Marco terdiam cukup lama saat tahu Aditya tak berbicara sama sekali. Ia dipanggil oleh Aditya tapi tidak mengerti perihal apa ia menemui atasannya itu. Ia berulang kali melihat Aditya tampak cemas tak seperti biasanya. Tiap kali ingin berbicara selalu saja tertunda dan begitu seterusnya selama Marco berada di ruang Aditya. "Maaf Tuan, sebenarnya Tuan ini kenapa?" "Saya ...." Aditya mulai mengatur duduknya lagi dan kini kedua lengan itu bertumpu pada meja kerjanya. "Saya mau melamar seseorang," ujarnya. Marco terdiam mendengar penuturan Aditya tapi detik berikutnya ia tersenyum cenderung hampir tertawa. "Jadi Tuan terlihat seperti ini hanya karena ingin melamar seseorang?" tanya Marco meyakinkan opininya sambil tetap menahan tawanya. "Heii apa yang lucu?" tanya Adityaa yang merasa

