Devan mengendarai mobilnya dengan cepat, dia sudah berusaha untuk menerima kepergian Kia, membawa bayinya serta selama ini, tapi setiap kali dia terbangun, ada rasa marah yang harus segera dituntaskan. Pagi ini, dia memutuskan untuk pergi ke perusahaan paman Kia. Dia harus segera menanyakan dimana keberadaan Kia yang sebenarnya. Dia masih berhak atas anak yang Kia kandung. Waktu masih menunjukkan pukul setengah sebelas dan begitu terik hari itu, ketika paman yang sedang memimpin meeting, dihampiri sekretarisnya dengan wajah pucat pasi. "Ada apa, Astri?" "Tuan, tolong segera keluar, ada seorang lelaki mencari Tuan. Dia punya senjata di selipan pinggangnya. Lelaki itu tampak begitu marah dan tak bisa dicegah." Sekretaris bernama Astri itu berkata dengan suara gemetar. "Dia sangat kua

