Kepala Nesta dijitak Viano biar pintar sedikit. Habis, keseringan negatif pikirannya. Dia mana mungkin sejahat itu sama anaknya sendiri. "Bapak tau nggak, sih, kalau Bapak ngarep saya pinter, jangan sering-sering jitak saya!" "Terus kamu maunya apa?" Dengan tangan yang sudah kembali melekat di gagang setir mobil, Viano masih menanggapi ocehan Nesta. "Disayang-sayang, Pak. Biar pinter!" Sontak Viano menginjak rem. Sampai terjuntal mereka. Kepala Nesta terbentur ke bahu kursi. Dia meringis. "Bapak ini apa-apaan!" "Biar kamu pinter dikit." Butuh beberapa detik buat Nesta mencerna ucapan Viano. Dari ekspresi yang ditunjukkan kentara kalau belum paham maknanya. "Gimana kamu udah ngerti?" Nesta diam saja. Kalau bilang belum nanti dijitak lagi. "Kalau belum, saya benturin lagi." Nesta

