Lusi menyaksikan Nesta keluar dari ruangan Viano dengan wajah merah padam. Sudah bisa ditebak, ada kekacauan besar yang terjadi di dalam sana. Kali ini, Nesta kelihatannya sudah kena batu. Viano pasti marah besar padanya, perempuan itu pasti mendapatkan hinaan yang lumayan menyakitkan. Makanya, dia berderai air mata begitu. Hemh, dia malah mensyukuri apa yang menimpa Nesta, anak buah yang sok ke-pd-an belakangan ini. Biar dia rasakan kemarahan Viano, biar tidak usah bertingkah di sini. Ivan menyaksikan juga. Dia mau tahu apa yang sudah terjadi. Niatnya sih mendekati Nesta untuk tanya lebih jauh. Lusi yang tahu niatan Ivan langsung mencegah. "Kamu mau apa?" tanya Lusi ketus. "Enggak usah ikut campur dengan urusan atasan deh." "Atasan?" Ivan bertanya sendiri. Lusi lupa bahwa Ivan ini mes

