Ketika Bos Menyuruh Makan

1979 Kata
Menyapu lantai dari paling dasar sampai paling atas, sudah. Mengepel, sudah. Lap kaca, juga sudah. Istirahat di pantry, waktunya cek gosip terhangat. Omong-omong, Nesta ini gabung di group chat yang khusus membahas Oppa Korea. Bucinnya Nesta si Kai EXO. Yah, bukan cuma dia. Suho, Sehun, belum lagi yang aktor paling mahal Kim Soo Hyun, suka juga. Lebih tepatnya, semua yang cakep, putih, sipit-sipit menawan, Nesta suka. Baru buka, ada gosip soal biasnya yang dibilang pacaran sama salah satu personel girl band. Panas hati panas, suami halu kini punya gebetan. Biar sekadar halu, perasaan cinta sudah kadung dalam. Cuma, Nesta masih bisa controll jari, untuk tidak menghujat sembarangan. Dia bucin, tapi bukan yang b**o-b**o banget, yang rela ribut demi idol. Secara, mereka kenal aja tidak sama dia. Suka sewajarnya saja, cukup. "Suamiku!" Nesta mendekap ponselnya. "Kamu tega, selingkuh dari aku. Sakit hati ini." Monolog sendiri, wajar kalau Lusi sering sebut Nesta aneh. Viano yang ke dapur untuk isi air hangat ke tumblernya sendiri berjengit heran. "Santai, yah, kamu!" serunya dari belakang membuat Nesta terkejut. Nesta menoleh ke sumber suara. Tahu siapa yang datang, dia mencebik kesal. Buyar sudah lamunannya. "Bapak ada perlu sama saya?" Viano berdecih. "Coba kamu menyingkir." Telunjuknya gerak-gerak, sudah mirip usir ayam. Melipir, Nesta menjauh dari pandangan Viano. "Kalau udah beres satu kerjaan, kerjain yang lain. Jangan main hape, ini kantor!" lanjut marah-marah pas mengisi air panas. "Pak, kalau lagi deket air panas jangan ngomel, nanti kesiram." Berani Nesta membalas. Mitos begitu, mana mungkin Viano percaya. "Kamu kalau bos lagi ngomong jangan jawab!" Memelotot Viano di depan Nesta. "Miskin seumur hidup, tahu kamu!" Tangan dikepal, Nesta tahan amarah. "Iya, Pak!" Agak nggak ikhlas dia bicaranya. Viano mendesah. "Nesta, saya kasih tahu kamu satu hal." Nesta yang diajak bicara, cukup mendengarkan. "Kalau bekerja, lakukan semuanya dengan baik. Sekecil apa pun itu. Jangan sembrono apalagi sampai menyepelekan. Karena dari situ, tangga karir kamu akan terbuka." Diam dan saling tatap-tatapan. Viano mulai begah ditatap Nesta. "Kamu ngapain lihatin saya!" "Bapak, sadar, 'kan, abis ngomong apa?" Menggeram, Viano menutup rapat tumblernya. "Saya ngomongin kamu biar bener kerjanya!" "Bapak sayang sama saya?" celetuk Nesta. "Iya. Eh-" Viano kaget sendiri sama ucapannya. "Gini, ya!" Bahasa tubuhnya mulai menunjukkan kalau dia panik. "Sebagai pemimpin saya wajib kasih arahan yang benar. Walaupun, tim SDM biasanya adakan pelatihan." Nesta masih senyam-senyum, Viano makin kesal. Yah, Nesta sebetulnya juga tahu, kok, si bos nggak mungkin suka apalagi sampai sayang dengannya. Cuma, dia suka aja, lihat Viano yang marah-marah sampai merah kupingnya. "Iya, Pak, iya." "Ya sudah, sana kamu!" Nesta disuruh minggir lagi Geser-geser, Nesta kasih tempat buat Viano jalan. Tapi, Tuhan punya cerita lain. Entah bagaimana, Nesta malah keserimpet kaki sendiri. Viano, biar jutek begitu, tetap punya perasaan. Lihat karyawannya yang sableng mau jatuh, refleks tangannya terbuka untuk menangkap. Adegan klasik banget, yang sudah basi kalau lihat di drama romantis. Habis jatuh, ditangkap terus tatap-tatapan sebentar. Bedanya .... Brak. Nesta dilepas gitu aja, sebelum berdiri. Mana volume kepadatan bokongya kecil, jadi nggak bisa meredam benturan. Bangun, usap-usap b****g. "Bapak kok, jatohin saya, sih!" omel Nesta. Berdeham sambil rapikan kemeja, Viano berkata, "Kamu ngapain ngelihatin mata saya." "Ada upil di mata Bapak!" jawab Nesta asal, terus melenggang dari Viano. Lumayan sakit bokongnya, habis jatuh. Upil? Viano seorang bos, masa iya punya upil di mata. Sebelum yang lain lihat, ambil ponsel cek pakai kamera depan. Periksa dengan teliti, Viano tidak menemukan apa-apa. Tunggu! Viano menyadari satu hal. Yang di mata, bukan upil, 'kan? Belek! Sadar Nesta asal omong, geram rasanya. Beneran, Viano bisa kena darah tinggi kalau begini. Baru juga mau memasukkan ponsel, ada pesan masuk. Dari pop up-nya, kelihatan kalau Raja yang mengirim. Papa, nanti makan siangnya dimakan, ya. Jangan lupa, ajak Kak Nesta. Pokoknya, Papa nggak boleh bohong! Nanti Raja minta videonya. Mengigit bibir seraya meremat ponsel kuat, Viano kesal sendiri. Malas kalau dia harus makan siang sama Nesta. Ah, sial juga. Gara-gara minggu kemarin Raja ditolong Nesta, dia jadi sayang sama itu perempuan. Malas, tapi anaknya yang meminta. Jadi, Viano harus bagaimana? Tadi saja dia sengaja ke dapur untuk lihat bagaimana kerjaan perempuan satu itu, huh memang tidak becus! Kembali pada berkas kerja. Astaga, menumpuk. Bikin pusing. Belum isi chat Raja yang bikin kepikiran terus. Ada yang mengetuk pintu. Belum dipersilakan, dia sudah masuk. Viano masih sibuk memeriksa berkas. "Jadwal meeting luar kantor besok, sama laporan yang Bapak minta." Lusi langsung duduk dan menaruh berkas kerjanya di meja, meski Viano sibuk sendiri. "Tinggalin aja." Viano bicara tanpa mengangkat pandangan sama sekali. Bersandar di kursi, Lusi melipat tangan di d**a. Come on! Viano masih berlagak kaku dengannya? Sebentar! Lusi mendapati dasi yang dipakai Viano berantakan. "Kamu gimana, sih, pakai gini aja nggak becus." Posisi Lusi lumayan s*****l ketika membenarkan dasi Viano. "Lus!" Viano sempat mau menghalau, akan tetapi Lusi mencegah. "Diem dulu bentar, aku cuma mau rapihin." Viano merasa tidak enak kalau begini. Sampai ada yang lihat dan salah sangka, bagaimana? . Viano memundurkan kursi supaya Lusi tidak bisa dekat-dekat dengannya. Perempuan itu melongo kemudian tersenyum masam. "Saya nggak izin kamu untuk lakukan itu lagi!" "Kamu ini apa-apan, sih, Vi!" "Kamu yang apa-apaan! balas Viano. Ingat ya, Lus--" "No, kamu yang harusnya ingat, Vi. Aku di sini bukan sekadar sekretaris kamu. Kamu lupa apa soal hubungan kita dan juga keluarga kita?" Viano menggeleng. "Aku nggak ada urusannya dengan hubungan yang kalian buat. Yang jelas, Lus, kalau di kantor kita bersikap profesional aja, selayakanya partnert kerja." "Oke, aku akan profesional sebagai rekan kerja. Kamu lihat sendiri, kan, selama ini kamu bisa menang tender dan juga semua jadwal kamu beres. Siapa coba kalau bukan aku yang bantu semuanya?" Oke, Viano tidak akan megelak kalau Lusi cerdas dan dia bisa bantu Viano untuk manage semua pekerjaan. "Tapi, tetap saja aku nggak mau kalau kamu melanggar batas sewajarnya sekretaris Viano menegaskan." "Nggak usah kaku-kaku banget, kalau cuma kita berdua," ujar Lusi yang baru saja selesai memasangkan dasi. "Kamu sama aku, satu kampus dulu. Kita udah kenal lama, Vi." "Kenal lama. Tapi, kalau di kantor, bersikap profesional aja." Lusi menggeleng seraya berdecak lidah. "Kaku, bukan profesional." "Ah, iya!" Malas Viano berdebat. Lusi menyilang kaki. "Vi, kamu butuh pendamping. Meskipun Raja bukan-" "Lus!" Viano menyela. "Maaf, kalau kasar. Tapi, tolong keluar dulu. Aku banyak kerjaan." "Kamu kelihatannya nggak pernah suka setiap kali aku bahas soal hubungan kita." "Lusi!" Viano memegang kepala. "Berapa kali aku bilang nggak usah bawa-bawa kata hubungan kita. Dan ...." Viano kini menunjuknya, "aku sudah bilang ke kamu untuk pakai bahasa yang formal saat di kantor." "Kantor?" Lusi tersenyum getir. "Kamu mau di kantor atau di mana pun memang selalu bersikap begini, Vi. Kapaamn ada waktu untuk bahas soal masa depan kita?" "Masa depan kita? AKu malah nggak pernah tahu kalau ada 'kita' dalam hidupku." "Oke, begini, deh." Lusi masih berusaha sabar. "Kamu tahu, kan, raja selalu meminta sosok ibu dalam hidupnya. Kenapa kamu nggak coba pelan-pelan buka hati untuk kita berdua?" "Raja belum butuh sosok ibu.' Lusi mencebik. "Kamu tahu dengan pasti, Vi, nggak akan ada perempuan yang bisa nikah sama kamu kecuali aku." Viano mengeritkan alis. Apakah Lusi adalah Tuhan yang bisa menentukan takdir hidupnya? "Aku banyak pekerjaan, nggak usah bahas yang lain." Lusi tidak menyerah. Dia meraih tangan Viano yang sebenarnya dari tadi cukup sibuk dipakai untuk mengutak-atik pekerjaannya. "Vi, aku ini kurang apa, sih?" katanya sembari memijit lembut jemari Viano. "Aku udah korban banyak hal buat kamu dan kita uga udah cukup dekat. Mau sampai kapan kamu bersikap sini ke aku?' Viano dia, Lusi kira kali ini hati laki-laki itu luluh. Tapi, Viano malah menarik tangannya dan berkata tajam. "Kamu ganggu aku yang sibuk kerja." Lusi harus terdiam menahan rasa malu. "Lus, sorry kalau aku harus ingatkan sekali lagi, Silakan keluar dari ruangan ini karena aku sibuk!" Yah, begitulah Viano. Selalu bersikap dingin dan acuh kala diajak bicara soal hubungan cinta. Padahal, Lusi menyukainya. Sejak lama. Buktinya, dengan gelar sarjana lulusan kampus terbaik di dunia--Harvard University--dia rela cuma jadi sekretaris. Demi bisa dekat sama Viano. Sedangkan Viano, tidak begitu tertarik dengan Lusi. Dia terlalu agresif, mengumbar keseksian sehingga tidak ada lagi yang buat Viano penasaran. Lebih-lebih, Raja juga kurang suka dengannya. Bahkan dia menyebut Lusi; Tante Jahat. Tidak bisa memaksa, Lusi memilih permisi keluar. Lain kali, dia harus berhasil, menaklukan hati Viano. Baru juga satu menit berselang setelah Lusi pergi, ponsel Viano bergetar. Cek! Papa, makan siangnya jangan lupa! Hari ini nggak boleh bohong! Viano langsung pijit pangkal hidung. Pening. Nesta disuruh lembur, tidak boleh pulang sebelum Viano izinkan. Oh, Tuhan, musibah macam apakah ini? Di dalam kepala Nesta langsung ada tulisan besar; No! Big No! Namun, begitu tahu ada uang bonus lemburan yang plus-plus kata 'no' langsung berubah 'yes'. Omong-omong, Nesta disuruh lembur apa? Kata siapa, dia lembur. Viano cuma cari akal-akalan, biar dia bisa makan sama Nesta tanpa ketahuan karyawan lain. Sengaja dia suruh Nesta pulang terlambat, biar sepi dulu kantor baru dia makan bareng Nesta. Malu, kalau yang lain tahu. Apalagi Ivan. Secara, dia hapal si bos, sebal setengah mati sama Nesta. Jam setengah tujuh, selesai salat magrib, Nesta disuruh ke ruangan Viano. Dia mikirnya, udah bakal diomelin. Suuzon dulu yang penting. Biar siap jantungnya. "Pak!" Nesta yang melongokan kepala ke dalam ruangan Viano, menyentak bosnya yang sedang melamun. "Saya bos kamu, bisa sopan dikit, nggak!" Cuma Nesta yang berani panggil atasan begitu. "Hehe." Malah nyengir, makin ill feel Viano. "Sengaja dari jauh dulu, Pak. Bapak, 'kan, refleksnya berlebihan kalau dekat saya." "Masuk!" Nadanya ketus. "Oke!" Santai saja Nesta menanggapi. Masuk, Nesta tetap berdiri saja. Sementara Viano, sibuk dengan tumpukan kotak hitam di mejanya. "Kamu duduk di situ!" Viano mengarahkan Nesta duduk di kursi di sofa yang ada di dalam ruangan. Seketika Nesta bersedekap. "Bapak mau ngapain saya?" Jelas Viano memelotot. Otak Nesta terlalu kotor. "Coba, kamu tanya sama diri kamu sendiri." Setengah mati Viano tahan emosi. "Kira-kira, saya bakal nafsu sama kamu?" "Yeeh, siapa tahu. Diem-diem Bapak memendam rasa." Viano menggeram. "Nesta, bisa nggak jangan kepedean?" "Bisa, Pak, bisa." Nesta mengangguk cepat. Biar Viano tidak makin marah. Viano memang memendam rasa. Rasa ingin menghempas karyawannya ke Mars biar tidak kembali ke Bumi. Sudah duduk, Nesta menunggu Viano mau menyuruh apa. Kotak bekal yang Raja siapkan bersama susternya, Viano bawa ke meja. "Ini anak saya sama susternya yang siapin." Nesta cuma manggut-manggut. "Nah, kamu makan!" Viano menyodorkan satu kotak yang berisi sushi buatan Raja. "Makan yang bener, nanti saya rekam. Anak saya nanyain bukti, soalnya." Nesta melirik. Kelihatannya enak, kira-kira ada racun tidak di dalamnya? "Muka kamu, ngapa gitu?" Tersinggung Viano dengan ekspresi Nesta. "Bapak, sensitif aja. 'Kan, saya cuma ngira-ngira, ini ada racun apa nggak." "Coba aja satu!" tegas Viano. Tanpa ragu, Nesta menyumpit satu roll sushi lalu memakannya. Enak. Sayang, sudah lembab dan dingin. "Ada racun?" Sebelah alis Viano terangkat naik. "Ak!" Nesta pura-pura tercekik, habis itu kejang-kejang. Dia, pingsan di tempat. Oh, mau main-main sama Viano. "Halo, Mang Ujang?" Diteleponnya si Ujang. "Kalau ke ruangan saya, tolong bawain kantung plastik hitam yang besar. Soalnya ada bangke di ruangan saya." Nesta terperanjat. "Bapak tega, ngatain saya bangke!" rutuknya. "Makanya jangan banyak tingkah!" Nesta malah cengar-cengir. "Bercanda, Pak." "Makan, sana!" Viano beranjak, untuk menaruh ponsel di temlat sesuai, supaya mereka bisa terekam. Viano makan, Nesta juga. Kelihatannya, dia suka sama bekal yang Raja buatkan. Pertanyaannya, dia memang suka atau lapar? Nesta makan dengan lahap, mulutnya sampai terlihat penuh. Suapkan lagi dan lagi. Menikmati, pokoknya. "Pak, nggak makan?" Mulutnya penuh, Nesta pede bicara. Sampai muncrat sedikit isi makanannya. Jorok. Viano geli lihatnya. "Kamu perempuan, bisa jaga sikap sedikit?" "Bisa, Pak. Bisa." Biar tidak ribut, iyakan saja. Lanjut makan lagi. Santai tanpa beban. Ya iyalah! Cuma disuruh makan, dapat uang lemburan. Viano, malah jadi terpana melihatnya. Terpana dalam artian jijik. "Di mulut kamu, ada sisa makanan." Viano menunjuk sudut bibir Nesta yang belepotan. "Mana, Pak?" Duh, cari-cari kaca tidak ketemu. Ah, repot amat. Biasanya juga kalau di cerita romantis si cowok bakal bersihkan. "Bersihin, Pak, tolong." Nesta menyodorkan wajahnya. Viano melempar tisyu. "Bersihin sendiri!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN