Benny Prahmana sedang menatap ke luar, dinding kaca perusahaan langsung memberikan pemandangan kota yang macet dan memuakkan. Dia sedang banyak pikiran, juga rindu kepada keponakan yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu. "Sayang, kau sudah makan?" Paman menoleh, melihat istrinya yang anggun tengah berjalan menuju ke arahnya. Sangking keasyikan tenggelam dalam lamunannya, dia sampai tak menyadari bahwa istrinya masuk ke dalam ruangan. "Belum, Ma, sedang tak ada nafsu sama sekali." "Masih memikirkan Kia?" tanya tante Anita dengan pandangan sedih. "Ya. Bagaimana kehidupannya bersama lelaki itu ya? Aku takut sekali Kia tak bahagia." "Sayang, mungkin Devan sudah melupakan semuanya. Pasti terhadap Kia dia sangat cinta. Kia selalu berkata kepadaku bahwa Devan memperlakukannya

