Susah Akur

1509 Kata
"Kamu nggak bisa pakai high heels?" Entahlah maksud Viano apa dengan tanya seperti itu dia mungkin tidak sadar kalau kata-katanya yang tadi sungguh menyakitkan hati. Lihat Nesta akan sekalian timpali biar dia puas. "Iya, Pak, saya nggak biasa pakai high heels. Bisanya cuma sandal jepit. Apa coba komentar Viano kalau tahu sendiri kenyatannya Nesta memang tidak bisa pakai sandal tinggi. "Masa. sih kamu nggak bisa pakai sandal tinggi? Bukannya itu biasa bagi perempuan, ya? "Iya, itu biasa, Pak, buat perempuan yang cuma jalan-jalan cantik kerjaannya. Kalau saya, 'kan harus ke dapur, isi air, cuci piring, jalan sana-sini, perlu cepat. Belum lagi kalau kena omel atasan," jelas Nesta panjang lebar. "Mana bisa saya pakai sepatu hak tinggi dengan semua tuntutan hidup saya yang berat." "Ya, ampun, kamu ini saya cuma tanya sepatah kata kamu bisa jawab sampai bikin cerpen." Nesta mencebik. "Jangankan cuma cerpen, Pak. Kalau Bapak mau ini saya bisa bikin satu novel untuk kisah hidup saya. Nanti kalau saya jadi penulis kayaknya Bapak harus beli buku saya." Viano geleng-geleng dari tempatnya duduk dia bangun, memperhatikan Nesta lagi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Okelah, dia memang tidak punya tinggi ideal. Tapi, tidak terlalu masalah juga. Toh, nanti dia tidak akan terlalu diperhatikan. Kenapa. Viano jadi terlalu pusing dengan tampilannya? Dia minta petugas untuk ambil model sepatu lain yang kira-kira cocok dengan Nesta "Kaki kamu nggak kenapa-napa, kan?" Nesta harus terlihat baik-baik saja di depan Viano. Percuma dia mengadu soal keadaan yang sebenarnya. Ujungnya nanti pasti dia akan dapat ejekan. "Iya, Pak saya baik-baik saja." "Bagus kalau begitu." High heels akhirnya diganti dengan wedges. Setelah pekerja mengambilkan untuk Neta, Viano menyuruhnya untuk coba. Kelihatannya cocok. "Kalau begitu kamu pakai ini aja," komentar dia beberapa saat setelah yakin kalau karyawannya itu memang lebih cocok pakai sandal model begitu. "Daripada saya paksa pakai sepatu yang tadi. Kamu, bukannya kelihatan anggun malah jadi kayak robot godek yang jalannya patah-patah." Nesta makan hati berulam jantung. Nasib karyawan rendahan begini amat. Padahal, tadi dia baru ketiban apes loh, nyungsep sampai hampir diketawain orang. Sekarang dapat ejekan lagi dari Viano. Tuhan, kenapa Engkau ciptakan dia begitu banyak kelebihan? Kan, jadinya Nesta susah mau balas dendam. Untung Nesta tidak kehabisan akal. "Harusnya, Bapak itu dari tadi tawarin saya begini. Bukannya setelah saya celaka baru kepikiran solusi yang lebih baik." "Sudah, kamu diam! Jangan cerewet. Hari ini kamu itu untung bertubi-tubi. Sudah dapat uang lemburan dari saya, nanti kamu juga bisa bawa pulang semua barang yang saya belanjakan hari ini.” Nah itu yang bikin Nesta dari tadi bertahan dan sabar dengan segala kepedasan mulut Viano. "Belum lagi nanti kamu akan makan siang di meja premium yang sudah saya pesankan. Kurang apa coba?" Kurang kasih sayang, Pak. Nesta cuma bisa mengucap dalam hati. Selesai urusan di butik, Viano mau langsung pergi ke rumah orang tuanya. Nesta dipesankan taksi buat perjalanan ke rumah Viano, sekalian jemput Raja. "Kok, saya nggak diantar aja dulu, Pak?" Detik-detik taksi Nesta mau datang dia sempat-sempatnya tanya. Viano yang berdiri di sampingnya cuma melirik sekilas. Masih untung dia mau baik untuk menemani Nesta, sampai taksi datang. "'Kan, lumayan hemat biaya, Pak." Walau tidak dianggap, terus saja bicara. "Memang rumah keluarga Bapak sama rumah pribadi nggak searah, ya?" Masih saja ajak ngobrol. "Saya bau ketek, ya, Pak?" Nesta mulai curiga, sama dirinya sendiri. "Atau jangan-jangan bau jigong?" Biasanya, 'kan, begitu. Orang dihindari karena bau mulut. Viano merogoh kantung. Ambil permen karet yang tadi, buka bungkusnya, ambil isinya, terus sumpal ke mulut Nesta. "Saya cuma tanya karena penasaran!" rutuk Nesta, tetapi mulutnya asyik mengunyah permen. Nasib kacung berwajah standar, ya begini. Coba kalau cantik imut lugu seperti yang di novel remaja bakal dapat kiss. Dipikir-pikir lagi, Viano masih baik. Ketimbang dijejal sama batu bata. "Itu kamu, sambil kunyah makanan saja, masih bisa ngomong. Saya nggak tau gimana keluarga kamu ngadepin kebawelan itu." Memang tidak banyak yang tahan dengan Nesta. Paling cuma kakeknya, itu pun karena sudah budeg. Lihat jam tangan, Viano mendesah. Baru tiga menit, rasanya kuping sudah panas. Nesta bahkan lebih cerewet dari Raja yang masih anak-anak. Sebentar, aura semacam apa ini? Viano mengernyit saat melihat Nesta diam. Jangan-jangan, ucapannya menyinggung Nesta. Tunggu beberapa detik. Masih diam juga. Jadi sedikit merasa bersalah. "Kamu kenapa diem saja?" Sok cool tanyanya, biar tidak kentara kalau lagi khawatir. "Marah sama saya?" Nesta geleng-geleng. "Kenapa diam?" "Permennya nyangkut di gigi, Pak. Aduh." Nesta sibuk mengarahkan lidah ke arah permen yang tersangkut. "Buang aja, kenapa!" Heran ada perempuan secuek dan seaneh Nesta. "Sayang, Pak. Masih manis." Astaga! Viano sakit kepala dadakan. "Terserah kamu, yang penting kamu diem." "Beres!" jawabnya tanpa ragu. Viano terus menghitung detik yang terbuang. Perempuan di sampingnya, terlalu menyebalkan. Syukur, taksi pesanan sudah sampai di depan. "Taksinya sudah datang, kamu tinggal ke depan. Saya mau ke parkiran." Viano siap melangkah--menuju kebebasan dari cerocosan Nesta yang bikin kuping pengang. "Pak!" Viano memejam seraya mengepal tangan, ketika Nesta memanggilnya lagi. "Jangan main pergi, dong!" "Kamu kenapa lagi, sih!" "Ongkosnya gimana?" Demi Tuhan! Viano mau teriak. Sebesar apa pun dia menahan, bahasa tubuhnya yang bulak-balik mengusap wajah sangat menunjukkan kalau dia kesal. "Nesta saya sudah bayar cash tiga juta, ongkos masih kamu hitung juga?" "Oh, tiga jutanya udah termasuk ongkos, Pak?" "Saya, sudah bayarkan pakai e money!" Kelihatannya Viano sangat emosi, Nesta sampai menciut. Otomatis kabur. Naik taksi, sebut alamat yang dituju, Nesta duduk manis dalam mobil. Cuma tiga puluh menit, sudah sampai tujuan. Ternyata, rumah si bos strategis juga. Dekat ke mana-mana. "Kak Nestaaaa!" Raja yang sudah menunggu di depan gerbang, menyambut gembira kedatangan Nesta. Nesta yang baru turun dari mobil, terpesona pada pandangan pertama. Rumah Viano bagus. Bukan masalah mewah atau luasnya, melainkan desainnya yang unik. Di bagian depan ada beberapa area hanh disetting mirip area futsal dan lapangan basket mini. Nesta mendekati Raja. Pelukan, gemas-gemasan sedikit. Serasa sepuluh tahun tidak bertemu. Mia cuma bisa diam memperhatikan dua mahluk alay--tepatnya satu, karena Raja masih anak-anak. "Kak Nesta cantik. Dibeliin baju Papa, ya?" Nesta tersenyum lebar. "Kamu, tau aja." Jadi malu dibuatnya. "Soalnya kata Papa, kalau mau ke restoran, harus pakai baju sesuai. Kalau nggak, bisa diusir." "Oo-h." Nesta terbata. Jadi, Viano menganggap penampilan Nesta buruk untuk diajak le restoran mewah? Kok, Nesta agak sakit hati, ya? "Kak Nesta?" Raja mengguncang tangan Nesta yang sedang melamun. "Kenapa diam?" tanyannya kembali saat Nesta menatapnya. "Kalau boleh tahu, Papa kamu makan siang apaan, sih? Kok, kamu nggak boleh satu meja?" Mia mengambil alih percakapan ketika Raja terdiam. "Pak Viano ada meeting penting dengan keluarganya. Takut Den Raja, bosen." Nesta berpikir sebentar. "Ja!" Seenaknya Nesta menciptakan panggilan untuk anak bosnya. "Gimana kalau kita jalan-jalan?" "Mau ke mana?" "Kita main yang seru-seru, ketimbang makan doang!" "Mau, Kak!" Raja pikir, lebih menarik tawaran Nesta. "Den!" Mia menginterupsi, "kalau papanya tanya nanti gimana?" Nesta menyipitkan mata. Kode, biar itu bocah jangan sampai terhasut. "Raja nggak mau makan bareng oma!” **** Viano gelisah. Makan siang sudah berlangsung setengah jam lalu, tetapi Nesta sama Raja belum tampak batang hidungnya. Renald--ayahnya Viano--sebetulnya sudah bertanya berkali-kali, perihal anaknya yang tidak bisa tenang. Namun, Viano berusaha mengabaikan. Masalahnya, ekspresi Garseta seolah mengingatkan bahwa dia tidak mau Viano membahas Raja. Lagi pula ada juga yang membuat tidak nyaman dari tadi. Lusi. Perempuan itu memang ada di sana sebagai tamu sekaligus topik utama dalam perbincangan. Jangan heran, soal keberadaan sang sekretaris. Dia bukan perempuan sembarangan. Walau bukan dari kalangan pengusaha, Lusi cukup berkapasitas untuk menjadi pendamping Viano. Ibunya Lusi merupakan mantan model ternama yang juga sahabat Garseta. Jelas, dari penampilan Lusi tidak jauh-jauh dari ibunya. Belum lagi, dia berasal dari kampus yang sama dengan Viano. Singkatnya; Lusi jelas bibit, bebet, bobotnya. Bonus dia cantik. Bagi Viano, Lusi lebih mirip mata-mata di kantornya ketimbang karyawan. "Soal pertunangan kalian. Apa, sudah menentukan kapan tanggalnya?" Lusi yang duduk di samping Garseta tersipu malu. Pipinya merona, kala membayangkan Viano akan menjadi miliknya. "Siapa yang bertunangan?" tanya Viano, dingin. "Jangan berulah, Vi!" Garseta mengingatkan. Paling tidak suka kalau acara makan keluarga, ujungnya seperti ini. "Aku menghargai, apa pun keputusan Viano." Lusi menahan rasa di hatinya yang ingin segera memiliki Viano. "Benar begitu, Lus?" sambar Viano. Lusi merasa, dia akan terjebak dengan ucapannya sendiri. "Kalau begitu." Viano melepas serbetnya, siap beranjak karena tidak mau ada pembahasan pribadi di sini. "Kita nggak perlu bahas ini lagi. Karena jawabannya tetap sama." Renald tidak banyak bicara. Perjodohan ini, memang Garseta yang menginginkan. Viano membungkuk sedikit, sebagai rasa hormat. "Maaf, Ma, Pa. Viano harus pergi." Ketika Garseta bertanya cukup tegas dia mau ke mana, Viano hanya terus melangkah. "Apa demi Raja?" Viano membeku sejenak. "Kalau demi Raja, berarti anak itu sama saja membawa sial seperti ibunya. Anak pembawa sial. Dia yang memisahkan ibu dan anak!" "Ma!" Papanya Viano mengingatkan agar Garseta menahan emosi. "Sampai kapan pun ...." Kali ini Garseta mulai parau bicaranya. "Putraku nggak akan bisa kembali lagi, itu berarti selamanya Mama nggak akan menganggap dia bagian dari keluarga ini!" Mengabaikan, Viano tetap pergi. Dia tahu, sikapnya tidak baik, terutama kalau sampai Raja lihat pemberontakannya. "Tinggalkan anak itu, Vi!" Di acara makan yang privat tersebut, Garseta meneriaki Viano. Lebih berat pada Raja, Viano memilih pergi. Maafin Viano, Ma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN