Anak atau Ibu

1304 Kata
Malam ini Raja mendekati Viano dengan aksinya yang manja khas anak-anak pada umumnya. "Raja kenapa?" "Pa, Raja udah kerjain semua PR dan juga tadi Raja di sekolah dapat bintang lima dari guru." Viano tahu kalau anaknya sudah mulai banyak basa-basi denagn cerita di sekolah itu berati dia ada maunya. "Raja maiu minta apa ini dari Papa?" Bocah itu menggeleng. "Raja nggak minta apa-apa, kok, Pa." Viano , menyipitkan mata. Yang benar nggak minta pa-apa dari Papa." Raja menyeringai. Kemudian dia harus mengaku kalau ada sesuatu yang dia inginkan. Viano yang duduk di meja bar pribadi miliknya menopang dagu menunggu Raja mengatakan sesuatu, soal apa yang dia inginkan. Raja ragu. "Papa janji dulu mau kabulkan." "Tergantung itu mintanya apa. Kalau susah atau bahaya buat Raja, Papa nggak akan penuhi." "Tenang, Pa, ini nggak akan susah buat Papa atau bahaya buat Raja." "Oh bagus kalau begitu." Viano masih setia menunggu putranya untuk bilang. Jadi, anak Papa ini mau apa? "Emh Raja mau ...." Viano kasih nomor handphone Raja ke Nesta, dua hari setelah mereka makan bersama. Padahal dia sudah niat dalam hati, tidak akan punya urusan lagi dengan cewek yang baginya sableng itu. Cuma, mau bagaimana lagi. Si Raja, sepertinya senang karena punya teman baru. Apalagi, teman barunya kali ini ada adalah sosok yang dicari selama ini. Dari dulu, Raja mau tahu, rasanya kalau ada perempuan dewasa yang bukan susternya, bisa menemani. Bukan apa-apa, Viano memang tidak pernah memberitahu siapa mama kandung Raja. Kalau ditanya, selalu bilang Raja akan dikasih tahu kalau sudah dewasa. Kelamaaan, menurut Raja. Sejak kawan-kawannya di Taman Kanak-kanak sering diantar mamanya, dari situ Raja mulai memikirkan figur seorang ibu. Sayangnya, Raja sama sekali tidak pernah melihat Viano bersama perempuan. Yah, memang Viano pernah pergi bersama Lusi. Sayangnya, Raja tidak suka dengan perempuan yang mengaku teman lama Viano. Pasalnya, Lusi pernah memelotot pada Raja saat dia tidak sengaja menumpahkan air di gaunnya. Ditambah Viano yang tidak banyak bicara juga tidak bisa tersenyum lepas saat bersama Lusi, semakin membuat Raja sebal dengannya. Nesta belum dianggap calon ibu, sih. Usianya yang masih sangat muda--dua puluh tahun--lebih menyenangkan kalau di anggap kakak. Namun, yang namanya takdir, siapa bisa menebak? "Pak, si Raja memang beneran anak Bapak, ya?" Nesta sempat-sempatnya tanya, selagi menyimpan kontak Raja di ponselnya. Viano yang lagi duduk di office chair-nya, cuma bisa mencebik kesal. "Ya, maaf, Pak. 'Kan saya cuma tanya." Nesta memang tidak pernah punya beban meskipun Viano meradang. "Jangan sok akrab dengan saya!" tegas Viano. "Hah?" Mulut Nesta terbuka lebar. Ini makin yakin kalau Raja bukan anak kandung. Sifatnya bertolak belakang sama bapaknya. Itu bocah, sudah manis, imut, baik, bikin gemes pula. Sedang bapaknya, bikin emosi terus. "Jangan banyak tanya. Cukup simpan kontak Raja, nanti kamu chat dia kalau ada waktu." "Oke, Pak!" Nesta manggut-manggut. "Tapi inget, jangan chating sama anak saya pas jam pelajaran." "Oke. Kalau gitu saya chat pas istirahat siang." "Anak saya, sekolah sampai sore." Nesta mendesah. "Berarti sore, Pak." "Sore, kamu yang belum selesai kerja." Viano mengingatkan. Benar juga, Nesta baru sadar. "Kalau gitu, habis makan malam, Pak." "Itu jam anak saya istirahat." Ya Allah, ribet! "Bapak aja, deh, yang nentuin jam berapa," kesal Nesta, "atau, Bapak sekalian aja bilang, saya nggak boleh ngobrol sama anak Bapak." Memang benar. Viano sebetulnya tidak mau mengizinkan Nesta dekat-dekat dengan Raja. Takut anaknya ketularan stress. Sialnya, si Raja terus memohon agar bisa ngobrol sama Nesta dan Viano paling pusing kalau anaknya merajuk "Kamu nggak ada sopan-sopannya ngomong sama atasan!" Nesta kalau kesal, memang suka khilaf. Lupa kalau Viano bos-nya. "Nggak usah minta maaf!" Baru juga Nesta mau bicara, sudah disergah lebih dulu. Bikin si empu mulut, mengerucutkan bibir. "Anak saya, dari kemarin mau ngobrol dengan kamu. Dia ada waktu kosong antara jam setengah enam sampai jam tujuh. Kamu bisa telepon dia di jam segitu." Setengah enam? Itu, sih, Nesta masih di bus. "Oke, deh, Pak." Biar kata lagi di bus, nanti dia bakal telepon Raja. Lumayan, temen ngobrol di perjalanan. "Cuma, saya ingetin ke kamu, untuk hati-hati kalau ngobrol sama anak kecil. Jangan ngomong sembarangan, apalagi jelek-jelekin saya!" cerocos Viano. Astaga, banyak aturan rupanya. Ini, kalau masih banyak, kayaknya Nesta mau suruh Viano bikin list, terus kirim via w******p. Takutnya kalau ada yang lupa satu saja, bisa disemprot Viano. Ujang datang mengantar kopi. Sedikit mesam-mesem mencurigakan saat lihat Viano. Dari kemarin dia lihat Nesta ngobrol di ruangan Viano. "Ya sudah, kamu keluar sana." Terkesan diusir si Nesta. Angkat b****g dari kursi, Nesta balik ke pantry. Lanjut kerja, tanpa mengeluh. *** Raja baru pulang sekolah, sekitar jam empat sore. Jadwalnya memang padat, namanya juga standar internasional. Lepas sepatu sendiri, taruh di rak, langsung menuju kamar. Yang pertama dia cari, ponselnya. Penasaran, apa Nesta sudah menelepon atau belum. "Den Raja, mau makan lagi atau nggak?" tanya susternya. "Nggak, nanti malem aja tunggu papa." Lanjut rebahan sambil main gawai. "Mandi dulu, Den. Biar enak istirahatnya." Tidak banyak bantahan, Raja taruh ponsel, bergegas mandi. Dia sudah besar, jadi tidak mau dimandikan susternya. Paling, diingatkan saja bagian mana yang jangan sampai lupa untuk dibersihkan. Sambil tunggu Raja selesai mandi, Mia siapkan pakaian ganti. Tidak berselang lama, terdengar deru mobil. Intip dari jendela kamar Raja yang letaknya di lantai dua, bukan mobil Viano. Tunggu sebentar siapa yang turun dari mobil, Mia terus mengamati. Oh! Mia menutup mulut. Rupanya yang datang nyonya besar. Mana Viano belum pulang kerja, jadi ngeri sendiri. Buru-buru Mia mengirim pesan ke Viano, memberi tahu kalau ibunya datang. Raja selesai mandi. "Den, pakai bajunya buruan. Ada oma." Seakan merasakan hal yang sama, Raja ogah-ogahan untuk cepat memakai baju. "Nanti kalau oma ajak ngobrol, jawabnya yang manis, ya. Biar oma nggak marah-marah." "Ummh." Raja mengangguk. Meski begitu, dia menyadari betul kalau yang dilakukannya akan sia-sia. Oma akan selalu menganggap salah, apa yang Raja lakukan. Dari dulu, tidak pernah ada rasa suka di hati oma untuknya. Saat papanya masih satu rumah dengan oma, Raja sering dengar mereka bertengkar. Terakhir, bocah itu ingat kalau Viano lama susah karena Raja. Demi sang anak, Viano memilih untuk tinggal di rumah sendiri, jauh dari orang tua. Dari situ pula, oma menyebut Raja penyebab Viano jadi anak pembangkang. "Raja di kamar aja, Sus." Mia mendesah. "Nanti oma marah, kalau Den Raja nggak salim." "Suster udah kasih tau papa?" "Sudah." Mia mengerjap pelan. •°• Viano kaget setengah mati, waktu baca pesan dari Mia. Ada urusan apa, mamanya datang ke rumah. Jam kerja belum habis, dia sudah tidak bisa konsentrasi. Dia memilih bergegas pulang. Selagi menyetir, dia terus menghubungi mamanya. Berkali-kali deringan terdengar, tetapi tidak diangkat. Sepertinya sengaja. Beralih menghubungi Mia. "Halo, Pak," jawab Mia, cepat. "Mia, ibu saya masih di rumah?" "Masih, Pak." "Kasih hape kamu ke ibu saya." "Baik, Pak." Viano menunggu beberapa detik. "Vi?" Suara berat mamanya terdengar. "Ma, Mama ada di rumah?" Tergesa-gesa Viano bertanya. Ada tawa tidak enak terdengar. "Seorang ibu datang ke rumah anaknya, kenapa takut seperti monster yang datang? Viano mengepal tangan kuat. "Ma, tunggu sebentar. Viano dalam perjalanan pulang." "Jelas mama akan tunggu kamu pulang." "Bukan itu aja, Ma. Tolong jangan usik Raja." Garseta--mamanya Viano--mencebik. "Jadi, anak itu jauh lebih penting dari mama, Vi?" Mulai lagi, mereka akan berdebat soal Raja. "Ma-" "Demi dia, kamu pergi dari rumah. Demi anak itu juga, kamu terus menolak menjalin hubungan dengan wanita. Kamu masih muda, gagah, buang-buang waktu untuk anak yang-" "Ma!" Viano menyentak. "Tunggu Viano pulang, kita bicara langsung." "Hmh." Panggilan disudahi tanpa izin dari Garseta. Dia kembalikan ponsel pada Mia dengan wajah sinis. Ada Raja, yang mematung tegang di bawah tangga. "Kamu dengar, 'kan?" tanyanya pada Raja. Raja menahan rasa takut dan air mata. Napasnya terlihat tersengal. Mia segera menghampiri dan mengajaknya masuk. Raja takut pada oma yang selalu membencinya. Dia juga sedih, karena merasa dia penyebab papanya bertengkar dengan oma. Raja memang tidak bisa bertanya kenapa oma dan papanya bertengkar. Namun, hatinya selalu penasaran. Kenapa, Garseta tidak suka Viano tinggal bersama Raja?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN