kamu makan permen itu, supaya kamu bisa diem. Pusing saya, ladenin kamu ngomong."
Nesta manggut-manggut.
Sebentar! Kenapa Nesta merasa terhina, ya?
Berasa monyet yang dikasih pisang biar diam.
Dasar kejam! Bos tidak punya rasa prikekaryawanan!
"Ya Tuhan, Nesta, jangan bengong. Pilih bajunya, sekarang!"
"Oke!" Dengar gratisan saja, langsung sigap. Nesta OTW cari baju baru.
Viano duduk menunggu sambil bermain ponsel.
Nesta sudah keliling seperempat toko. Tradisi kantung tipis, kalau beli barang cek harga dulu.
Parah! Hanya kaus biasa, harganya selangit.
Pegang lagi satu baju, Nesta memekik dalam hati. Sumpah ini kalau beli pakai kantung sendiri alamat setahun tidak makan.
Sambar beberapa potong baju yang dia suka. Nesta menemui Viano lagi.
"Pak, udah saya pilih," ujarnya dengan tangan menggendong beberapa potong baju.
Viano hanya melihat sekilas. "Sana coba dulu di fiting room, nanti saya cek sesuai apa nggak."
Laksanakan! Nesta menuju fitting room.
Lima menit menunggu, Nesta keluar.
"Gimana, Pak?" Nesta pakai hoodie dipadu dengan topi. Waktu Viano melihatnya, dia malah menari retro tidak jelas.
"Kamu paham, Nes, saya bilang mau makan siang bukan ajak kamu dance hip-hop. Ganti yang lain!"
Nesta mencebik.
Baiklah, masuk lagi dalam bilik.
Ini dia, Nesta keluar dengan baju kedua. Celana panjang hitam, boots hitam, kacamata juga hitam. Pasang gaya cantik ala cover yasin.
"Kamu mau makan Nesta, bukan ke pemakaman!" geram Viano.
Salah lagi, Nesta kesal. Dia memang tidak tahu fashion orang kaya bagaimana.
Baju ketiga ....
Atasan coklat ada rumbai, dipadu rok panjang.
"Gini, Pak?" Yakin, yang ini pasti salah juga,
"Nesta kamu memang nggak tau fashion?"
"Nggak! Kalau ribet gini, mending Bapak beliin saya baju di pasar loak aja, deh." Akhirnya kekesalan yang ditahan keluar juga.
Tahan, Viano merasa salah, sebetulnya. Wajar, Nesta tidak mengerti. Mungkin ini pengalaman pertama diajak ke restoran.
Menyapu pandangan ke sekitar, Viano menemukan yang bagus.
Sebentar dia permisi pada Nesta untuk mengambil baju yang dia lihat tadi.
"Coba pakai yang ini!" Viano menyerahkan baju yang barusan dia ambil. "Sekalian sepatunya."
Hidung Nesta kembang kempis. Tahu begitu, dari tadi saja Viano yang ambilkan. Biar tidak banyak debat.
"Bentar, Pak saya coba."
Kepala Viano menunduk lagi untuk melihat ponselnya. Asyik membaca laporan dari gawai, supaya tidak terasa sedang menunggu.
Voila! Nesta keluar.
"Begini, Pak?"
Viano mengangkat pandangan dan ....
Tertegun.
Gaun berwarna kuning muda yang dipadu outfit tangan panjang warna putih, terlihat pas di tubuh Nesta. Ternyata, kalu rapi sedikit, dia bisa cantik juga.
Apalagi, sepatu yang senada dengan outer-nya, membuat perempuan yang selalu Viano anggap sableng, kelihatan anggun dan berkelas.
"Gimana, Pak?" Nesta berputar ke kanan dan ke kiri, biar Viano bisa lihat dari segala sisi.
Batuk sebentar, Viano akhirnya menjawab, "Bagus."
Nesta tersenyum lebar. Akhirnya, ada juga baju yang Viano suka.
"Coba, kamu jalan sedikit ke depan," pinta Viano.
"Jalan, Pak?" Pakai diulang perintahnya.
"Ngesot!" balas Viano kesal.
Muka Nesta agak ragu-ragu, waktu disuruh jalan. Cuma, si bos sudah memerintah, harus lakukan.
Selangkah, mulai goyang, nih badannya.
Dua langkah, masih aman.
Tiga langkah, Nesta hilang keseimbangan. Limbung kanan-kiri.
Kalau di drama, pas yang perempuan mau jatuh, enak, tuh! Pria tampannya langsung sigap menangkap. Terus tatap-tatapan sampai beberapa detik. Pakai musik romantis, jadi jatuh cinta.
Apakah Viano menangkapnya, seperti yang di drama?
TIDAK!
Dia cuma diam, waktu Nesta jatuh nyungsep ke bawah. Pramuniaga toko saja, sampai terperanjat lihat Nesta jatuh.
Gara-gara hills tiga puluh centi, kening jadi ciuman sama lantai. Apesnya hidup Nesta.
Ini yang disebut, 'Sakitnya tidak seberapa, malunya luar biasa'.
"Kamu nggak bisa pakai, heels?" Viano merasa heran. Habisnya, setahu dia perempuan bisa melakukan apa saja asal kelihatan cantik--termasuk pakai high heels.
"Bisa, Pak!" Nesta yang baru bangun ditolong oleh pramuniaga, mengusap keningnya.
"Terus, kenapa bisa jatuh?"
"Saya acting, buat film Titanic!" Dasar bos laknat. Serius, Nesta sumpahi dia kena karma.