"Kenapa harus menyangkal semua hal yang sudah terlanjur terjadi Tuan Benny Pramana Wijaya?" Suara itu menggemah setelah satu tamparan mendarat begitu saja di pipi Kia. Kia menoleh, dia tidak menyangka ternyata Devan menyusulnya sampai ke sini. "Kau!" desis Paman seperti tak percaya dengan penglihatannya. "Kenapa, Tuan, melihatku seperti sedang melihat hantu? Apakah sedang dihantui rasa bersalah oleh sesuatu yang sudah Tuan rebut dahulu?" Ketika mendengar hal itu, tante yang menyadari maksud dari ucapan Devan langsung menunduk, dia tahu cerita itu, bagaimana dulu paman merayu pendonor bagi ibu Devan sehingga nyawa perempuan yang sudah melahirkan lelaki itu tidak bisa terselamatkan. "Itu sudah menjadi takdir bukan? Apa salahku jika pada akhirnya calon pendonor bagi ibumu malah memilih

